Logo JawaPos
Author avatar - Image
13 November 2025, 18.24 WIB

Sering Alami Mual dan Pusing di Perjalanan? Kenali Ini Dia Penjelasan tentang Motion Sickness

Ilustrasi ketika kamu mengalami motion sickness. (Hello Sehat) - Image

Ilustrasi ketika kamu mengalami motion sickness. (Hello Sehat)

JawaPos.com - Pernahkah kamu tiba-tiba merasa pusing dan mual saat sedang dalam perjalanan jauh? Mungkin saat kamu sedang asyik duduk di kursi belakang mobil, lalu tanpa peringatan kepala mulai berputar dan perut terasa bergejolak atau saat naik kapal laut, tiba-tiba keringat dingin mulai bercucuran dan tubuh terasa sangat tidak nyaman. Pengalaman seperti ini sebenarnya sangat umum terjadi dan dialami oleh jutaan orang di seluruh dunia, terutama saat menggunakan berbagai jenis transportasi.

Sebenarnya kondisi yang kamu alami tersebut dikenal sebagai motion sickness atau mabuk perjalanan, di mana ini merupakan gangguan kesehatan yang terjadi ketika tubuh merasakan gerakan tetapi sistem sensorik memberikan sinyal yang bertentangan ke otak. Motion sickness dapat terjadi pada berbagai situasi, mulai dari perjalanan dengan mobil, kapal laut, pesawat terbang, hingga saat menaiki wahana di taman hiburan. Intensitas gejala yang dialami setiap orang pun dapat berbeda-beda, mulai dari ketidaknyamanan ringan hingga mual yang sangat parah.

Mengenai kondisi ini, Cleveland Clinic turut menjelaskan bahwa motion sickness terjadi karena otak menerima pesan yang saling bertentangan dari berbagai bagian tubuh yang mendeteksi gerakan, seperti mata, telinga bagian dalam, serta otot dan persendian. Berikut ini penjelasan mengenai proses terjadinya motion sickness menurut Cleveland Clinic.

1. Sinyal Visual dari Mata

Ketika kamu berada dalam kendaraan yang bergerak, mata menangkap pergerakan objek-objek di luar seperti pohon, rambu lalu lintas, dan bangunan yang terus berganti posisi. Mata mengirimkan sinyal ke otak bahwa tubuh sedang bergerak atau berpindah tempat. Informasi visual ini menjadi salah satu komponen penting dalam sistem keseimbangan tubuh yang kompleks.

2. Sinyal dari Telinga Bagian Dalam dan Proprioseptor

Di sisi lain, telinga bagian dalam yang berfungsi sebagai organ keseimbangan, serta ujung saraf di otot dan persendian, mendeteksi bahwa tubuh sebenarnya dalam posisi diam atau duduk. Sistem vestibular di telinga dalam tidak merasakan gerakan signifikan karena tubuh tidak benar-benar berpindah posisi secara fisik. Sinyal dari sistem proprioseptif ini memberitahu otak bahwa tidak ada pergerakan aktif yang terjadi pada tubuh.

3. Konflik Informasi di Otak

Otak mengalami kebingungan karena menerima dua informasi yang saling kontradiktif dari sistem sensorik yang berbeda. Ketidakmampuan otak untuk memproses dan merekonsiliasi pesan-pesan yang bertentangan ini memicu respons fisiologis berupa mual, pusing, dan keringat dingin. Kondisi ini adalah mekanisme pertahanan tubuh yang sebenarnya berusaha melindungi diri dari apa yang dianggap sebagai ancaman atau keracunan.

Adapun gejala motion sickness yang dapat muncul secara tiba-tiba tanpa peringatan dan tingkat keparahannya bervariasi pada setiap individunya. Beberapa orang mungkin hanya merasakan ketidaknyamanan ringan, sementara yang lain mengalami gejala yang sangat mengganggu hingga harus menghentikan perjalanan. Gejala yang umum dialami penderita motion sickness meliputi:

  • Pusing
  • Keringat dingin
  • Mual
  • Pucat
  • Air liur berlebihan
  • Sakit kepala
  • Muntah
  • Sulit berkonsentrasi
  • Kelelahan

Tidak hanya itu, bahkan dalam kasus yang lebih serius, gejala dapat berkembang menjadi hiperventilasi disertai kecemasan yang intens. Kondisi ini dapat sangat memengaruhi kemampuan seseorang untuk melanjutkan perjalanan dengan nyaman.

Meskipun motion sickness dapat dialami siapa saja, ada kelompok tertentu yang memiliki risiko lebih tinggi mengalami kondisi ini. Dilansir dari Cleveland Clinic, anak-anak berusia 2 hingga 12 tahun lebih rentan mengalami mabuk perjalanan dibandingkan orang dewasa, meskipun banyak orang yang tetap mengalaminya hingga usia lanjut.

Beberapa faktor risiko yang meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami motion sickness meliputi:

  • Riwayat keluarga dengan motion sickness.
  • Gangguan telinga bagian dalam seperti benign paroxysmal positional vertigo (BPPV).
  • Sedang dalam periode menstruasi atau hamil.
  • Menderita migrain atau penyakit Parkinson.

Dengan memahami faktor risiko ini, kamu dapat mengantisipasi dan mempersiapkan diri dengan lebih baik sebelum melakukan perjalan walaupun sebelumnya tidak pernah mengalami motion sickness. Meski begitu, kabar baiknya motion sickness sebenarnya dapat dicegah atau setidaknya diminimalkan dengan berbagai cara sederhanam, yakni:

1. Konsumsi Makanan Ringan Sebelum Berangkat

Editor: Siti Nur Qasanah
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore