
Panettone, kue Natal khas Italia dengan tekstur lembut dan isian buah kering, disajikan sebagai simbol tradisi dan kebersamaan dalam perayaan Natal. (Italy Magazine)
JawaPos.com - Menjelang akhir tahun, panettone hampir selalu hadir dalam perayaan Natal di Italia. Kue manis dengan bentuk menjulang dan tekstur lembut ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi keluarga. Lebih dari sekadar sajian penutup, panettone dipandang sebagai simbol perayaan dan kebersamaan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ensiklopedia Britannica mencatat bahwa panettone merupakan roti manis khas Italia yang erat kaitannya dengan perayaan Natal dan Tahun Baru, khususnya di kawasan Italia Utara dengan Milan sebagai pusat asalnya.
Jejak sejarah panettone tidak bisa dilepaskan dari kota Milan. Situs pariwisata resmi Italia, Italia.it, menjelaskan bahwa kue ini awalnya hanya disajikan pada momen istimewa. Pada masa lalu, bahan-bahan seperti mentega, telur, dan buah kering tergolong mahal, sehingga panettone dianggap sebagai hidangan mewah. Kondisi inilah yang membuat kue tersebut kemudian identik dengan Natal, saat masyarakat menikmati makanan khusus sebagai bagian dari perayaan religius dan keluarga.
Beragam kisah turut mewarnai asal-usul panettone. Salah satu cerita yang paling sering diceritakan kembali berasal dari legenda tentang seorang pembantu dapur bernama Toni. Seperti ditulis oleh Italy Magazine, kisah ini menyebutkan bahwa Toni secara tidak sengaja menciptakan kue tersebut ketika hidangan utama perayaan Natal di istana Duke of Milan gagal disiapkan.
Dengan bahan-bahan yang tersisa, ia membuat adonan sederhana yang kemudian dipanggang dan disajikan kepada para tamu. Hidangan tersebut justru mendapat sambutan positif dan kemudian dikenal sebagai pan del Toni, yang diyakini menjadi asal nama panettone. Meski tidak sepenuhnya dapat dibuktikan secara historis, cerita ini telah menjadi bagian dari warisan budaya kuliner Italia.
Di luar legenda, catatan tertulis menunjukkan bahwa panettone mulai dikenal secara resmi pada abad ke-19. Baking Heritage mencatat bahwa istilah panettone tercantum dalam kamus bahasa Milan sekitar tahun 1839. Pada periode tersebut, panettone masih diproduksi secara terbatas oleh toko roti lokal dan hanya muncul menjelang Natal, sehingga keberadaannya benar-benar dinantikan setiap akhir tahun.
Keunikan panettone juga terletak pada proses pembuatannya. Britannica menjelaskan bahwa adonan kue ini melalui tahap fermentasi yang panjang, menghasilkan tekstur ringan dengan rongga udara yang khas. Isian panettone umumnya berupa kismis serta kulit buah sitrus yang dikristalkan, seperti jeruk dan citron. Salah satu teknik tradisional yang masih dipertahankan hingga kini adalah mendinginkan kue dalam posisi terbalik setelah dipanggang, untuk menjaga bentuknya tetap kokoh dan tidak mengempis.
Perubahan besar terjadi pada awal abad ke-20 ketika pembuat roti asal Milan, Angelo Motta, memperkenalkan metode produksi yang membuat panettone menjadi lebih tinggi dan lembut. Baking Heritage menyebutkan bahwa inovasi ini memungkinkan panettone diproduksi dalam jumlah besar tanpa menghilangkan ciri khasnya. Sejak saat itu, panettone tidak lagi menjadi sajian eksklusif, melainkan hadir luas di rumah-rumah masyarakat Italia dan kemudian menyebar ke berbagai negara.
Saat ini, panettone terus berkembang mengikuti selera zaman. Selain versi klasik, berbagai variasi modern bermunculan dengan tambahan cokelat, krim, atau isian lain. Meski tampil dalam beragam bentuk, makna simbolisnya tetap terjaga. Italia.it menegaskan bahwa panettone telah menjadi lambang kehangatan keluarga dan semangat Natal di Italia, sering dibagikan sebagai hadiah atau dinikmati bersama setelah jamuan makan malam.
Perjalanan panjang panettone menunjukkan bagaimana sebuah tradisi kuliner mampu bertahan di tengah perubahan zaman. Dari dapur sederhana di Milan hingga menjadi ikon Natal yang dikenal di berbagai belahan dunia, panettone tetap membawa cerita tentang sejarah, kreativitas, dan identitas budaya Italia yang hidup dalam setiap perayaannya. (*)
John Herdman Full Senyum! 2 Pemain Timnas Indonesia, Kevin Diks dan Justin Hubner Cetak Gol di Eropa
Resep Strawberry Cheese Milk, Ide Jualan Takjil Ramadhan yang Segar dan Potensial Laris
Sriwijaya FC Resmi Degradasi ke Liga Nusantara, Ini Deretan Prestasi Laskar Wong Kito
Polemik Panas Terkait Musala di Bekasi Sampai ke DPR, Kini Berakhir Damai
Super Komputer Opta Prediksi 8 Tim yang Lolos Perempat Final Liga Champions UEFA
Resep Bakwan Goreng Ayam Halal, Ide Takjil Gurih yang Bikin Nagih
Rosenior Siap Hadapi PSG, Duel yang Menarik di Babak 16 Besar Liga Champions
Iran Konfirmasi Kematian Pemimpin Tertinggi Negaranya, Ayatollah Ali Khamenei, Usai Serangan Gabungan AS‑Israel
Cedera Frenkie de Jong, Barcelona Hadapi Tantangan Besar!
