Logo JawaPos
Author avatar - Image
21 November 2025, 04.32 WIB

Bayi Prematur Rentan Terkena Infeksi RSV: Berikut Langkah-langkah Pencegahan yang Harus Diketahui

Kegiatan edukatif bertajuk “Kenali RSV, Selamatkan Bayi Berisiko Tinggi” yang diselenggarakan AstraZeneca Indonesia di Jakarta, Kamis (22/11). (Nanda Prayoga/JawaPos.com) - Image

Kegiatan edukatif bertajuk “Kenali RSV, Selamatkan Bayi Berisiko Tinggi” yang diselenggarakan AstraZeneca Indonesia di Jakarta, Kamis (22/11). (Nanda Prayoga/JawaPos.com)

JawaPos.com - Respiratory Syncytial Virus (RSV) merupakan virus yang menjadi penyebab utama infeksi saluran pernapasan pada bayi dan anak-anak, terutama bayi prematur dengan sistem kekebalan dan fungsi paru yang belum matang. Hal ini membuat mereka lebih rentan mengalami bronkiolitis, pneumonia, hingga gangguan napas berat yang sering membutuhkan perawatan intensif di rumah sakit.

Meski begitu, banyak orang tua yang masih belum begitu memahami bahayanya virus ini. Edukasi pencegahan dini ditekankan sebagai langkah penting untuk memastikan tumbuh kembang bayi tetap optimal dan terhindar dari komplikasi jangka panjang.

Indonesia mencatat lebih dari 675.000 kelahiran prematur setiap tahunnya, menempatkan negara ini sebagai salah satu dengan angka tertinggi di dunia. Bayi yang lahir sebelum 37 minggu kehamilan umumnya belum memiliki sistem kekebalan yang kuat.

Dokter Spesialis Anak Subspesialis Neonatologi, dr. Rinawati Rohsiswatmo, menjelaskan bahwa bayi prematur memiliki risiko lebih tinggi terkena RSV lantaran paru-parunya belum berkembang sempurna.

Selain itu, bayi prematur juga belum sempat menerima transfer antibodi pelindung dari ibunya secara optimal selama masa kehamilan. Alhasil, sistem kekebalan tubuh mereka masih sangat lemah dan rentan terhadap berbagai infeksi.

Hal ini diungkapkan dr. Rina pada kegiatan edukatif bertajuk “Kenali RSV, Selamatkan Bayi Berisiko Tinggi” yang diselenggarakan AstraZeneca Indonesia di Jakarta, Kamis (22/11).

“Dibandingkan bayi cukup bulan, mereka memiliki kemungkinan dua hingga tiga kali lebih besar untuk dirawat di rumah sakit akibat infeksi RSV pada tahun pertama kehidupannya. Infeksi ini seringkali berkembang dengan cepat dan dapat memerlukan perawatan yang lebih lama serta intensif,” katanya.

Orang tua dipandang sebagai garda terdepan dalam melindungi bayi prematur dari paparan infeksi. Satu langkah pencegahan berarti satu kesempatan kehidupan yang lebih baik.

Selain imunisasi pasif dengan pemberian antibodi monoklonal seperti Palivizumab, orang tua juga harus melakukan langkah-langkah sederhana dalam kehidupan sehari-hari untuk mencegah bayi prematur terpapar RSV.

“Upaya tersebut di antaranya dengan rajin mencuci tangan dengan sabun, menjaga kebersihan lingkungan, menghindari kontak dengan orang yang sedang sakit, memastikan sirkulasi udara di rumah tetap baik, serta membatasi aktivitas di tempat ramai,” tambah dr. Rina.

Adapun RSV merupakan penyebab utama infeksi saluran napas bawah, berkontribusi hingga 60-80 persen kasus bronkiolitis serta 30 persen pneumonia pada bayi dan balita di seluruh dunia. Pada awalnya, gejala RSV sering tampak mirip flu biasa, mulai dari pilek hingga batuk ringan, sehingga kerap diabaikan.

Padahal, infeksi ini dapat berkembang menjadi kondisi berat, termasuk sesak napas, serta menimbulkan risiko jangka panjang seperti asma, mengi berulang, hingga penurunan fungsi paru. Membedakan RSV dari infeksi lain menjadi hal penting agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat. Bahkan, sebuah studi mengungkapkan bahwa 1 dari 10 bayi di Indonesia meninggal akibat infeksi saluran napas bawah yang disebabkan RSV.

Mengacu pada NFID, common cold biasanya hanya menimbulkan keluhan ringan tanpa demam tinggi. Flu hadir secara mendadak dengan demam dan nyeri tubuh, sedangkan Covid-19 dapat melibatkan gejala pernapasan lebih berat hingga hilangnya penciuman.

Berbeda dari semuanya, RSV lebih banyak menyerang bayi dan anak kecil dengan gejala seperti batuk, demam ringan, mengi, serta kesulitan bernapas. Pada bayi berisiko tinggi seperti bayi prematur, kondisi dapat cepat memburuk menjadi gangguan pernapasan serius.

Dalam kesempatan yang sama, Dokter Spesialis Anak Konsultan Respirologi Anak, dr. Cissy Rachiana Sudjana Prawira, menegaskan bahwa RSV seringkali belum menjadi perhatian utama bagi orang tua, padahal virus ini dapat berdampak signifikan pada kesehatan pernapasan anak.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore