seseorang yang berhasil keluar dari kelas bawah./Freepik/KamranAydinov
JawaPos.com - Tidak sedikit orang yang tumbuh dalam lingkungan kelas menengah ke bawah lalu berhasil meningkatkan taraf hidupnya—baik melalui pendidikan, bisnis, karier profesional, maupun jalur kreatif.
Secara ekonomi mereka mungkin telah “naik kelas”, tetapi menurut psikologi, pengalaman masa kecil dan kondisi sosial-ekonomi awal sering kali meninggalkan jejak perilaku yang bertahan lama.
Konsep ini banyak dikaji dalam psikologi perkembangan dan sosial. Teori seperti hierarki kebutuhan dari Abraham Maslow maupun teori perkembangan psikososial dari Erik Erikson menjelaskan bagaimana pengalaman awal membentuk pola pikir, respons emosional, dan cara seseorang memandang keamanan serta kesuksesan.
Baca Juga: 7 Hal Tidak Dipahami Pasangan 'Hemat' Tentang Mengapa Pasangan yang 'Boros' Tidak Bisa Berhenti Menurut Psikologi
Dilansir dari Geediting pada Sabtu (21/2), terdapat delapan perilaku yang sering masih terbawa, bahkan setelah seseorang secara finansial telah “berhasil keluar” dari kondisi ekonomi awalnya.
1. Sulit Merasa Aman Secara Finansial
Meskipun sudah memiliki penghasilan stabil atau bahkan tinggi, banyak yang tetap merasa “belum cukup”. Ada kekhawatiran laten akan kehilangan pekerjaan, jatuh miskin kembali, atau krisis tak terduga.
Secara psikologis, ini berkaitan dengan pengalaman masa kecil yang penuh ketidakpastian. Ketika kebutuhan dasar dulu terasa rapuh, sistem saraf belajar untuk selalu waspada. Dalam kerangka Maslow, kebutuhan akan rasa aman menjadi sangat dominan dan sulit benar-benar terasa terpenuhi.
Baca Juga: Ajaraie Ungkap Alasan Puasa di Indonesia Lebih Mudah, Langsung Bersinar Bersama Persija
2. Kebiasaan Sangat Hemat (Kadang Berlebihan)
Orang yang tumbuh dengan keterbatasan sering terbiasa menghitung setiap pengeluaran. Bahkan setelah kondisi membaik, mereka bisa merasa bersalah saat membeli barang mahal, memanjakan diri, atau berlibur.
Psikologi menyebut ini sebagai scarcity mindset—pola pikir kelangkaan—di mana otak terbiasa fokus pada kekurangan. Pola ini membantu bertahan di masa sulit, tetapi bisa menghambat kemampuan menikmati hasil kerja keras di masa kini.
3. Dorongan Kerja yang Sangat Tinggi
Banyak yang menjadi pekerja keras ekstrem. Mereka sulit santai dan merasa harus selalu produktif. Libur terlalu lama justru memicu kecemasan.
Dalam teori perkembangan dari Erikson, fase awal kehidupan yang penuh tantangan bisa menumbuhkan rasa tanggung jawab dan dorongan pembuktian diri yang kuat. Kerja keras bukan sekadar ambisi—melainkan strategi bertahan hidup yang tertanam sejak kecil.
4. Sensitif terhadap Penolakan atau Penghinaan
Orang yang pernah merasa “kurang mampu” sering memiliki radar sosial yang tajam. Mereka peka terhadap nada merendahkan, perbedaan kelas sosial, atau sikap elitis.
Pengalaman masa lalu dapat membentuk core belief seperti “Saya harus membuktikan diri” atau “Saya tidak boleh terlihat lemah.” Sensitivitas ini kadang menjadi motivasi, tetapi juga bisa memicu overthinking dalam interaksi sosial.
5. Kesulitan Meminta Bantuan
Sejak kecil terbiasa mandiri karena keadaan, mereka sering merasa harus menyelesaikan semuanya sendiri. Meminta bantuan bisa terasa seperti tanda kelemahan.
Padahal secara psikologis, kemandirian ekstrem sering kali berakar dari pengalaman kurangnya dukungan di masa lalu. Ironisnya, ketika sudah berada di lingkungan profesional yang kolaboratif, kebiasaan ini bisa menjadi hambatan.
6. Rasa Bersalah terhadap Keluarga atau Lingkungan Asal
Banyak yang merasa “meninggalkan” keluarga atau teman lama. Ada konflik batin antara loyalitas terhadap asal-usul dan identitas baru yang sedang dibangun.
Fenomena ini dikenal sebagai survivor’s guilt. Seseorang merasa bersalah karena berhasil sementara orang-orang terdekatnya masih berjuang. Secara emosional, ini bisa menciptakan tekanan untuk terus membantu secara finansial atau merasa tidak pantas menikmati kesuksesan.
7. Adaptif dan Cepat Membaca Situasi
Ini adalah sisi kekuatan. Tumbuh dalam keterbatasan sering membuat seseorang lebih peka terhadap perubahan situasi, cepat belajar, dan fleksibel.
Secara psikologis, kondisi penuh tantangan di masa kecil melatih kemampuan problem solving dan regulasi diri. Mereka terbiasa mencari solusi, bukan mengeluh. Banyak penelitian psikologi sosial menunjukkan bahwa adversity ringan hingga sedang dapat meningkatkan resiliensi.
8. Standar Kesuksesan yang Sangat Tinggi
Karena pernah hidup dalam keterbatasan, keberhasilan sering dipandang sebagai “tiket keluar permanen”. Akibatnya, standar pribadi bisa sangat tinggi—kadang tidak realistis.
Mereka bukan hanya ingin cukup; mereka ingin benar-benar aman, stabil, dan diakui. Ini bisa menjadi bahan bakar luar biasa untuk pencapaian, tetapi juga berisiko menimbulkan burnout jika tidak diimbangi self-compassion.
Penutup: Luka Lama atau Kekuatan Tersembunyi?
Secara psikologis, pengalaman tumbuh di kelas menengah ke bawah bukan hanya tentang kekurangan materi. Itu adalah pengalaman emosional, sosial, dan identitas. Jejaknya tidak hilang begitu saja saat rekening bertambah.
Namun penting diingat: perilaku-perilaku ini bukanlah kelemahan. Banyak di antaranya justru menjadi fondasi ketangguhan, empati, dan daya juang yang luar biasa.
Kuncinya adalah kesadaran diri. Ketika seseorang memahami bahwa sebagian responsnya berasal dari pengalaman masa lalu, ia bisa memilih mana yang tetap dipertahankan sebagai kekuatan, dan mana yang perlu disembuhkan.
