Logo JawaPos
Author avatar - Image
02 Desember 2025, 23.18 WIB

Buku “Tradisi Makan Siang Indonesia” Raih Gelar Best Book in the World di Gourmand Awards 2025

Ilustrasi seorang ibu memasak sambil melihat buku Tradisi Makan Siang Indonesia. (Istimewa) - Image

Ilustrasi seorang ibu memasak sambil melihat buku Tradisi Makan Siang Indonesia. (Istimewa)

JawaPos.com-Indonesia kembali menorehkan prestasi di panggung dunia. Kali ini, buku Tradisi Makan Siang Indonesia: Khazanah Ragam dan Penyajiannya, karya kolaboratif yang dieditori Amanda Katili Niode, berhasil dinobatkan sebagai Best Book in the World di ajang Gourmand Awards 2025.

Penghargaan ini diumumkan dalam gelaran Saudi Feast Food Festival di Riyadh. Presiden Gourmand Awards, Edouard Cointreau, memuji karya ini karena mampu menampilkan kedalaman riset dan makna kultural di balik tradisi makan siang masyarakat Nusantara. “Buku ini merayakan kuatnya hubungan antara makanan, budaya, dan komunitas,” ujarnya saat menyerahkan sertifikat penghargaan.

Tak tanggung-tanggung, buku setebal lebih dari 500 halaman tersebut memuat 40 tulisan yang mewakili 17 provinsi di 8 pulau di Indonesia. Dalam setiap bagiannya, pembaca diajak menyelami kisah makanan yang bukan hanya soal rasa, melainkan juga cerita kebersamaan dan akar budaya. “Berbagi hidangan mencerminkan jiwa dan warisan sebuah bangsa,” lanjut Cointreau.

Diterbitkan oleh Diomedia Publishing, buku ini merupakan hasil kolaborasi Omar Niode Foundation, Yayasan Nusa Gastronomi Indonesia, dan Komunitas Food Blogger Indonesia. Tak heran jika sudut pandangnya begitu kaya dan berlapis, menjadikannya semacam ensiklopedia makan siang negeri ini.

Lebih dalam lagi, Tradisi Makan Siang Indonesia menyoroti perjalanan budaya makan siang dari masa ke masa. Mulai dari bekal sederhana di sawah hingga tren praktis era digital—semuanya menjadi cerminan bagaimana masyarakat terus beradaptasi dengan zaman.

Editor buku ini, Amanda Katili Niode, menekankan pentingnya keberlanjutan pangan dalam kebiasaan konsumsi sehari-hari. “Mengonsumsi makanan lokal adalah langkah ramah iklim yang sekaligus mendukung petani dan produsen kecil,” ungkapnya.

Tak hanya berisi esai menarik, buku ini juga mendapat dukungan testimoni dari berbagai tokoh, termasuk pakar kuliner dunia Prof. Ken Albala. "Inilah bukti bahwa makan siang bukan hanya aktivitas rutin, melainkan budaya yang layak dirawat dan dirayakan," tutur dia. (*)

Editor: Dinarsa Kurniawan
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore