Dilansir dari Geediting pada Selasa (24/2), terdapat berbagai teori dalam psikologi kepribadian dan klinis, berikut adalah tujuh kecenderungan kepribadian yang sering muncul pada orang yang selalu berkata “Saya baik-baik saja” meski mungkin sebenarnya tidak.
1. Tipe Penghindar (Avoidant Personality Traits)Individu dengan kecenderungan penghindar sering merasa takut akan penolakan atau kritik. Dalam kerangka gangguan kepribadian menghindar yang dijelaskan dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders oleh Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, ciri utamanya adalah sensitivitas tinggi terhadap evaluasi negatif.
Mengatakan “Saya baik-baik saja” menjadi cara aman untuk:
Menghindari percakapan yang rentan
Mencegah rasa malu
Menjaga jarak emosional
Mereka sering kali sebenarnya ingin dimengerti, tetapi rasa takut lebih dominan daripada kebutuhan untuk terbuka.
2. Tipe Stoik dan Sangat MandiriBeberapa orang dibesarkan dengan nilai bahwa menunjukkan emosi adalah kelemahan. Filsafat stoik seperti yang diajarkan oleh Epictetus menekankan pengendalian diri dan ketahanan terhadap emosi negatif.
Dalam versi modernnya, hal ini bisa berubah menjadi:
Penekanan emosi secara berlebihan
Kebiasaan memendam masalah sendiri
Keyakinan bahwa meminta bantuan adalah tanda ketidakmampuan
Nada datar mereka bukan berarti tidak merasakan apa-apa—melainkan karena mereka sudah terbiasa memproses semuanya sendirian.
3. Tipe dengan Kelelahan Emosional (Emotional Burnout)
Dalam psikologi kesehatan, kelelahan emosional sering dikaitkan dengan burnout. Konsep burnout pertama kali dipopulerkan oleh Herbert Freudenberger pada 1970-an.
Orang yang mengalami burnout sering menunjukkan:
Respons datar
Minim energi untuk menjelaskan perasaan
Kehilangan motivasi untuk berbagi cerita
“Saya baik-baik saja” bisa berarti, “Saya terlalu lelah untuk menjelaskan.”
4. Tipe dengan Mekanisme Pertahanan RepresiMenurut teori psikoanalisis dari Sigmund Freud, represi adalah mekanisme pertahanan di mana pikiran atau emosi yang menyakitkan ditekan ke alam bawah sadar.
Individu seperti ini mungkin:
Tidak sepenuhnya sadar bahwa mereka terluka
Merasa bingung jika ditanya tentang perasaan
Secara otomatis menolak eksplorasi emosional
Nada datar muncul karena mereka benar-benar telah “menekan” akses terhadap perasaan tersebut.
5. Tipe yang Terbiasa Menjadi “Yang Kuat”Dalam banyak keluarga atau lingkungan kerja, selalu ada satu orang yang menjadi penopang utama. Mereka merasa bertanggung jawab menjaga stabilitas orang lain.
Menurut teori perkembangan psikososial dari Erik Erikson, individu dewasa sering menghadapi tahap generativitas versus stagnasi—keinginan untuk berguna dan mendukung orang lain.
Namun, sisi gelapnya:
Mereka merasa tidak punya ruang untuk rapuh
Mereka menekan kebutuhan pribadi
Mereka menghindari membebani orang lain
“Saya baik-baik saja” adalah bentuk perlindungan terhadap peran yang mereka jalankan.
6. Tipe dengan Kecenderungan AlexithymiaAlexithymia adalah kondisi di mana seseorang kesulitan mengidentifikasi dan mengungkapkan emosi. Konsep ini dikembangkan oleh Peter Sifneos.
Ciri-cirinya:
Sulit memberi nama pada perasaan
Lebih fokus pada fakta daripada emosi
Tampak dingin atau tidak ekspresif
Ketika ditanya “Apa yang kamu rasakan?”, jawaban “Saya baik-baik saja” mungkin bukan penolakan—melainkan keterbatasan kosakata emosional.
7. Tipe yang Pernah Dikecewakan Saat TerbukaPengalaman masa lalu sangat membentuk respons emosional. Jika seseorang pernah:
Diremehkan saat curhat
Dikhianati
Tidak didengarkan
Mereka bisa mengembangkan pola perlindungan diri. Teori keterikatan dari John Bowlby menjelaskan bahwa pengalaman relasional awal memengaruhi cara kita membangun kelekatan di masa dewasa.
Nada datar bisa menjadi perisai: lebih aman terlihat “baik-baik saja” daripada kembali terluka.
Hal yang Perlu DiingatTidak semua orang yang berkata “Saya baik-baik saja” sedang menyembunyikan sesuatu. Namun, jika pola tersebut konsisten dan disertai bahasa tubuh tertutup, perubahan perilaku, atau penarikan diri, ada kemungkinan terdapat beban emosional di baliknya.
Alih-alih memaksa mereka untuk berbicara, pendekatan yang lebih efektif adalah:
Tawarkan kehadiran tanpa tekanan
Gunakan pertanyaan terbuka
Tunjukkan empati konsisten
Kadang, yang mereka butuhkan bukan interogasi—melainkan rasa aman.
PenutupKalimat “Saya baik-baik saja” bisa menjadi topeng, perisai, atau bahkan jeritan diam. Psikologi menunjukkan bahwa respons datar bukan selalu tanda ketidakpedulian, melainkan sering kali strategi bertahan hidup emosional.
Di balik suara yang terdengar biasa saja, mungkin ada cerita yang belum menemukan ruang untuk diceritakan.
Dan terkadang, pertanyaan terbaik bukan hanya “Kamu baik-baik saja?”
Tetapi juga, “Aku di sini kalau kamu mau cerita.