Logo JawaPos
Author avatar - Image
18 November 2025, 16.34 WIB

Burger Nyamuk dari Danau Victoria, Kuliner Ekstrem Afrika Timur!

Burger nyamuk khas Danau Victoria, yang jadi solusi protein warga lokal. (hive.blog) - Image

Burger nyamuk khas Danau Victoria, yang jadi solusi protein warga lokal. (hive.blog)

JawaPos.com - Di tepian Danau Victoria, Afrika Timur, sebuah tradisi kuliner yang tak biasa menarik perhatian dunia. Warga lokal di wilayah Uganda memanfaatkan fenomena alam berupa kawanan nyamuk yang muncul saat musim hujan untuk menciptakan makanan unik, burger nyamuk. Meski terdengar ekstrem, makanan ini telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat dan bahkan disebut-sebut sebagai sumber protein yang luar biasa.

Setiap tahun, jutaan nyamuk berkumpul di sekitar danau, menciptakan awan serangga yang begitu padat hingga menyerupai kabut. Alih-alih menganggapnya sebagai gangguan, warga setempat justru melihat peluang.  Mereka mengoleskan minyak atau lemak pada permukaan panci, lalu mengayunkannya di udara untuk menangkap nyamuk yang terbang. Setelah terkumpul, nyamuk-nyamuk ini dipadatkan dan dibentuk menyerupai patty burger, lalu digoreng hingga matang.

Menurut laporan NDTV, satu burger nyamuk bisa mengandung hingga 500.000 ekor nyamuk dan disebut memiliki tujuh kali lebih banyak kandungan protein dibandingkan burger daging sapi biasa. Kandungan gizinya yang tinggi menjadikan makanan ini sebagai solusi alternatif di wilayah yang menghadapi keterbatasan akses terhadap sumber protein hewani.

“Rasanya seperti daging, tapi lebih padat dan sedikit pahit,” ujar seorang warga lokal yang rutin mengonsumsi burger nyamuk. Ia menambahkan bahwa makanan ini bukan hanya soal rasa, tetapi juga soal bertahan hidup dan memanfaatkan apa yang tersedia di alam sekitar.

Fenomena ini bukanlah hal baru. Dalam buku Insects, An Edible Field Guide, penulis Stefan Gates menyebutkan bahwa masyarakat di sekitar Danau Victoria telah lama membuat Kunga Cake, sejenis kue padat dari nyamuk dan serangga kecil lainnya.

“Mereka bahkan membuat burger dari kunga,” tulis Gates, menyoroti kreativitas kuliner masyarakat lokal.

Meski terdengar ekstrem bagi sebagian orang, burger nyamuk mencerminkan bagaimana manusia bisa beradaptasi dengan lingkungan dan menciptakan solusi pangan yang berkelanjutan. Di tengah krisis pangan global dan meningkatnya kebutuhan akan sumber protein alternatif, makanan seperti ini mulai dilirik oleh peneliti dan aktivis lingkungan.

Namun, tantangan tetap ada. Burger nyamuk belum tentu cocok untuk dikomersialkan secara luas karena faktor higienitas, persepsi budaya, dan potensi alergi. Meski begitu, sebagai makanan lokal, ia tetap memiliki nilai sosial dan ekologis yang tinggi.

Di media sosial, foto burger nyamuk sempat viral dan memicu berbagai reaksi. Ada yang penasaran, ada pula yang merasa jijik. Tapi satu hal yang pasti, makanan ini berhasil membuka diskusi tentang potensi serangga sebagai sumber pangan masa depan.

Bagi masyarakat sekitar Danau Victoria, burger nyamuk bukanlah sekadar makanan ekstrem. Ia adalah simbol ketahanan, kreativitas, dan hubungan erat antara manusia dan alam. Di tengah keterbatasan, mereka mampu menciptakan sesuatu yang bergizi, mengenyangkan, dan penuh makna.

Dengan semakin banyaknya perhatian dari dunia internasional, mungkin suatu hari burger nyamuk akan masuk dalam daftar kuliner eksotis yang dicicipi wisatawan. Tapi bagi warga lokal, ia tetap menjadi bagian dari tradisi dan cara hidup yang telah berlangsung selama bertahun-tahun. (*)

Editor: Siti Nur Qasanah
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore