Logo JawaPos
Author avatar - Image
23 November 2025, 21.45 WIB

Wisata Kuliner Magetan: Melki Menjelajahi Citarasa di Kaki Gunung yang Membuat Ngiler

Kuliner lezat di rumah makan Magetan, salah satunya Rumah Kuliner Kang Ethes (Instagram @kangethespoko) - Image

Kuliner lezat di rumah makan Magetan, salah satunya Rumah Kuliner Kang Ethes (Instagram @kangethespoko)

JawaPos.com - Kota Magetan kembali menjadi sorotan pecinta kuliner Nusantara. Berada di kaki gunung dengan lanskap yang menenangkan, wilayah ini bukan hanya menawarkan pesona alam, tetapi juga ragam makanan khas yang autentik, murah meriah, dan sarat cerita.

 Melalui tayangan kanal YouTube RUMAH CANDA MELKI, penonton diajak menyusuri pasar, warung lokal, hingga sentra kuliner legendaris yang memperlihatkan betapa kayanya rasa di kota kecil Jawa Timur ini.

Pertemuan Sahabat Lama di Pasar Magetan

Perjalanan Melki dimulai dengan misi mencari sahabat lamanya, Isa Wahyu Prastano. Pencarian membawa mereka ke Pasar Magetan, tempat Isa sedang berbelanja untuk warungnya.

Di pasar inilah berbagai makanan tradisional Magetan muncul dalam bentuk paling otentik—mulai dari tahu tempe, tempe garit, hingga pelas kacang merah yang langsung menarik perhatian Melki.

Penjual pasar dengan ramah memperkenalkan berbagai hidangan lokal, memberikan kesempatan Melki mencicipi pelas, tempe bungkus daun, hingga telo parut campur kelapa yang menjadi pengganti nasi masyarakat sekitar.

 Suasana pasar yang hidup ini seketika memberi gambaran kuat tentang budaya kuliner Magetan yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakatnya.

Ayam Panggang Gandu: Cita Rasa Legendaris Kota Kaki Gunung

Perjalanan berlanjut ke sentra kuliner ayam panggang gandu—ikon Magetan yang dikenal dengan teknik pemanggangan unik.

Daging ayam kampung dipanggang di atas kuali tanpa terkena bara api secara langsung, menciptakan aroma khas dan tekstur yang tetap lembut.

Di sebuah warung yang biasa dikunjungi warga lokal maupun wisatawan, Melki dan Isa mencicipi dua varian utama: bumbu rujak dan bumbu bawang.

Sebagai pelengkap, disajikan pula lalapan, botok, pelas, dan terancam segar yang memperkaya pengalaman makan tradisional.

 Tidak hanya itu, sambal bawang, sambal rujak, hingga sambal matah lokal menjadi daya tarik tersendiri bagi pecinta rasa pedas.

Menurut penuturan pemilik warung, penjualan bisa mencapai 300–400 ekor ayam per hari, dan melonjak hingga dua kali lipat saat masa libur atau lebaran. Angka yang menunjukkan betapa besarnya kecintaan masyarakat terhadap kuliner ini.

Warung “Eropa”: Sajian Sungai yang Menggugah Selera

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore