Logo JawaPos
Author avatar - Image
28 Februari 2026, 03.09 WIB

Orang-orang yang Paling Tulus Disukai, Biasanya Mempraktikkan 7 Perilaku Ini Menurut Psikologi

 

seseorang yang mudah disukai./Freepik/freepik

JawaPos.com - Orang yang tulus hampir selalu memiliki tempat istimewa di hati banyak orang. Mereka tidak perlu berusaha keras untuk disukai—kehadiran mereka terasa menenangkan, hangat, dan dapat dipercaya. 

 
Dalam psikologi sosial, ketulusan sering dikaitkan dengan keaslian (authenticity), empati, dan integritas—tiga faktor utama yang membangun hubungan interpersonal yang kuat dan sehat.

Dilansir dari Expert Editor pada Selasa (24/2), orang-orang yang paling tulus dan disukai biasanya mempraktikkan tujuh perilaku berikut ini.
 
Baca Juga: Jadwal Imsakiyah 10 Ramadhan 1447 H Kota Malang, Sabtu 28 Februari 2026

1. Mereka Konsisten antara Kata dan Tindakan

Dalam psikologi, konsistensi adalah fondasi kepercayaan. Teori cognitive consistency menjelaskan bahwa manusia cenderung menghargai individu yang stabil dan dapat diprediksi.

Orang tulus tidak mengatakan satu hal lalu melakukan hal lain. Jika mereka berjanji, mereka berusaha menepatinya. Jika mereka tidak mampu, mereka jujur sejak awal. Konsistensi ini membuat orang lain merasa aman secara emosional.

2. Mereka Mendengarkan dengan Empati


Konsep empati banyak dipopulerkan dalam karya-karya Carl Rogers, tokoh psikologi humanistik yang menekankan pentingnya unconditional positive regard.

Orang yang tulus:

Tidak memotong pembicaraan

Tidak langsung menghakimi

Berusaha memahami sebelum dipahami

Mereka hadir sepenuhnya saat berbicara dengan orang lain. Bukan sekadar menunggu giliran untuk bicara.

3. Mereka Tidak Berpura-pura Menjadi Seseorang yang Bukan Dirinya

Keaslian (authenticity) adalah ciri utama ketulusan. Dalam teori perkembangan psikososial Erik Erikson, individu yang matang secara emosional cenderung memiliki identitas diri yang kuat dan stabil.

Orang tulus:

Tidak merasa perlu mengesankan semua orang

Nyaman dengan kekurangan diri

Tidak mengubah kepribadian hanya demi diterima

Justru karena keaslian inilah mereka terasa “nyata” dan menyenangkan.

4. Mereka Mengakui Kesalahan Tanpa Defensif

Psikologi modern menunjukkan bahwa kemampuan mengakui kesalahan berkaitan dengan secure self-esteem (harga diri yang sehat). Orang dengan harga diri yang stabil tidak merasa hancur hanya karena melakukan kesalahan.

Alih-alih menyalahkan orang lain, mereka berkata:

“Ya, itu kesalahan saya.”

Sikap ini membangun rasa hormat yang mendalam. Kerendahan hati adalah magnet sosial yang kuat.

5. Mereka Memberi Tanpa Agenda Tersembunyi

Teori reciprocity dalam psikologi sosial menjelaskan bahwa manusia cenderung membalas kebaikan. Namun orang tulus tidak memberi untuk mendapatkan balasan.

Penelitian tentang prosocial behavior menunjukkan bahwa tindakan altruistik yang autentik meningkatkan kesejahteraan psikologis—baik bagi pemberi maupun penerima.

Mereka membantu karena memang peduli, bukan karena ingin terlihat baik.

6. Mereka Nyaman Melihat Orang Lain Sukses


Salah satu tanda ketulusan adalah tidak mudah iri. Dalam teori perbandingan sosial dari Leon Festinger, manusia cenderung membandingkan diri dengan orang lain.

Namun orang yang tulus:

Tidak merasa terancam oleh keberhasilan orang lain

Mampu memberi selamat dengan tulus

Melihat kesuksesan orang lain sebagai inspirasi, bukan ancaman

Kemampuan ini mencerminkan kematangan emosional yang tinggi.

7. Mereka Memperlakukan Semua Orang dengan Hormat


Ketulusan tidak selektif. Mereka tidak hanya baik kepada orang yang “berguna” atau berstatus tinggi.

Baik kepada atasan, rekan kerja, pelayan restoran, hingga orang asing—sikapnya tetap sama. Dalam psikologi karakter, ini berkaitan dengan integritas dan nilai moral internal yang kuat.

Orang-orang seperti ini membuat orang lain merasa dihargai sebagai manusia, bukan sebagai alat.

Mengapa Orang Tulus Mudah Disukai?


Secara psikologis, manusia memiliki radar sosial terhadap kepalsuan. Kita dapat merasakan inkonsistensi, manipulasi, atau kepentingan tersembunyi.

Sebaliknya, ketulusan:

Menciptakan rasa aman

Membangun kepercayaan jangka panjang

Mengurangi kecemasan sosial

Memperkuat koneksi emosional

Ketika seseorang tulus, kita tidak perlu waspada. Kita bisa menjadi diri sendiri.

Penutup


Menjadi tulus bukan berarti menjadi lemah. Justru sebaliknya—dibutuhkan keberanian untuk menjadi autentik di dunia yang sering menuntut pencitraan.

Orang-orang yang paling tulus dan disukai biasanya tidak berusaha keras untuk dicintai. Mereka hanya konsisten menjadi diri sendiri, peduli dengan orang lain, dan hidup selaras dengan nilai yang mereka yakini.

Dan kabar baiknya?
Ketujuh perilaku ini bukan bakat bawaan. Ini adalah kebiasaan yang bisa dilatih—sedikit demi sedikit—setiap hari.*

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore