Logo JawaPos
Author avatar - Image
25 Februari 2026, 04.55 WIB

8 Hal yang Dilakukan Nenek-Nenek dengan Niat Membantu, tapi Justru Membuat Putri-Putri Mereka Takut akan Liburan Menurut Psikologi

seseorang yang membuat putrinya ketakutan akan liburan./ Freepik/teksomolika

 
JawaPos.com - Liburan keluarga sering digambarkan sebagai momen hangat, penuh tawa, dan nostalgia.
 
Namun bagi sebagian perempuan dewasa, terutama yang sudah menjadi ibu, liburan justru bisa menjadi sumber kecemasan tersembunyi. 
 
Bukan karena tidak mencintai keluarga—melainkan karena dinamika emosional yang terjadi, terutama dengan ibu mereka sendiri yang kini menjadi nenek bagi cucu-cucu.

Dilansir dari Geediting pada Minggu (22/2), dalam banyak kasus, nenek-nenek melakukan berbagai hal dengan niat tulus untuk membantu.
 
Namun tanpa disadari, pola perilaku tertentu dapat memicu stres, rasa tidak kompeten, atau bahkan ketakutan menjelang liburan. Dari sudut pandang psikologi keluarga dan teori sistem keluarga, inilah delapan hal yang sering terjadi.

1. “Biar Mama Aja yang Urus” — Mengambil Alih Peran Tanpa Diminta


Niatnya: Membantu agar anak tidak repot.
Dampaknya: Mengikis rasa kompetensi sebagai ibu.

Ketika seorang nenek langsung mengambil alih urusan cucu—mulai dari memberi makan, memandikan, hingga menentukan jadwal—tanpa diminta, sang putri bisa merasa perannya diperkecil. Dalam psikologi perkembangan dewasa, rasa kompetensi adalah kebutuhan dasar. Ketika peran ini diintervensi terus-menerus, muncul perasaan tidak dipercaya.

Liburan yang seharusnya menjadi momen kebersamaan berubah menjadi ajang “uji kompetensi” yang melelahkan secara emosional.

2. Memberi Kritik yang Dibungkus Nasihat


Niatnya: Mengajarkan pengalaman hidup.
Dampaknya: Mengaktifkan kembali luka masa kecil.

Kalimat seperti, “Dulu kamu nggak pernah rewel kayak anakmu,” atau “Cara kamu mendidik terlalu lembek,” mungkin terdengar ringan. Namun secara psikologis, kritik terselubung dapat mengaktifkan kembali pola relasi lama antara ibu dan anak.

Menurut teori attachment, interaksi masa kecil membentuk respons emosional dewasa. Liburan bisa menjadi pemicu regresi emosional—perempuan dewasa kembali merasa seperti anak kecil yang dihakimi.

3. Mengatur Segalanya Secara Detail


Niatnya: Supaya semuanya berjalan lancar.
Dampaknya: Menghilangkan otonomi.

Mulai dari jadwal makan, menu masakan, hingga aktivitas cucu, semua sudah diatur sebelum sang putri datang. Ini menciptakan pesan implisit: “Kamu tidak perlu berpikir, Mama sudah siapkan semuanya.”

Dalam psikologi, kebutuhan akan otonomi sama pentingnya dengan kebutuhan akan kedekatan. Ketika otonomi tergerus, muncul frustrasi dan resistensi tersembunyi.

4. Membandingkan dengan Saudara atau Generasi Lain


Niatnya: Memotivasi.
Dampaknya: Menumbuhkan rasa tidak cukup.

Perbandingan seperti, “Kakakmu bisa lebih sabar,” atau “Dulu Mama mengurus tiga anak tanpa mengeluh,” seringkali membuat putri dewasa merasa gagal.

Perbandingan sosial yang terus-menerus dapat menurunkan self-esteem dan meningkatkan kecemasan performatif—terutama menjelang momen berkumpul seperti Lebaran atau Natal.

5. Terlalu Dermawan Secara Finansial pada Cucu

Niatnya: Menunjukkan kasih sayang.
Dampaknya: Melemahkan batasan orang tua.

Memberi uang, hadiah besar, atau membiarkan aturan rumah dilanggar dengan alasan “Namanya juga cucu” dapat mengacaukan konsistensi pola asuh.

Dalam teori parenting, konsistensi adalah fondasi rasa aman anak. Ketika nenek sering melanggar batas yang sudah ditetapkan orang tua, putri dewasa bisa merasa tidak didukung—bahkan disabotase secara halus.

6. Mengungkit Pengorbanan Masa Lalu


Niatnya: Mengingatkan betapa besar cinta seorang ibu.
Dampaknya: Membangkitkan rasa bersalah kronis.

Kalimat seperti, “Mama dulu berkorban banyak demi kamu,” mungkin dimaksudkan sebagai refleksi. Namun jika sering muncul dalam konteks perbedaan pendapat, ini bisa terasa seperti beban emosional.

Rasa bersalah kronis adalah salah satu faktor yang membuat seseorang sulit menetapkan batasan sehat. Liburan pun terasa seperti kewajiban moral, bukan pilihan yang membahagiakan.

7. Mengharapkan Kebersamaan Tanpa Batas


Niatnya: Mengobati rindu.
Dampaknya: Mengabaikan kebutuhan ruang pribadi.

Beberapa nenek mengharapkan seluruh waktu liburan dihabiskan bersama keluarga inti besar—tanpa mempertimbangkan bahwa putri dewasa juga memiliki keluarga kecil dengan ritme sendiri.

Dalam psikologi sistem keluarga, batas (boundaries) yang terlalu kabur dapat menyebabkan enmeshment—keterikatan berlebihan yang membuat individu kesulitan merasa mandiri.

8. Menolak Perubahan Zaman dalam Pola Asuh


Niatnya: Mempertahankan nilai tradisional.
Dampaknya: Konflik nilai antar generasi.

Perbedaan pandangan tentang screen time, makanan organik, metode disiplin, atau kesehatan mental sering memicu ketegangan. Ketika pendapat generasi baru dianggap “terlalu modern” atau “ikut-ikutan tren,” putri dewasa bisa merasa tidak dihargai.

Perbedaan nilai tanpa ruang dialog yang aman membuat liburan menjadi ladang perdebatan laten.

Mengapa Liburan Menjadi Pemicu Emosional?


Liburan bukan hanya tentang pertemuan fisik, tetapi juga tentang aktivasi memori emosional. Rumah masa kecil menyimpan banyak jejak psikologis. Saat kembali, pola interaksi lama cenderung muncul kembali secara otomatis.

Fenomena ini disebut regresi situasional—di mana individu dewasa kembali merasakan emosi seperti ketika mereka masih anak-anak, terutama dalam konteks keluarga asal.

Bukan Tentang Siapa yang Salah


Penting untuk dipahami: mayoritas nenek melakukan semua ini dengan cinta. Tidak ada niat menyakiti. Namun cinta tanpa kesadaran batas psikologis dapat menimbulkan tekanan yang tak terlihat.

Begitu pula putri dewasa—mereka bukan anak durhaka jika merasa lelah. Mereka hanya sedang berusaha menyeimbangkan dua peran besar: sebagai anak dan sebagai ibu.

Menuju Liburan yang Lebih Sehat

Beberapa langkah yang dapat membantu:

Komunikasi asertif sebelum liburan.

Menetapkan batas dengan cara hormat.

Mengakui perasaan tanpa menyalahkan.

Menciptakan waktu pribadi selama kunjungan.

Liburan seharusnya menjadi ruang kehangatan, bukan ujian ketahanan emosional. Dengan kesadaran psikologis, dua generasi perempuan ini bisa belajar saling melihat bukan sebagai ancaman peran—melainkan sebagai sekutu dalam keluarga.

Karena pada akhirnya, baik nenek maupun putri dewasa, keduanya hanya ingin satu hal: keluarga yang tetap utuh dan penuh cinta.

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore