
Ilustrasi seseorang mengalami osteoporosis (Dok. Freepik)
JawaPos.com - Kesehatan tulang merupakan aspek penting yang sering terabaikan dalam kehidupan sehari-hari, padahal tulang yang kuat menjadi pondasi utama bagi mobilitas dan kualitas hidup seseorang.Seiring bertambahnya usia, risiko mengalami gangguan kesehatan tulang semakin meningkat, dan salah satu kondisi yang paling umum adalah osteoporosis. Namun, ternyata kondisi ini tidak hanya menyerang lansia, tetapi juga dapat dialami oleh kelompok usia yang lebih muda jika memiliki faktor risiko tertentu.
Osteoporosis sendiri adalah kondisi medis yang ditandai dengan menurunnya kepadatan dan kualitas tulang, sehingga tulang menjadi rapuh dan mudah patah. Istilah osteoporosis berasal dari bahasa Latin yang berarti "tulang berpori", menggambarkan struktur tulang yang menjadi keropos seperti spons.
Pada kondisi normal, tubuh terus-menerus melakukan proses pembentukan dan penguraian tulang untuk menjaga kekuatan dan kesehatan tulang. Namun, pada penderita osteoporosis, proses penguraian tulang terjadi lebih cepat daripada pembentukan tulang baru, sehingga menyebabkan tulang kehilangan kepadatannya dan menjadi lebih rentan terhadap patah tulang.
Salah satu hal yang membuat osteoporosis berbahaya adalah kondisi ini sering kali tidak menunjukkan gejala pada tahap awal, sehingga dijuluki sebagai "silent disease" atau penyakit diam-diam. Banyak penderita baru menyadari mereka mengalami osteoporosis setelah mengalami patah tulang akibat benturan ringan atau bahkan aktivitas sehari-hari biasa.
Beberapa gejala yang mungkin dirasakan antara lain nyeri punggung yang disebabkan oleh tulang belakang yang retak atau kolaps, postur tubuh yang membungkuk, serta tinggi badan yang berkurang seiring waktu. Selain itu, tulang yang mudah patah bahkan hanya dengan trauma minimal juga dapat menjadi tanda peringatan yang perlu diwaspadai.
Osteoporosis umumnya terjadi karena kemampuan tubuh dalam meregenerasi tulang mengalami penurunan, sehingga kepadatan tulang perlahan berkurang. Penurunan kemampuan regenerasi ini umumnya dimulai ketika seseorang memasuki usia 35 tahun, di mana proses pembentukan tulang baru tidak lagi secepat proses penguraian tulang lama. Seiring bertambahnya usia, ketidakseimbangan ini semakin signifikan dan menyebabkan tulang kehilangan massa serta kekuatannya secara bertahap.
Namun, faktor usia bukanlah satu-satunya penyebab osteoporosis, karena ada berbagai faktor lain yang juga berkontribusi terhadap risiko terkena kondisi ini. Untuk itu, Kementerian Kesehatan turut menyoroti beberapa faktor risiko lainnya.
Wanita memiliki risiko lebih tinggi terkena osteoporosis, terutama mereka yang sudah mengalami menopause karena penurunan hormon estrogen yang berperan penting dalam menjaga kepadatan tulang. Penurunan kadar hormon testosteron pada pria juga dapat meningkatkan risiko osteoporosis. Riwayat keluarga dengan osteoporosis juga menjadi faktor genetik yang tidak bisa diabaikan.
Kondisi medis seperti sindrom Cushing, hiperparatiroidisme, atau gangguan kelenjar pituitari dapat memengaruhi keseimbangan hormon yang mengatur metabolisme tulang. Gangguan makan seperti anoreksia nervosa juga dapat menyebabkan kekurangan nutrisi yang diperlukan untuk kesehatan tulang. Kondisi-kondisi ini mengganggu proses normal pembentukan dan pemeliharaan tulang dalam tubuh.
Asupan vitamin D dan kalsium yang tidak mencukupi merupakan faktor risiko utama osteoporosis karena kedua nutrisi ini esensial untuk pembentukan dan pemeliharaan tulang. Gangguan pencernaan seperti malabsorpsi atau penyakit Crohn dapat menghambat penyerapan nutrisi penting ini meskipun asupan makanan sudah cukup. Tubuh memerlukan kalsium untuk membangun tulang kuat, sementara vitamin D membantu tubuh menyerap kalsium dengan efektif.
Konsumsi kortikosteroid dalam jangka panjang dapat mempercepat kehilangan massa tulang dan meningkatkan risiko osteoporosis. Beberapa obat lain yang digunakan untuk kondisi medis tertentu juga dapat memiliki efek samping yang merugikan kesehatan tulang. Penting untuk berkonsultasi dengan dokter mengenai risiko ini jika kamu harus menggunakan obat-obatan tersebut dalam jangka waktu lama.
Gaya hidup yang tidak aktif dan kurang bergerak dapat menyebabkan tulang kehilangan kekuatannya karena tulang memerlukan beban dan tekanan untuk tetap kuat. Kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol berlebihan juga terbukti dapat merusak kesehatan tulang dan mempercepat kehilangan kepadatan tulang. Aktivitas fisik teratur, terutama latihan beban, sangat penting untuk mempertahankan dan meningkatkan kepadatan tulang.
Penyakit-penyakit seperti cystic fibrosis, hemofilia, hemokromatosis, leukemia, atau penyakit Parkinson dapat meningkatkan risiko osteoporosis melalui berbagai mekanisme. Beberapa kondisi ini dapat memengaruhi metabolisme tulang secara langsung, sementara yang lain dapat membatasi aktivitas fisik atau memengaruhi penyerapan nutrisi. Pasien dengan kondisi medis ini perlu mendapatkan pemantauan kesehatan tulang secara berkala.
Cara Mengatasi Osteoporosis
Meskipun osteoporosis merupakan kondisi yang serius, ada beberapa pilihan pengobatan yang dapat membantu memperlambat pengeroposan tulang dan mengurangi risiko patah tulang. Penanganan yang tepat dan dimulai sedini mungkin dapat membuat perbedaan signifikan dalam kualitas hidup penderita.
John Herdman Full Senyum! 2 Pemain Timnas Indonesia, Kevin Diks dan Justin Hubner Cetak Gol di Eropa
Resep Strawberry Cheese Milk, Ide Jualan Takjil Ramadhan yang Segar dan Potensial Laris
Sriwijaya FC Resmi Degradasi ke Liga Nusantara, Ini Deretan Prestasi Laskar Wong Kito
Polemik Panas Terkait Musala di Bekasi Sampai ke DPR, Kini Berakhir Damai
Super Komputer Opta Prediksi 8 Tim yang Lolos Perempat Final Liga Champions UEFA
Resep Bakwan Goreng Ayam Halal, Ide Takjil Gurih yang Bikin Nagih
Rosenior Siap Hadapi PSG, Duel yang Menarik di Babak 16 Besar Liga Champions
Iran Konfirmasi Kematian Pemimpin Tertinggi Negaranya, Ayatollah Ali Khamenei, Usai Serangan Gabungan AS‑Israel
Cedera Frenkie de Jong, Barcelona Hadapi Tantangan Besar!
