seseorang yang membersihkan rumah saat stres./ Freepik/ke1150sb
JawaPos.com - Psikologi mengatakan bahwa keinginan untuk membersihkan saat stres bukan sekadar kebiasaan iseng atau “biar kelihatan sibuk”.
Dalam banyak kasus, dorongan ini adalah respons emosional yang dalam—cara otak mencari kembali rasa kendali ketika situasi terasa kacau.
Banyak orang menganggap kebiasaan ini hanya berkaitan dengan perfeksionisme atau sifat cerewet.
Padahal, penelitian dalam psikologi menunjukkan bahwa perilaku membersihkan saat stres sering terhubung dengan ciri-ciri kepribadian yang jarang disadari.
Baca Juga: RPH Jamin Stok Daging Sapi di Surabaya Aman hingga Lebaran 2026, Tak Perlu Panik Rek!
Dilansir dari Expert Editor pada MInggu (22/2), terdapat 7 ciri kepribadian yang sering berkaitan dengan kebiasaan membersihkan saat stres:
1. Kebutuhan Tinggi Akan Rasa Kendali (Need for Control)
Ketika hidup terasa tidak pasti—deadline menumpuk, konflik hubungan, tekanan pekerjaan—otak mencari sesuatu yang bisa dikendalikan. Membersihkan adalah tindakan konkret dengan hasil yang langsung terlihat.
Menurut teori dalam buku The Willpower Instinct karya Kelly McGonigal, manusia cenderung melakukan tindakan kecil yang memberi rasa keberhasilan saat stres meningkat.
Membersihkan meja, menyapu lantai, atau merapikan lemari memberi sinyal pada otak: “Aku masih punya kendali.”
Baca Juga: Orang Bisa Duduk dalam Keheningan Total Tanpa Meraih Ponsel Mereka, Biasanya Memiliki 8 Kualitas Ini Menurut Psikologi
Orang dengan kebutuhan kontrol tinggi sering menggunakan kebersihan sebagai jangkar emosional.
2. Perfeksionisme yang Terselubung
Perfeksionisme tidak selalu tampil dalam bentuk standar tinggi terhadap prestasi akademik atau pekerjaan. Pada sebagian orang, ia muncul dalam bentuk kebutuhan lingkungan yang rapi dan teratur.
Perfeksionisme ini sering bukan tentang kesempurnaan visual, tetapi tentang ketenangan batin. Lingkungan yang berantakan bisa memicu kecemasan internal.
Dalam kerangka Personality and Individual Differences, perfeksionisme dikaitkan dengan sensitivitas tinggi terhadap ketidakteraturan. Membersihkan menjadi cara untuk “menenangkan” sistem saraf.
3. Sensitivitas Emosional Tinggi (High Emotional Reactivity)
Orang dengan sensitivitas emosional tinggi lebih mudah merasa kewalahan. Mereka menyerap stres dengan cepat, bahkan dari hal-hal kecil.
Membersihkan bisa menjadi bentuk regulasi emosi. Aktivitas fisik ringan seperti mengelap, menyapu, atau menyusun barang menciptakan ritme yang menenangkan.
Konsep regulasi emosi ini banyak dibahas dalam Emotional Intelligence oleh Daniel Goleman, yang menjelaskan bagaimana tindakan fisik dapat membantu menstabilkan keadaan emosional.
4. Kecenderungan Overthinking
Overthinker sering terjebak dalam lingkaran pikiran yang tidak berhenti. Membersihkan memberi fokus konkret yang mengalihkan pikiran dari kekhawatiran abstrak ke tugas nyata.
Ketika tangan sibuk, pikiran memiliki “tempat mendarat.” Aktivitas ini menciptakan efek grounding—membawa perhatian kembali ke saat ini.
Bagi tipe ini, membersihkan bukan tentang kebersihan semata, tetapi tentang menghentikan kebisingan mental.
5. Orientasi pada Produktivitas
Sebagian orang merasa bersalah ketika tidak melakukan apa-apa saat stres. Mereka merasa harus tetap “produktif”.
Membersihkan menjadi solusi sempurna: tetap aktif, terlihat berguna, dan memberi hasil instan.
Dalam literatur mengenai stres kerja, seperti yang dibahas dalam American Psychological Association, perilaku coping aktif sering lebih disukai dibanding coping pasif seperti menghindar atau melamun.
Orang dengan orientasi produktivitas tinggi jarang menyadari bahwa mereka sedang menghindari emosi dengan menjadi sibuk.
6. Kebutuhan Akan Struktur dan Keteraturan
Individu dengan preferensi tinggi terhadap struktur merasa lebih aman ketika lingkungan mereka tertata.
Kekacauan visual dapat memperkuat rasa kekacauan mental. Sebaliknya, ruang yang bersih memberi sensasi stabilitas.
Dalam model Personality Traits, ciri ini berkaitan dengan tingkat conscientiousness yang tinggi—sifat disiplin, terorganisir, dan terencana.
7. Mekanisme Coping Adaptif (Bukan Pelarian)
Tidak semua bentuk membersihkan saat stres adalah negatif. Dalam banyak kasus, ini adalah coping mechanism yang sehat.
Berbeda dengan pelarian seperti konsumsi berlebihan, doom scrolling, atau agresi verbal, membersihkan memberi:
Gerakan fisik
Hasil nyata
Rasa pencapaian
Lingkungan yang lebih nyaman
Namun, jika dorongan ini menjadi kompulsif dan dilakukan untuk menghindari perasaan sepenuhnya, maka perlu refleksi lebih lanjut.
Mengapa Banyak Orang Tidak Menghubungkannya?
Karena membersihkan dianggap “aktivitas rumah tangga biasa,” bukan respons psikologis.
Padahal, di balik tindakan sederhana seperti menyusun buku atau mencuci piring, ada proses neurologis:
Otak mencari kepastian
Tubuh mencari regulasi
Emosi mencari stabilitas
Kebiasaan ini bukan sekadar tentang debu dan kerapian—ia adalah dialog antara pikiran dan lingkungan.
Penutup: Ketika Rumah Jadi Cermin Psikologis
Jika Anda sering tiba-tiba ingin membersihkan rumah saat sedang marah, cemas, atau tertekan, mungkin itu bukan kebetulan.
Itu bisa jadi tanda bahwa Anda:
Membutuhkan kontrol
Sensitif terhadap ketidakteraturan
Memiliki standar tinggi
Cenderung overthinking
Sangat menghargai struktur
Atau sedang berusaha mengelola emosi dengan cara yang relatif sehat
Alih-alih menghakimi kebiasaan ini, cobalah melihatnya sebagai sinyal.
John Herdman Full Senyum! 2 Pemain Timnas Indonesia, Kevin Diks dan Justin Hubner Cetak Gol di Eropa
Resep Strawberry Cheese Milk, Ide Jualan Takjil Ramadhan yang Segar dan Potensial Laris
Sriwijaya FC Resmi Degradasi ke Liga Nusantara, Ini Deretan Prestasi Laskar Wong Kito
Polemik Panas Terkait Musala di Bekasi Sampai ke DPR, Kini Berakhir Damai
Super Komputer Opta Prediksi 8 Tim yang Lolos Perempat Final Liga Champions UEFA
Resep Bakwan Goreng Ayam Halal, Ide Takjil Gurih yang Bikin Nagih
Rosenior Siap Hadapi PSG, Duel yang Menarik di Babak 16 Besar Liga Champions
Iran Konfirmasi Kematian Pemimpin Tertinggi Negaranya, Ayatollah Ali Khamenei, Usai Serangan Gabungan AS‑Israel
Cedera Frenkie de Jong, Barcelona Hadapi Tantangan Besar!
