Logo JawaPos
Author avatar - Image
28 Februari 2026, 20.06 WIB

Jika Anda Ingin Merasa Lebih Dihargai oleh Keluarga Seiring Bertambahnya Usia, Ucapkan Selamat Tinggal pada 9 Perilaku Ini Menurut Psikologi

seseorang yang lebih dihargai oleh keluarga seiring bertambahnya usia


JawaPos.com - Seiring bertambahnya usia, banyak orang berharap satu hal sederhana: dihargai. Bukan hanya didengar, tetapi benar-benar dihormati, dipertimbangkan, dan dianggap berarti oleh keluarga sendiri.

Namun rasa dihargai tidak datang secara otomatis bersama usia. Dalam psikologi hubungan keluarga, penghargaan lahir dari pola interaksi yang sehat, sikap yang matang secara emosional, dan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan zaman.

Tanpa sadar, ada beberapa perilaku yang justru membuat seseorang semakin dijauhkan secara emosional oleh anak, pasangan, atau anggota keluarga lain. 

 
Dilansir dari Silicon Canals pada Jumat (27/2), jika Anda ingin tetap dihormati dan dicintai seiring waktu, mungkin inilah saatnya mengucapkan selamat tinggal pada sembilan perilaku berikut.
 
Baca Juga: Orang-orang yang Paling Tulus Disukai, Biasanya Mempraktikkan 7 Perilaku Ini Menurut Psikologi

1. Terlalu Sering Mengkritik


Kritik yang terus-menerus — bahkan jika dimaksudkan sebagai nasihat — dapat membuat anggota keluarga merasa tidak pernah cukup baik.

Dalam psikologi, kritik berlebihan memicu respons defensif. Alih-alih mendekat, orang justru menjaga jarak untuk melindungi harga diri mereka.

Yang bisa dilakukan:

Ganti kritik dengan pertanyaan.

Berikan apresiasi sebelum memberi masukan.

Pilih momen yang tepat.

Ingat, orang dewasa ingin dihormati pilihannya, bukan selalu dikoreksi.

2. Merasa Paling Benar Karena Lebih Tua


Usia memang membawa pengalaman. Namun pengalaman bukan berarti kebenaran mutlak.

Ketika seseorang selalu menggunakan kalimat seperti:

“Zaman dulu tidak seperti itu.”

“Kamu harusnya dengar orang tua.”

Itu bisa menciptakan jarak generasi.

Psikologi perkembangan menunjukkan bahwa setiap generasi tumbuh dalam konteks sosial yang berbeda. Menghargai perbedaan sudut pandang membuat Anda terlihat bijaksana, bukan otoriter.

3. Sulit Meminta Maaf

Banyak orang merasa meminta maaf berarti kehilangan wibawa. Padahal justru sebaliknya.

Kemampuan mengakui kesalahan menunjukkan kematangan emosional. Dalam keluarga, permintaan maaf yang tulus memperkuat rasa aman dan kepercayaan.

Kalimat sederhana seperti:

“Ayah/Ibu salah tadi, maaf ya.”

bisa sangat bermakna dan meningkatkan rasa hormat dari anak-anak maupun pasangan.

4. Terlalu Mengontrol Kehidupan Anak yang Sudah Dewasa


Naluri ingin melindungi memang kuat. Namun mengontrol keputusan anak yang sudah dewasa — tentang karier, pasangan, pola asuh, atau gaya hidup — sering kali menimbulkan konflik.

Menurut teori otonomi dalam psikologi, setiap individu memiliki kebutuhan dasar untuk merasa memiliki kendali atas hidupnya sendiri. Jika kebutuhan ini dihambat, hubungan akan renggang.

Peran orang tua berubah seiring waktu:

Dari pengarah utama

Menjadi penasihat yang diminta

Perubahan ini penting untuk diterima.

5. Bermain sebagai “Korban”


Menggunakan kalimat seperti:

“Sekarang kamu sudah tidak butuh orang tua.”

“Dulu saya berkorban banyak, sekarang dilupakan.”

dapat menimbulkan rasa bersalah, bukan rasa hormat.

Psikologi relasi menunjukkan bahwa manipulasi emosional (meski halus) akan melelahkan pihak lain. Lama-kelamaan, mereka akan menjauh demi menjaga kesehatan mentalnya.

Hubungan yang sehat dibangun dari komunikasi terbuka, bukan rasa bersalah.

6. Tidak Mau Beradaptasi dengan Perubahan


Perubahan teknologi, gaya komunikasi, dan pola pikir generasi muda bisa terasa asing. Namun menolak semuanya mentah-mentah dapat menciptakan kesan kaku dan sulit diajak berdialog.

Anda tidak harus menyukai semuanya. Tetapi bersikap terbuka dan mau belajar memberi pesan kuat bahwa Anda menghargai dunia mereka.

Fleksibilitas adalah salah satu ciri kecerdasan emosional yang tinggi.

7. Membanding-bandingkan


“Mengapa kamu tidak seperti kakakmu?”
“Anak tetangga sudah sukses, kamu kapan?”

Perbandingan merusak harga diri dan memicu rasa tidak pernah cukup.

Dalam psikologi sosial, perbandingan yang merendahkan memperlemah ikatan emosional. Anak atau pasangan akan merasa dicintai secara bersyarat.

Setiap individu ingin diterima apa adanya, bukan diukur dari standar orang lain.

8. Menutup Diri Secara Emosional

Sebagian orang dari generasi lama diajarkan untuk tidak menunjukkan emosi. Namun sikap terlalu tertutup dapat membuat keluarga merasa jauh.

Mengungkapkan perasaan seperti:

“Ayah sebenarnya khawatir.”

“Ibu bangga padamu.”

menciptakan koneksi emosional yang kuat.

Kerentanan bukan tanda kelemahan. Justru itulah jembatan kedekatan.

9. Mengharapkan Penghargaan Tanpa Memberi Penghargaan


Rasa dihargai bersifat timbal balik.

Jika Anda ingin didengar, dengarkan.
Jika ingin dihormati, hormati.
Jika ingin diprioritaskan, prioritaskan juga.

Psikologi hubungan menunjukkan bahwa penghargaan tumbuh dalam sistem yang saling menguatkan, bukan satu arah.

Mengapa Perubahan Ini Penting?

Seiring bertambahnya usia, kebutuhan emosional berubah. Banyak orang menginginkan:

Kedekatan yang tulus

Rasa dibutuhkan

Kehangatan keluarga

Pengaruh yang tetap bermakna

Namun penghargaan tidak dibangun dari posisi kekuasaan, melainkan dari kualitas hubungan.

Ketika Anda:

Lebih mendengarkan

Lebih fleksibel

Lebih empatik

Lebih rendah hati

Anda tidak kehilangan wibawa. Anda justru mendapatkan penghormatan yang lebih dalam dan tulus.

Penutup: Dihargai Itu Soal Koneksi, Bukan Usia


Usia bisa membuat seseorang lebih berpengalaman. Tetapi yang membuat seseorang dihargai adalah kebijaksanaan dalam bersikap.

Mengucapkan selamat tinggal pada sembilan perilaku di atas bukan berarti mengubah siapa diri Anda. Itu berarti bertumbuh — seperti yang selalu Anda harapkan dari anak-anak Anda.***

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore