Logo JawaPos
Author avatar - Image
24 November 2025, 17.35 WIB

Coinbase Premium Cetak Rekor Negatif 21 Hari, BTC Sulit Bentuk Bottom

 

Ilustrasi harga Bitcoin (BTC) yang turun. (Dhimas Ginanjar/Dall E/JawaPos.com)

JawaPos.com – Tekanan jual dari institusi Amerika Serikat terus membayangi pergerakan Bitcoin dalam beberapa pekan terakhir. Indikator Coinbase Bitcoin Premium Index kembali mencetak rekor negatif, memperpanjang rangkaian sinyal bearish yang sebelumnya telah menyeret harga BTC dari level hampir USD 120.000 hingga kini bergerak di kisaran USD 87.435 (Rp 1,45 miliar dengan kurs Rp 16.700).

Kondisi ini menunjukkan bahwa pasar masih mencari titik dasar yang solid sebelum memulai pemulihan. Dikutip dari BeInCrypto, Senin (24/11), Coinbase Premium Index kini memasuki hari ke-21 dalam zona negatif, mencatat streak terpanjang sepanjang siklus pasar saat ini.

Data Coinglass menunjukkan indikator tersebut terus bergerak di bawah nol sejak awal November, seiring dengan turunnya harga Bitcoin menuju USD 84.500 pada akhir pekan kemarin. Biasanya premium bergerak naik turun, namun kali ini tekanan jual dari institusi di AS terlihat jauh lebih dominan.

Coinbase Premium Index mengukur selisih harga Bitcoin di Coinbase (yang didominasi trader institusi AS berbasis USD) dibandingkan Binance, tempat mayoritas trader global bertransaksi menggunakan USDT. Ketika premium positif, itu berarti permintaan dari AS sedang kuat.

Namun premium negatif mencerminkan kebalikannya: tekanan jual yang berasal dari institusi Amerika lebih tinggi dibandingkan permintaan global.

Selama 21 hari terakhir, grafik premium terus memunculkan bar merah, menggambarkan arus jual yang konsisten. CryptoQuant CEO Ki Young Ju menyebut sentimen investor AS masih “sangat berhati-hati,” dengan premium per jam terakhir tercatat -0.06. Kondisi ini memperkuat gambaran bahwa institusi belum siap kembali masuk sebagai pembeli dominan.

Analis Giannis mencatat bahwa penurunan Bitcoin kali ini bukan disebabkan panic selling retail, melainkan penjualan agresif institusi melalui Coinbase. Ia menegaskan bahwa “global buyers belum mampu menyerap tekanan jual dari AS,” sehingga BTC gagal membentuk support kokoh.

Data open interest turut memperlihatkan tren bearish. Kontrak berjangka Bitcoin melonjak dari di bawah 20.000 pada akhir Oktober menjadi sekitar 70.000 kontrak di pertengahan November. Kenaikan open interest diiringi penurunan harga biasanya mengindikasikan pembentukan short positions, menambah tekanan terhadap pergerakan harga.

Meski begitu, beberapa analis melihat sisi menarik dari pola mingguan Coinbase Premium. CryptoCondom mencatat bahwa premium sering naik mendekati zona netral setiap akhir pekan. Ketika ETF flow dan aktivitas seller institusi berhenti pada Sabtu-Minggu, tekanan jual mereda, memungkinkan harga Bitcoin mencetak kenaikan kecil atau stabilisasi.

Namun pola ini bersifat sementara. Begitu hari kerja dimulai, institusi kembali aktif dan premium kembali merosot. Pasar mencatat fenomena berulang: “weekend pump, weekday dump,” menggambarkan intensitas arus jual institusi yang lebih besar dibandingkan likuiditas global.

Secara historis, pembalikan arah Bitcoin baru terbentuk ketika Coinbase Premium kembali ke zona netral atau positif, menandai masuknya kembali permintaan institusi AS. Hingga indikator ini pulih, pasar dianggap masih berada dalam fase risiko tinggi.

Saat artikel ditulis, Bitcoin bergerak stabil di sekitar USD 87.435 (Rp 1,45 miliar), namun tekanan dari arus jual institusi membuat reli jangka pendek sulit bertahan. Trader kini fokus menunggu tanda-tanda penurunan tekanan jual atau perubahan premium sebagai sinyal pembentukan bottom yang lebih pasti.

Disclaimer: Artikel ini disajikan untuk tujuan informasi seputar perkembangan pasar kripto. Bukan merupakan ajakan atau rekomendasi investasi. Aset digital memiliki risiko tinggi, pastikan Anda memahami risikonya sebelum berinvestasi.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore