Logo JawaPos
Author avatar - Image
28 Februari 2026, 20.17 WIB

Jika Anda Memposting 7 Hal Ini di Media Sosial, Anda Sedang Mengungkapkan Rasa Tidak Aman Anda Menurut Psikologi

seseorang yang merasa tidak aman


JawaPos.com - Di era digital, media sosial bukan sekadar tempat berbagi momen. Ia telah menjadi panggung identitas, ruang validasi, sekaligus cermin kondisi psikologis kita. Banyak orang merasa bahwa apa yang mereka unggah hanyalah ekspresi diri biasa. Namun menurut berbagai kajian dalam psikologi sosial dan klinis, pola unggahan tertentu bisa mencerminkan rasa tidak aman (insecurity) yang lebih dalam.

Rasa tidak aman sendiri sering berkaitan dengan harga diri rendah, kebutuhan validasi eksternal, kecemasan sosial, dan perbandingan sosial yang berlebihan—konsep yang pernah dijelaskan dalam teori social comparison oleh Leon Festinger.

Dilansir dari SIlicon Canals pada Jumat (27/2), terdapat tujuh jenis unggahan yang, jika dilakukan secara berlebihan dan konsisten, dapat mengindikasikan adanya rasa tidak aman menurut perspektif psikologi.

Baca Juga: Jika Anda Ingin Merasa Lebih Dihargai oleh Keluarga Seiring Bertambahnya Usia, Ucapkan Selamat Tinggal pada 9 Perilaku Ini Menurut Psikologi

1. Terlalu Sering Pamer Pencapaian Secara Berlebihan


Membagikan pencapaian adalah hal yang wajar. Namun jika setiap unggahan selalu berfokus pada prestasi, promosi jabatan, barang mewah, atau pencapaian finansial dengan nada kompetitif, itu bisa menjadi bentuk kompensasi psikologis.

Menurut psikolog Alfred Adler, manusia memiliki kecenderungan untuk mengompensasi perasaan inferioritas dengan menunjukkan superioritas. Jika dorongan untuk terlihat “lebih sukses” datang dari kebutuhan untuk merasa cukup berharga, maka itu bukan lagi sekadar berbagi kabar baik—melainkan usaha mencari validasi.

Tanda yang perlu diperhatikan:

Gelisah jika unggahan tidak mendapat cukup likes

Membandingkan jumlah interaksi dengan orang lain

Merasa kecewa berlebihan terhadap respons audiens

2. Mengunggah Foto yang Sangat Difilter dan Tidak Realistis


Mengedit foto agar terlihat lebih cerah atau rapi adalah hal biasa. Namun jika hampir semua foto dimanipulasi secara ekstrem hingga jauh dari realitas, ini bisa berkaitan dengan ketidakpuasan terhadap citra diri.

Penelitian tentang body image menunjukkan bahwa paparan standar kecantikan yang tidak realistis di media sosial dapat meningkatkan rasa tidak aman terhadap tubuh sendiri. Individu yang terus-menerus menyempurnakan citra visualnya mungkin sedang berusaha menutupi rasa tidak percaya diri.

3. Status yang Secara Tidak Langsung Meminta Perhatian

Contohnya:

“Ya sudahlah, ternyata aku memang nggak pernah dianggap.”

“Capek jadi orang baik.”

Unggahan seperti ini sering disebut sebagai vaguebooking—status samar yang memancing orang untuk bertanya. Secara psikologis, ini bisa mencerminkan kebutuhan akan perhatian dan kepastian emosional dari orang lain.

Alih-alih mengkomunikasikan kebutuhan secara langsung, seseorang berharap orang lain akan mendekat dan memberikan dukungan. Pola ini sering muncul pada individu dengan kecemasan relasional atau anxious attachment.

4. Terlalu Sering Mengunggah Kemesraan Hubungan

Berbagi kebahagiaan bersama pasangan itu normal. Namun jika hampir setiap hari berisi deklarasi cinta berlebihan, ada kemungkinan itu menjadi bentuk pembuktian—bukan hanya kepada orang lain, tetapi kepada diri sendiri.

Studi tentang dinamika hubungan menunjukkan bahwa pasangan yang terlalu sering memamerkan hubungan mereka di media sosial terkadang memiliki tingkat kepuasan relasi yang lebih rendah dibandingkan yang lebih privat. Mereka mungkin mencoba meyakinkan diri bahwa hubungan tersebut baik-baik saja.

5. Menyerang atau Merendahkan Orang Lain Secara Terbuka


Mengkritik dengan sehat berbeda dengan merendahkan. Jika seseorang sering memposting sindiran, ejekan, atau komentar meremehkan terhadap kelompok tertentu, ini bisa menjadi mekanisme pertahanan diri.

Menurut teori mekanisme pertahanan dalam psikoanalisis (yang dipopulerkan oleh Sigmund Freud), individu kadang memproyeksikan rasa tidak nyaman dalam dirinya ke orang lain. Dengan merendahkan orang lain, ia untuk sementara merasa lebih unggul.

6. Terlalu Transparan tentang Masalah Pribadi yang Sangat Intim

Kejujuran itu sehat. Namun oversharing yang terus-menerus mengenai konflik keluarga, masalah keuangan, atau detail pertengkaran pribadi bisa menunjukkan kebutuhan akan dukungan emosional yang tidak terpenuhi di dunia nyata.

Media sosial lalu menjadi tempat pelampiasan emosi. Jika setiap masalah langsung diumumkan secara publik, mungkin ada kesulitan dalam membangun sistem dukungan yang aman secara langsung.

7. Terobsesi dengan Angka: Likes, Followers, dan Views

Ketika nilai diri mulai ditentukan oleh metrik digital, ini menjadi sinyal kuat adanya ketergantungan pada validasi eksternal.

Konsep harga diri kontingen menjelaskan bahwa sebagian orang menilai diri mereka berdasarkan penerimaan sosial. Jika angka turun, mood ikut turun. Jika angka naik, rasa percaya diri melonjak. Pola ini menciptakan siklus emosional yang tidak stabil.

Mengapa Kita Melakukannya?


Rasa tidak aman adalah bagian alami dari pengalaman manusia. Media sosial hanya memperbesar panggungnya. Platform digital dirancang untuk memberi umpan balik instan—yang secara neurologis mengaktifkan sistem dopamin di otak. Kita menjadi terbiasa mencari pengakuan.

Namun penting dipahami: tidak semua orang yang memposting hal-hal di atas pasti tidak aman. Konteks, frekuensi, dan motivasi internal sangat menentukan.

Yang menjadi perhatian adalah ketika:

Harga diri sangat bergantung pada respons online

Ada kecemasan ekstrem jika tidak aktif di media sosial

Identitas diri terasa kabur tanpa validasi digital

Refleksi: Apakah Anda Berbagi atau Mencari Pengakuan?


Pertanyaan sederhana yang bisa diajukan sebelum memposting sesuatu:

Jika tidak ada yang melihat unggahan ini, apakah saya tetap ingin melakukannya?

Apakah saya membagikan ini karena bahagia, atau karena ingin diakui?

Apakah saya nyaman jika tidak mendapat respons?

Kesadaran diri adalah langkah pertama menuju kesehatan psikologis yang lebih baik.

Penutup

Media sosial bukan musuh. Ia hanyalah alat. Namun cara kita menggunakannya bisa menjadi cermin kondisi batin kita sendiri.

Rasa tidak aman bukan kelemahan—itu sinyal bahwa ada kebutuhan emosional yang belum terpenuhi. Alih-alih menutupinya dengan unggahan yang penuh pencitraan, jauh lebih sehat untuk membangun harga diri dari dalam: melalui hubungan nyata, penerimaan diri, dan pertumbuhan pribadi.

Karena pada akhirnya, kepercayaan diri sejati tidak membutuhkan panggung—ia tumbuh dalam keheningan dan konsistensi.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore