Logo JawaPos
Author avatar - Image
16 Oktober 2025, 23.38 WIB

Kenali Penyebab Hormonal Belly dan Cara Mengatasi Kelebihan Lemak di Perut Akibat Gangguan Hormon

Hormonal belly (Dok. Freepik)

JawaPos.com - Tidak semua penambahan berat badan di area perut disebabkan oleh pola makan atau kurangnya aktivitas fisik. Dalam beberapa kasus, penyebabnya justru berasal dari ketidakseimbangan hormon di dalam tubuh. Kondisi inilah yang sering disebut sebagai "hormonal belly" atau perut hormonal, di mana perubahan kadar hormon tertentu menyebabkan tubuh menyimpan lemak berlebih di area perut. Fenomena ini bisa terjadi pada siapa pun, baik pria maupun wanita, dan sering kali menjadi tanda adanya gangguan kesehatan yang mendasarinya.

Melansir dari Medical News Today, perut hormonal bukanlah penyakit tersendiri, melainkan gejala yang menunjukkan adanya ketidakseimbangan hormon dalam tubuh. Hormon berperan penting dalam mengatur metabolisme, pembakaran energi, hingga distribusi lemak. Ketika salah satu hormon terganggu, tubuh dapat salah menafsirkan sinyal energi dan mulai menimbun lemak, terutama di area perut. Padahal, sedikit lemak di bagian ini sebenarnya normal dan diperlukan untuk melindungi organ dalam.

Namun, ketika penambahan lemak di perut terjadi tanpa sebab yang jelas (misalnya tanpa perubahan pola makan atau aktivitas fisik), hal tersebut dapat mengindikasikan adanya masalah hormonal. Ketidakseimbangan ini bisa dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari gangguan tiroid, stres berkepanjangan, hingga perubahan hormon seks akibat penuaan atau kondisi medis tertentu.

Ketika Hormon Mengacaukan Metabolisme Tubuh

Salah satu penyebab paling umum dari perut hormonal adalah gangguan pada kelenjar tiroid. Tiroid yang kurang aktif atau dikenal dengan istilah hipotiroidisme menyebabkan metabolisme tubuh melambat. Akibatnya, kalori tidak terbakar secara efisien, dan berat badan pun mudah naik. 

Menariknya, kenaikan berat badan pada hipotiroidisme sering kali bukan hanya karena lemak, tetapi juga akibat penumpukan garam dan air. Pengobatan dengan hormon sintetis seperti levothyroxine dapat membantu mengembalikan kadar hormon ke tingkat normal dan menstabilkan berat badan.

Selain tiroid, hormon kortisol juga memiliki peran besar dalam pembentukan lemak di perut. Hormon ini dilepaskan tubuh saat seseorang mengalami stres. Dalam jangka pendek, kortisol membantu tubuh menghadapi tekanan. Namun, stres kronis membuat kadar kortisol terus tinggi sehingga tubuh “menyimpan” energi dalam bentuk lemak, terutama di area perut. Kondisi ekstrem dari kelebihan kortisol bahkan dapat berkembang menjadi sindrom Cushing, yang ditandai dengan penumpukan lemak di sekitar bahu dan leher, otot melemah, serta kulit mudah memar.

Ada pula peran hormon leptin yang dihasilkan oleh sel-sel lemak. Normalnya, leptin mengirimkan sinyal ke otak bahwa tubuh sudah kenyang. Namun pada orang dengan kadar lemak tubuh tinggi, sinyal ini sering kali tidak berfungsi dengan baik. Fenomena ini disebut resistensi leptin, di mana otak tidak lagi merespons sinyal kenyang, sehingga seseorang terus merasa lapar dan makan berlebihan. Para ahli menduga bahwa genetika dan peradangan dalam tubuh turut berkontribusi terhadap kondisi ini.

Ketidakseimbangan Hormon pada Pria dan Wanita

Pada pria, perut hormonal sering kali berkaitan dengan penurunan kadar testosteron. Hormon ini tidak hanya penting untuk fungsi seksual, tetapi juga berperan dalam pembentukan otot dan pengaturan metabolisme lemak. Seiring bertambahnya usia, kadar testosteron alami cenderung menurun, menyebabkan penurunan massa otot dan peningkatan lemak tubuh, terutama di area perut. 

Dalam beberapa kasus, defisiensi testosteron juga bisa disebabkan oleh penyakit tertentu, infeksi, atau kerusakan pada kelenjar penghasil hormon. Terapi pengganti testosteron dan perubahan gaya hidup sehat dapat membantu mengatasi kondisi ini.

Menariknya, hormon estrogen yang umumnya dikenal sebagai hormon perempuan juga berperan dalam tubuh pria. Baik kadar estrogen yang terlalu rendah maupun terlalu tinggi dapat menyebabkan gangguan metabolisme dan penumpukan lemak di perut. Beberapa studi menemukan bahwa pria di bawah usia 60 tahun dengan kadar estrogen tinggi lebih rentan mengalami obesitas sentral atau penimbunan lemak di perut. Dokter biasanya akan menyesuaikan terapi sesuai kondisi kadar hormon pasien.

Sementara pada wanita, penyebab utama perut hormonal sering kali berkaitan dengan sindrom ovarium polikistik (PCOS). Kondisi ini menyebabkan kadar hormon androgen atau hormon laki-laki meningkat, sementara sensitivitas terhadap insulin menurun. 

Kombinasi keduanya memicu peningkatan berat badan dan kesulitan menurunkan lemak, khususnya di perut. Pengobatan PCOS biasanya melibatkan terapi hormon untuk menurunkan kadar androgen, obat seperti metformin untuk memperbaiki sensitivitas insulin, serta perubahan pola makan dan aktivitas fisik.

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore