Logo JawaPos
Author avatar - Image
17 Oktober 2025, 04.29 WIB

Orang yang Mementingkan Diri Sendiri Biasanya Menunjukkan 7 Tanda Ketidakdewasaan Emosional Ini Menurut Psikologi

seseorang yang terlalu mementingkan diri sendiri. (Freepik/bilahata) - Image

seseorang yang terlalu mementingkan diri sendiri. (Freepik/bilahata)


JawaPos.com - Dalam hubungan sosial, kita tentu pernah berhadapan dengan seseorang yang tampak hanya memikirkan dirinya sendiri. 
 
Mereka ingin didengar tapi jarang mau mendengarkan, ingin dimengerti tapi enggan memahami. 
 
Orang seperti ini sering disebut egois — namun di balik sikap itu, psikologi melihat sesuatu yang lebih dalam: ketidakdewasaan emosional.

Ketika seseorang belum matang secara emosional, ia sulit memahami perasaan orang lain dan kerap menempatkan dirinya sebagai pusat segalanya. 
 
Akibatnya, relasi menjadi timpang, penuh drama, dan melelahkan bagi orang-orang di sekitarnya. 
 
Dilansir dari Geediting pada Rabu (15/10), terdapat 7 tanda utama ketidakdewasaan emosional yang biasanya muncul pada orang yang mementingkan diri sendiri.

1. Selalu Ingin Menjadi Pusat Perhatian


Orang yang belum dewasa secara emosional sering merasa bahwa dunia harus berputar mengelilingi dirinya. 
 
Mereka mudah tersinggung jika tidak diperhatikan, dan berusaha keras agar selalu menjadi pusat sorotan.

Menurut psikologi kepribadian, perilaku ini sering berakar pada kebutuhan akan validasi yang belum terpenuhi di masa lalu. 
 
Alih-alih merasa cukup dengan dirinya sendiri, mereka mencari pengakuan dari luar untuk menegaskan nilai dirinya. 
 
Hasilnya, hubungan dengan orang lain menjadi transaksional — “aku akan baik padamu kalau kamu membuatku merasa penting.”

2. Sulit Mengakui Kesalahan

Bagi orang yang mementingkan diri sendiri, kata “maaf” bisa terasa seperti beban besar. 
 
Mereka cenderung menyalahkan keadaan, orang lain, atau bahkan “takdir”, daripada mengakui bahwa mereka keliru.

Dalam psikologi perkembangan, ketidakmampuan menerima kesalahan menunjukkan rendahnya kematangan ego. 
 
Orang yang dewasa secara emosional memahami bahwa kesalahan adalah bagian dari belajar. 
 
Sedangkan yang belum matang justru menganggap kesalahan sebagai ancaman terhadap harga diri.

3. Kurang Empati terhadap Orang Lain


Salah satu ciri paling jelas dari ketidakdewasaan emosional adalah minimnya empati. 
 
Mereka sulit memahami atau merasakan apa yang dirasakan orang lain, karena fokus mereka selalu tertuju pada diri sendiri.

Empati menuntut kemampuan menunda ego, mendengarkan dengan tulus, dan membuka hati terhadap pengalaman orang lain. 
 
Jika seseorang selalu menilai segalanya dari sudut pandangnya sendiri — “kalau aku di posisi kamu, aku pasti begini” — maka ia belum benar-benar memahami, melainkan hanya membandingkan.

4. Mudah Tersinggung dan Drama Berlebihan


Ketika emosi tidak dikelola dengan baik, segala hal kecil bisa dianggap serangan pribadi. 
 
Orang yang belum dewasa emosional sering kali bereaksi berlebihan terhadap kritik, candaan, atau bahkan hal sepele.

Psikologi menyebut ini sebagai bentuk regresi emosional — perilaku yang menyerupai anak kecil yang belum belajar menenangkan diri. 
 
Alih-alih merespons dengan tenang, mereka cenderung meledak, menangis, atau memanipulasi emosi orang lain agar mendapatkan simpati.

5. Suka Mengontrol Orang Lain


Kebutuhan untuk selalu benar dan merasa superior sering membuat mereka ingin mengendalikan situasi, bahkan orang-orang di sekitarnya. 
 
Mereka sulit menerima bahwa setiap orang punya cara, pandangan, dan kebebasan sendiri.

Dalam dinamika hubungan, kontrol ini bisa muncul lewat kritik halus, rasa bersalah yang ditanamkan (“aku melakukan semua ini untuk kamu”), atau keinginan menentukan segala keputusan. 
 
Sebenarnya, ini adalah cara halus untuk menutupi rasa tidak aman (insecurity) yang belum terselesaikan.

6. Menghindari Tanggung Jawab Emosional


Ketika hubungan menjadi rumit, orang yang belum dewasa emosional akan cepat mundur atau menyalahkan pihak lain. 
 
Mereka tidak siap menghadapi konsekuensi emosional dari tindakan mereka — entah itu rasa bersalah, kecewa, atau kehilangan.

Dalam pandangan psikologi hubungan, kemampuan bertanggung jawab atas emosi sendiri menandai kedewasaan yang sehat. 
 
Orang yang dewasa tidak menyalahkan pasangan, teman, atau lingkungan atas apa yang ia rasakan, melainkan berusaha memahami dan mengelolanya.

7. Mementingkan Kepuasan Instan


Ciri terakhir yang sering terlihat adalah dorongan untuk selalu mendapatkan apa yang diinginkan — sekarang juga. 
 
Baik dalam cinta, karier, atau kehidupan sehari-hari, mereka sulit menunda kepuasan.

Menurut teori psikologi perkembangan Erik Erikson, kemampuan menunda keinginan (delayed gratification) adalah tanda bahwa seseorang sudah melewati tahap kedewasaan emosional. 
 
Orang yang belum dewasa akan terus mencari kesenangan jangka pendek tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang.

Kesimpulan: Kedewasaan Emosional adalah Proses, Bukan Titik Akhir


Menjadi pribadi yang matang secara emosional bukan berarti tidak pernah marah, sedih, atau kecewa. 
 
Justru, orang yang dewasa tahu bagaimana mengelola emosi-emosi itu dengan bijak, tanpa melampiaskannya secara destruktif pada orang lain.

Jika kita menemukan ciri-ciri di atas dalam diri sendiri, itu bukan alasan untuk menyalahkan, tapi undangan untuk bertumbuh. 
 
Karena pada akhirnya, kedewasaan emosional bukan soal usia, tapi tentang kemampuan untuk memahami diri — dan menghargai orang lain dengan sepenuh hati.
 
***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore