Logo JawaPos
Author avatar - Image
27 Oktober 2025, 16.13 WIB

Bukan Malnutrisi! Foto Anak-Anak dengan Kaki Kurus di Media Sosial Ternyata Polio, Kenali Gejala dan Penanganannya

lustrasi anak yang sedang mendapatkan pemeriksaan oleh tenaga medis. (Freepik)

 
JawaPos.com - Sebagian dari kita mungkin pernah melihat foto-foto di media sosial atau internet yang menampilkan anak-anak dengan kaki yang sangat kurus hingga hanya terlihat seperti tinggal tulang yang dibalut kulit. Foto seperti ini kerap kali menyayat hati dan mimicu simpati banyak orang. Namun, sayangnya tidak semua orang menyadari bahwa kondisi tersebut merupakan dampak dari penyakit polio. 
 
Polio sendiri merupakan penyakit yang berasal dari infeksi virus yang menyerang sistem saraf dan dapat menyebabkan kelumpuhan permanen. Kaki kurus kering seperti yang sering kita lihat di foto-foto tersebut adalah hasil dari kelumpuhan dan atrofi otot yang terjadi ketika virus menyerang saraf motorik.
 
Meskipun kasus polio telah menurun drastis berkat program vaksinasi masif yang dilakukan secara global, kita tetap harus memahami penyakit ini karena jika masih ada satu anak yang mengidap virus tersebut. Oleh karenanya, bukan tidak mungkin virus ini dapat menyebar ke anak lainnya. Virus polio sendiri dapat menular dan menyebar melalui kontak langsung dengan orang yang terinfeksi atau melalui makanan dan air yang terkontaminasi.

Seperti yang disebutkan sebelumnya, bahwa penyakit ini disebabkan oleh virus, yaitu poliovirus,  yang termasuk dalam keluarga enterovirus dan memiliki tiga jenis serotipe berbeda. Virus ini akan masuk ke dalam tubuh melalui mulut, kemudian berkembang biak di tenggorokan dan saluran pencernaan sebelum masuk ke aliran darah.

Dalam kondisi tertentu, virus dapat menyerang sistem saraf pusat dan menyebabkan kerusakan permanen pada sel-sel saraf yang mengontrol gerakan otot. Tidak hanya itu, penyakit polio akan sangat berbahaya karena kemampuannya untuk menyebar dengan cepat di lingkungan dengan sanitasi yang buruk dan tingkat vaksinasi yang rendah.

Gejala polio sangat bervariasi dan dapat dibagi menjadi beberapa kategori berdasarkan tingkat keparahannya. Dilansir dari Healthline, diperkirakan 95 hingga 99 persen orang yang terinfeksi poliovirus tidak menunjukkan gejala sama sekali, kondisi yang dikenal sebagai polio subklinis.

Meskipun tanpa gejala, orang yang terinfeksi tetap dapat menyebarkan virus dan menyebabkan infeksi pada orang lain. Hal ini menjadikan polio sangat berbahaya karena penyebarannya bisa terjadi tanpa disadari. Berikut ini beberapa jenis polio dan gejalanya yang perlu kamu ketahui:

1. Polio Non-Paralitik (Polio Abortif)

Pada polio non-paralitik gejalanya dapat berlangsung selama satu hingga sepuluh hari dengan karakteristik yang hampir mirip seperti flu biasa. Gejala yang muncul meliputi demam tinggi, sakit tenggorokan, sakit kepala yang intens, muntah-muntah, kelelahan ekstrem, dan meningitis atau peradangan pada selaput otak.

Kondisi ini juga dikenal dengan istilah polio abortif karena infeksi berhenti pada tahap ini dan tidak berkembang menjadi kelumpuhan, sehingga pasien biasanya pulih sepenuhnya tanpa komplikasi permanen.

2. Polio Paralitik

Menurut Healthline, sekitar satu persen kasus polio dapat berkembang menjadi polio paralitik yang jauh lebih serius dan berbahaya. Polio paralitik menyebabkan kelumpuhan pada sumsum tulang belakang yang disebut polio spinal, batang otak yang dikenal sebagai polio bulbar, atau keduanya sekaligus yang disebut polio bulbospinal.

Gejala awal mirip dengan polio non-paralitik, namun setelah sekitar seminggu akan muncul gejala yang lebih parah dan mengkhawatirkan. Adapun gejala polio paralitik yang lebih berat meliputi:

  • Hilangnya refleks tubuh secara tiba-tiba.
  • Kejang dan nyeri otot yang sangat hebat.
  • Anggota tubuh menjadi lemah dan lemas seperti tidak memiliki tenaga dan kadang hanya terjadi pada satu sisi tubuh saja.
  • Kelumpuhan mendadak yang bisa bersifat sementara atau sayangnya permanen.
  • Kelainan bentuk anggota tubuh terutama pada area pinggul, pergelangan kaki, dan kaki.

Selain itu dapat juga terjadi kelumpuhan total yang jarang terjadi, dimana kurang dari satu persen dari semua kasus polio yang mengakibatkan kelumpuhan permanen. Namun pada 5 hingga 10 persen kasus polio paralitik, virus dapat menyerang otot-otot yang membantu pernapasan dan menyebabkan kematian.

3. Sindrom Pasca-Polio

Setelah kamu pulih total dari penyakit ini, ternyata polio masih dapat kembali menyerang. Di mana ini biasanya terjadi setelah 15 hingga 40 tahun kemudian. Gejala umum yang mungkin muncul ketika sindrom pasca-polio ini menyerang meliputi:

  • Kelemahan otot dan sendi yang terus berlanjut dan tidak membaik.
  • Nyeri otot yang semakin memburuk seiring waktu.
  • Mudah lelah atau kelelahan bahkan setelah aktivitas ringan.
  • Penyusutan otot atau atrofi yang membuat otot semakin mengecil.
  • Kesulitan bernapas dan menelan makanan.
  • Mengalami sleep apnea atau gangguan pernapasan saat tidur.
  • Lebih rentan terhadap suhu dingin yang membuat penderita mudah kedinginan.
  • Munculnya kelemahan baru pada otot yang sebelumnya tidak terlibat atau terpengaruh.
  • Depresi akibat kondisi yang menurun.
  • Mengalami gangguan konsentrasi dan memori yang mempengaruhi aktivitas sehari-hari.

Gejala-gejala ini menunjukan betapa seriusnya dampak virus polio, dari yang tanpa gejala, kelumpuhan permanen, hingga kematian. Sayangnya, menurut World Health Organization (WHO), tidak ada obat untuk mengobati polio secara keseluruhan, namun penyakit ini dapat dicegah melalui vaksinasi. Vaksin tersedia dalam dua jenis yaitu vaksin polio oral dan vaksin polio inaktif, yang mana keduanya sama-sama efektif dan aman untuk diberikan.

Editor: Siti Nur Qasanah
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore