Ilustrasi seorang perempuan mengalami insomnia. (Freepik)
JawaPos.com – Banyak orang menganggap kesulitan tidur hanya mengganggu aktivitas sehari-hari.
Padahal, menurut penelitian terbaru, insomnia kronis atau gangguan tidur panjang berhubungan erat dengan penuaan otak dan risiko gangguan kognitif, termasuk demensia.
Kondisi ini bukan sekadar membuat tubuh merasa lelah di pagi hari, tetapi juga bisa mempercepat usia otak secara biologis.
Melansir dari laman Women’s Health pada Rabu (21/01), menyebutkan insomnia dikaitkan dengan penuaan otak.
Penelitian dalam jurnal Neurology, menunjukkan bahwa orang dewasa yang mengalami insomnia kronis atau sulit tidur setidaknya tiga malam per minggu selama minimal tiga bulan, memiliki risiko lebih tinggi mengalami penurunan fungsi kognitif atau demensia dibanding yang tidur normal.
Seseorang yang mengalami insomnia secara konsisten memiliki kemungkinan 40 persen lebih besar untuk mengembangkan gangguan kognitif ringan atau demensia dibanding kelompok tanpa insomnia.
Efek insomnia ini, setara dengan mempercepat penuaan otak sekitar 3,5 tahun, menjadikan otak orang dengan insomnia tampak lebih tua secara biologis daripada usia kronologisnya.
Studi dalam American Academy of Neurology menjelaskan bahwa gangguan tidur, termasuk insomnia, dapat mempengaruhi fungsi sistem glimfatik otak , sistem yang berperan membersihkan limbah metabolik saat kita tidur.
Ketika kualitas tidur buruk atau terputus-putus, proses pembuangan zat seperti amyloid β dan protein tau yang terkait Alzheimer menjadi kurang efisien.
Akumulasi protein-protein ini pada akhirnya dapat mengganggu fungsi neuron dan mempercepat proses penurunan kognitif.
Dampak insomnia pada otak bukan hanya soal menurunnya daya ingat atau fokus sesaat setelah malam tanpa tidur.
