Logo JawaPos
Author avatar - Image
28 Februari 2026, 03.19 WIB

Seseorang Terus Mengatakan 'Saya Baik-Baik Saja' dengan Nada Datar yang Sama Setiap Kali Anda Bertanya, Biasanya Mereka Memiliki 7 Kepribadian Ini

 

seseorang yang lebih cocok menjadi pemimpin./ Freepik/tirachardz

JawaPos.com - Kita semua pernah mengalaminya. Anda bertanya dengan tulus, “Kamu nggak apa-apa?” dan jawabannya selalu sama: “Saya baik-baik saja.” Tidak ada perubahan ekspresi. Tidak ada variasi nada. Hanya kalimat pendek dengan suara datar yang seolah menjadi tembok tak terlihat.

Dalam psikologi, respons seperti ini sering kali bukan sekadar jawaban sederhana. Nada datar, pengulangan konsisten, dan minimnya ekspresi bisa menjadi mekanisme perlindungan emosional.

 
Dilansir dari Geediting pada Selasa (24/2), terdapat berbagai teori dalam psikologi kepribadian dan klinis, berikut adalah tujuh kecenderungan kepribadian yang sering muncul pada orang yang selalu berkata “Saya baik-baik saja” meski mungkin sebenarnya tidak.

1. Tipe Penghindar (Avoidant Personality Traits)


Individu dengan kecenderungan penghindar sering merasa takut akan penolakan atau kritik. Dalam kerangka gangguan kepribadian menghindar yang dijelaskan dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders oleh Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, ciri utamanya adalah sensitivitas tinggi terhadap evaluasi negatif.

Mengatakan “Saya baik-baik saja” menjadi cara aman untuk:

Menghindari percakapan yang rentan

Mencegah rasa malu

Menjaga jarak emosional

Mereka sering kali sebenarnya ingin dimengerti, tetapi rasa takut lebih dominan daripada kebutuhan untuk terbuka.

2. Tipe Stoik dan Sangat Mandiri


Beberapa orang dibesarkan dengan nilai bahwa menunjukkan emosi adalah kelemahan. Filsafat stoik seperti yang diajarkan oleh Epictetus menekankan pengendalian diri dan ketahanan terhadap emosi negatif.

Dalam versi modernnya, hal ini bisa berubah menjadi:

Penekanan emosi secara berlebihan

Kebiasaan memendam masalah sendiri

Keyakinan bahwa meminta bantuan adalah tanda ketidakmampuan

Nada datar mereka bukan berarti tidak merasakan apa-apa—melainkan karena mereka sudah terbiasa memproses semuanya sendirian.

3. Tipe dengan Kelelahan Emosional (Emotional Burnout)

Dalam psikologi kesehatan, kelelahan emosional sering dikaitkan dengan burnout. Konsep burnout pertama kali dipopulerkan oleh Herbert Freudenberger pada 1970-an.

Orang yang mengalami burnout sering menunjukkan:

Respons datar

Minim energi untuk menjelaskan perasaan

Kehilangan motivasi untuk berbagi cerita

“Saya baik-baik saja” bisa berarti, “Saya terlalu lelah untuk menjelaskan.”

4. Tipe dengan Mekanisme Pertahanan Represi


Menurut teori psikoanalisis dari Sigmund Freud, represi adalah mekanisme pertahanan di mana pikiran atau emosi yang menyakitkan ditekan ke alam bawah sadar.

Individu seperti ini mungkin:

Tidak sepenuhnya sadar bahwa mereka terluka

Merasa bingung jika ditanya tentang perasaan

Secara otomatis menolak eksplorasi emosional

Nada datar muncul karena mereka benar-benar telah “menekan” akses terhadap perasaan tersebut.

5. Tipe yang Terbiasa Menjadi “Yang Kuat”


Dalam banyak keluarga atau lingkungan kerja, selalu ada satu orang yang menjadi penopang utama. Mereka merasa bertanggung jawab menjaga stabilitas orang lain.

Menurut teori perkembangan psikososial dari Erik Erikson, individu dewasa sering menghadapi tahap generativitas versus stagnasi—keinginan untuk berguna dan mendukung orang lain.

Namun, sisi gelapnya:

Mereka merasa tidak punya ruang untuk rapuh

Mereka menekan kebutuhan pribadi

Mereka menghindari membebani orang lain

“Saya baik-baik saja” adalah bentuk perlindungan terhadap peran yang mereka jalankan.

6. Tipe dengan Kecenderungan Alexithymia


Alexithymia adalah kondisi di mana seseorang kesulitan mengidentifikasi dan mengungkapkan emosi. Konsep ini dikembangkan oleh Peter Sifneos.

Ciri-cirinya:

Sulit memberi nama pada perasaan

Lebih fokus pada fakta daripada emosi

Tampak dingin atau tidak ekspresif

Ketika ditanya “Apa yang kamu rasakan?”, jawaban “Saya baik-baik saja” mungkin bukan penolakan—melainkan keterbatasan kosakata emosional.

7. Tipe yang Pernah Dikecewakan Saat Terbuka


Pengalaman masa lalu sangat membentuk respons emosional. Jika seseorang pernah:

Diremehkan saat curhat

Dikhianati

Tidak didengarkan

Mereka bisa mengembangkan pola perlindungan diri. Teori keterikatan dari John Bowlby menjelaskan bahwa pengalaman relasional awal memengaruhi cara kita membangun kelekatan di masa dewasa.

Nada datar bisa menjadi perisai: lebih aman terlihat “baik-baik saja” daripada kembali terluka.

Hal yang Perlu Diingat


Tidak semua orang yang berkata “Saya baik-baik saja” sedang menyembunyikan sesuatu. Namun, jika pola tersebut konsisten dan disertai bahasa tubuh tertutup, perubahan perilaku, atau penarikan diri, ada kemungkinan terdapat beban emosional di baliknya.

Alih-alih memaksa mereka untuk berbicara, pendekatan yang lebih efektif adalah:

Tawarkan kehadiran tanpa tekanan

Gunakan pertanyaan terbuka

Tunjukkan empati konsisten

Kadang, yang mereka butuhkan bukan interogasi—melainkan rasa aman.

Penutup


Kalimat “Saya baik-baik saja” bisa menjadi topeng, perisai, atau bahkan jeritan diam. Psikologi menunjukkan bahwa respons datar bukan selalu tanda ketidakpedulian, melainkan sering kali strategi bertahan hidup emosional.

Di balik suara yang terdengar biasa saja, mungkin ada cerita yang belum menemukan ruang untuk diceritakan.

Dan terkadang, pertanyaan terbaik bukan hanya “Kamu baik-baik saja?”
Tetapi juga, “Aku di sini kalau kamu mau cerita.

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore