Logo JawaPos
Author avatar - Image
13 Oktober 2025, 01.04 WIB

Gaslighting Bukan Sekadar Berbohong: Memahami Manipulasi Emosional secara Halus dan Cara Menghadapinya

Ilustrasi perasaan seseorang setelah di gaslighting (Dok. Freepik)

JawaPos.com – Pernahkah kamu merasa diragukan ketika sedang menceritakan sesuatu yang kamu alami? Atau, lebih menyakitkan lagi, seseorang meyakinkanmu bahwa kejadian yang kamu ingat dengan jelas "tidak pernah terjadi?" Jika ya, mungkin kamu pernah berhadapan dengan gaslighting, bentuk manipulasi emosional yang lebih berbahaya dari sekadar kebohongan.

Gaslighting bekerja secara halus dan sistematis. Ia membuat korban perlahan kehilangan kepercayaan terhadap persepsinya sendiri. Awalnya kamu mungkin hanya merasa bingung, tapi lama-kelamaan, keyakinanmu terhadap apa yang kamu rasakan dan pikirkan mulai terkikis. Pelaku gaslighting dengan sengaja memutarbalikkan realitas, hingga kamu mulai berpikir bahwa kamu yang salah, kamu yang terlalu sensitif, atau kamu yang terlalu dramatis.

Apa Itu Gaslighting?

Menurut penelitian Gaslighting Exposure During Emerging Adulthood yang diterbitkan di PMC (2024), gaslighting digambarkan sebagai bentuk kekerasan psikologis yang mencakup tindakan untuk mengendalikan dan mengubah sensasi, pikiran, tindakan, keadaan afektif, persepsi diri, dan realitas seseorang. Para peneliti menekankan bahwa gaslighting jauh lebih dalam dari kebohongan biasa melainkan sebuah upaya sistematis untuk membuat korban meragukan diri mereka sendiri.

Dalam dunia profesional, bentuknya bisa berbeda namun esensinya sama. Studi dari Frontiers in Psychology (2023) menjelaskan bahwa gaslighting juga bisa muncul di tempat kerja. Di sana, pelaku seringkali atasan atau rekan kerja yang berkuasa menggunakan strategi manipulatif yang membuat korban mempertanyakan persepsi mereka terhadap peristiwa di kantor.

Peneliti bahkan mengembangkan alat ukur baru bernama Gaslighting at Work Questionnaire (GWQ) untuk memahami sejauh mana perilaku ini merusak hubungan profesional dan kepuasan kerja seseorang.

Gaslighting di tempat kerja bisa muncul dalam bentuk halus seperti meremehkan kontribusimu, mempertanyakan kemampuanmu tanpa alasan jelas, atau mengubah versi cerita setelah keputusan dibuat. Semuanya dilakukan agar kamu tampak tidak kompeten di mata sendiri.

Pola Gaslighting yang Sering Muncul

Menariknya, gaslighting jarang tampak seperti kekerasan. Ia justru sering datang dalam bentuk perhatian atau kalimat yang tampak lembut, namun mengandung distorsi emosional di dalamnya.

Beberapa pola yang sering muncul antara lain penyangkalan terhadap realitas, di mana pelaku bersikeras bahwa sesuatu tidak pernah terjadi; frasa manipulatif seperti "kamu terlalu sensitif", yang mengalihkan fokus dari perbuatannya ke kelemahan emosim terlebih ketika kamu dibuat merasa bahwa hanya pelaku yang memahami dirimu.

Ada pula bentuk kontrol lewat kebaikan. Di mana pelaku menunjukkan kasih sayang setelah memanipulasi, seolah semua baik-baik saja. Ini adalah dinamika yang membuat korban semakin bingung, karena batas antara kasih dan kendali menjadi kabur.

Penelitian di PMC mengelompokkan perilaku gaslighting menjadi tiga tipe: glamourgood-guy, dan intimidator. Masing-masing memiliki pola manipulasi yang berbeda.

Tipe good-guy, misalnya, sering menampilkan diri sebagai sosok perhatian, namun secara perlahan membuat pasangannya merasa bersalah atas segala hal. Sementara intimidator lebih agresif, menggunakan rasa takut atau ancaman untuk mengontrol orang lain.

Hasil studi itu juga menemukan kaitan antara karakteristik kepribadian dengan kecenderungan melakukan gaslighting. Misalnya, individu dengan separation insecurity (rasa takut ditinggalkan) dan distractibility (mudah terdistraksi) cenderung lebih berisiko menjadi pelaku gaslighting.

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore