Logo JawaPos
Author avatar - Image
18 Desember 2025, 13.24 WIB

Menjelajah Rasa di Kota Sejuk Salatiga: Petualangan Kuliner dari Sate Suruh, Ketan Serundeng Legendaris, hingga Getuk Kethek yang Unik

Menjelajah Rasa di Kota Sejuk Salatiga: Petualangan Kuliner dari Sate Suruh, Ketan Serundeng Legendaris, hingga Getuk Kethek yang Unik (YouTube RUMAH CANDA MELKI) - Image

Menjelajah Rasa di Kota Sejuk Salatiga: Petualangan Kuliner dari Sate Suruh, Ketan Serundeng Legendaris, hingga Getuk Kethek yang Unik (YouTube RUMAH CANDA MELKI)

JawaPos.com - Salatiga selalu punya cara memanjakan para pejalan. Udara yang sejuk, lanskap kota tua peninggalan kolonial, serta kisah-kisah kuliner yang tersebar dari pasar hingga sudut kampung kecil menjadikan kota ini sebagai tujuan ideal bagi pemburu makanan otentik.

 Ada pengalaman berbeda ketika seseorang memasuki kota ini—seakan setiap aroma masakan membawa cerita turun-temurun, dan setiap gigitan menyimpan sejarah panjang yang dilestarikan oleh para penjajanya.

Dalam sebuah episode Wisata Kuliner Salatiga Yang Wajib Dicoba! dari kanal YouTube RUMAH CANDA MELKI, perjalanan kuliner ini direkam dengan luwes: spontan, penuh rasa penasaran, dan tentu saja penuh momen “bikin ngiler”.

Mulai dari sate suruh yang legendaris, ketan serundeng yang langsung ludes sejak siang, hingga ronde jago yang sudah puluhan tahun menjadi incaran pejabat dan artis—semua tersaji dengan keaslian khas Salatiga.

 Perjalanan pun berlanjut ke sebuah kampung singkong yang menyimpan salah satu ikon jajanan: getuk ketek, jajanan tradisional dengan cerita dan cita rasa yang begitu khas.

Dan berikut adalah rangkuman lengkap perjalanan kuliner tersebut.

1. Sate Sapi Suruh: Manis, Pedas, Gurih dengan Aroma Rempah yang Kuat

Perjalanan dimulai dari salah satu kuliner paling direkomendasikan warga: sate sapi suruh, yang konon berbeda dengan sate sapi kebanyakan.

Bukan hanya soal bumbu, tetapi juga aroma rempahnya yang disebut-sebut langsung “masuk ke hidung”.

Daging sapinya empuk, kenyalnya pas, dan bisa dipesan tanpa lemak bagi yang ingin rasa lebih “bersih”. Ketupatnya pun ikut jadi sorotan—lembut, wangi, dan cocok berpadu dengan bumbu sate.

Nama “suruh” sendiri berasal dari Pasar Suruh, tempat pertama kali sate ini diperkenalkan. Hingga kini, sebagian besar pembeli tetap pilihannya sama: sate sapi, meskipun warungnya juga menyediakan bakso.

2. Soto Esto: Kuliner Legendaris yang Harus Diserbu Pagi Hari

Soto Esto sebenarnya masuk daftar wajib. Namun, ketika tiba di lokasi sekitar tengah hari, warung ini sudah tutup.

Banyak warga menyebut bahwa soto ini memang hanya buka pagi dan sering habis sebelum jam makan siang.

Meski belum sempat mencobanya, fakta bahwa soto ini habis begitu cepat membuatnya semakin misterius dan menarik bagi para pecinta kuliner tradisional.

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore