Logo JawaPos
Author avatar - Image
25 Februari 2026, 04.14 WIB

Orang Dewasa yang Menggambarkan Diri Mereka Tidak Memiliki Teman Dekat, Seringkali Menunjukkan 8 Kepribadian Ini Menurut Psikologi

seseorang yang tidak memiliki teman dekat./ Freepik/jcomp

JawaPos.com - Psikologi sosial dan kepribadian telah lama meneliti bagaimana hubungan pertemanan memengaruhi kesejahteraan mental seseorang.

Dalam berbagai studi dari institusi seperti American Psychological Association dan universitas ternama seperti Harvard University, ditemukan bahwa memiliki teman dekat berkaitan erat dengan kesehatan emosional, rasa memiliki, dan bahkan umur panjang.

Namun, tidak semua orang dewasa merasa memiliki teman dekat. Sebagian dari mereka menggambarkan diri sebagai “tidak punya sahabat” atau “tidak benar-benar dekat dengan siapa pun.”

Menariknya, psikologi menunjukkan bahwa kondisi ini sering kali bukan sekadar soal kesempatan sosial, tetapi juga berkaitan dengan pola kepribadian tertentu.

Baca Juga: Menurut Pembacaan Ramalan Kartu Tarot, 6 Zodiak Ini Diramal Berlimpah Harta di Tahun Kuda Api 2026

Dilansir dari Geediting pada Minggu (22/2), terdapat 8 kepribadian yang sering muncul pada orang dewasa yang merasa tidak memiliki teman dekat.

1. Sang Introvert Ekstrem


Tidak semua introvert kesepian. Namun, pada level yang sangat tinggi, introversi dapat membuat seseorang terlalu nyaman dalam dunia internalnya. Mereka merasa interaksi sosial menguras energi, sehingga jarang membangun kedekatan emosional yang dalam.

Mereka cenderung:

Menghindari pertemuan sosial besar

Sulit membuka diri

Lebih menikmati aktivitas sendiri

Akibatnya, relasi yang terbentuk sering bersifat dangkal atau fungsional saja.

Baca Juga: Ceritanya Seru, Intip Kisah Park Sung Woong yang Harus Pindah ke Pedesaan di Drama Cabbage Your Life

2. Perfeksionis dalam Hubungan


Beberapa orang memiliki standar sangat tinggi terhadap pertemanan. Mereka mengharapkan kesetiaan, pemahaman, dan kecocokan yang hampir sempurna.

Ketika realitas tidak sesuai harapan, mereka memilih menjauh daripada berkompromi. Perfeksionisme ini sering kali berakar pada rasa takut dikecewakan.

3. Sang Terlalu Mandiri (Hyper-Independent)


Kemandirian adalah sifat positif, tetapi dalam kadar ekstrem bisa menjadi penghalang kedekatan. Orang dengan sifat ini merasa tidak membutuhkan siapa pun. Mereka bangga menyelesaikan semuanya sendiri.

Secara tidak sadar, pesan yang mereka kirimkan kepada orang lain adalah: “Saya tidak butuh bantuan.” Hal ini membuat orang lain enggan mendekat lebih dalam.

4. Cenderung Menghindari Konflik

Beberapa individu sangat tidak nyaman dengan konflik. Mereka memilih diam atau menjauh ketika terjadi gesekan kecil.

Padahal, hubungan yang sehat justru tumbuh melalui kemampuan menyelesaikan konflik. Dengan terus menghindar, hubungan menjadi tidak pernah berkembang ke tahap kedekatan emosional.

5. Trauma Masa Lalu yang Belum Selesai

Pengalaman pengkhianatan, perundungan, atau penolakan di masa kecil dan remaja dapat membentuk pola kelekatan (attachment style) tertentu.

Teori kelekatan yang dipopulerkan oleh John Bowlby menjelaskan bahwa pengalaman awal dengan pengasuh memengaruhi cara kita membangun hubungan di masa dewasa. Individu dengan attachment avoidant atau anxious sering kesulitan mempertahankan kedekatan jangka panjang.

6. Overthinking dan Sensitif Berlebihan


Orang yang terlalu banyak menganalisis interaksi sosial sering kali salah menafsirkan hal-hal kecil. Pesan yang dibalas lama dianggap sebagai tanda penolakan. Candaan ringan dianggap sindiran.

Pola pikir ini membuat mereka cepat menarik diri sebelum hubungan berkembang.

7. Fokus Berlebihan pada Karier atau Tujuan Pribadi


Ambisi yang tinggi bisa membuat seseorang memprioritaskan pekerjaan di atas hubungan sosial. Dalam budaya modern yang sangat kompetitif, ini cukup umum terjadi.

Psikolog dari Stanford University pernah menyoroti bahwa workaholism dapat berdampak pada kualitas hubungan interpersonal jika tidak diimbangi dengan kehidupan sosial yang sehat.

8. Rendahnya Keterampilan Sosial Emosional

Beberapa orang sebenarnya ingin memiliki teman dekat, tetapi tidak tahu bagaimana membangun dan mempertahankannya.

Mereka mungkin:

Sulit mendengarkan secara empatik

Jarang menunjukkan apresiasi

Tidak peka terhadap kebutuhan emosional orang lain

Keterampilan sosial adalah sesuatu yang bisa dipelajari, tetapi tanpa kesadaran diri, pola ini bisa bertahan lama.

Apakah Tidak Punya Teman Dekat Berarti Ada yang Salah?

Tidak selalu. Setiap orang memiliki kebutuhan sosial yang berbeda. Ada individu yang merasa cukup dengan relasi keluarga atau pasangan saja.

Namun, jika perasaan tidak memiliki teman dekat disertai dengan kesepian kronis, kecemasan, atau depresi, mungkin ini saatnya melakukan refleksi diri atau berbicara dengan profesional kesehatan mental.

Penelitian dalam psikologi modern menunjukkan bahwa kualitas hubungan lebih penting daripada kuantitas. Satu hubungan yang tulus dan aman jauh lebih berharga daripada banyak relasi yang dangkal.

Penutup

Orang dewasa yang menggambarkan diri mereka tidak memiliki teman dekat sering kali menunjukkan pola kepribadian tertentu—mulai dari introversi ekstrem hingga trauma yang belum terselesaikan.

Yang penting untuk dipahami adalah: kepribadian bukanlah vonis. Dengan kesadaran, latihan, dan kemauan untuk tumbuh, pola hubungan dapat berubah.

Membangun kedekatan memang membutuhkan keberanian—keberanian untuk terbuka, menerima ketidaksempurnaan, dan memberi ruang bagi orang lain untuk benar-benar mengenal kita.
Editor: Hanny Suwindari
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore