
Ilustrasi Doomscrolling (freepik)
JawaPos.com - Pernahkah Anda berniat hanya membuka ponsel sebentar, lalu tanpa sadar waktu satu jam telah berlalu?
Aktivitas ini sering disebut sebagai doomscrolling, yaitu kebiasaan terus-menerus menelusuri berita atau konten negatif di media sosial.
Meski tampak sepele, kebiasaan ini bisa menimbulkan kelelahan emosional dan mental tanpa Anda sadari.
Dalam era digital yang serba cepat, doomscrolling menjadi fenomena umum terutama di kalangan generasi muda.
Setiap geseran layar menawarkan emosi baru mulai dari tawa, sedih, kagum, hingga cemas semuanya bercampur dalam satu arus informasi tanpa jeda.
Akibatnya, otak dan emosi Anda tidak memiliki cukup waktu untuk beristirahat atau memproses apa yang sebenarnya penting.
Kebiasaan ini bukan hanya memengaruhi suasana hati, tetapi juga berdampak pada produktivitas, kualitas tidur, dan persepsi terhadap dunia.
Artikel ini akan membahas bagaimana doomscrolling bekerja secara psikologis dan fisik yang dihimpun dari kanal YouTube Psych2Go.
Serta bagaimana dampaknya dapat berkembang menjadi siklus yang sulit dihentikan bila dilakukan setiap hari selama setahun penuh.
Baca Juga: 9 Weton Disapa Bintang Keberuntungan: Hidupnya Dikelilingi Rezeki hingga Berubah Jadi Kaya Raya dan Dihormati
1. Kelelahan Emosional yang Tak Terlihat
Doomscrolling membuat otak Anda terus-menerus menghadapi berbagai rangsangan emosional dalam waktu singkat.
Dari video lucu ke berita tragedi, lalu ke vlog liburan orang lain emosi Anda terus berubah tanpa kesempatan untuk menstabilkan diri.
Ketika hal ini terjadi setiap hari, sistem saraf mulai kewalahan, menciptakan perasaan lelah meski secara fisik Anda tidak melakukan banyak hal.
Lama-kelamaan, respons emosional menjadi tumpul.
Anda mungkin merasa sulit menikmati hal-hal kecil atau cepat merasa cemas tanpa alasan yang jelas.
Otak terbiasa dengan intensitas tinggi dari konten digital, sehingga ketenangan atau keheningan terasa membosankan.
Kondisi ini membuat Anda mencari stimulus baru secara terus-menerus, menciptakan lingkaran kebiasaan yang semakin sulit dihentikan.
Selain itu, paparan berlebihan terhadap emosi campur aduk dapat menurunkan kemampuan empati.
Anda bisa merasa jenuh terhadap penderitaan orang lain, bukan karena tidak peduli, tetapi karena otak sudah terlalu penuh dengan informasi emosional.
Inilah bentuk kelelahan emosional yang sering tidak disadari para pengguna media sosial aktif.
2. Kelelahan Kognitif dan Menurunnya Fokus
Pernah lupa alasan Anda membuka aplikasi? Itu tanda kelelahan kognitif.
Otak manusia tidak dirancang untuk menerima rangsangan terus-menerus tanpa jeda.
Saat Anda menatap layar dan berpindah dari satu konten ke konten lain dengan cepat, otak kesulitan membedakan mana informasi penting dan mana yang tidak.
Menurut studi dalam Computers in Human Behavior Reports, paparan konten emosional yang intens dapat menyebabkan kelelahan mental.
Akibatnya, daya fokus menurun, memori jangka pendek melemah, dan kemampuan berpikir kritis berkurang.
Anda mungkin merasa sibuk secara mental, namun sebenarnya tidak menghasilkan apa pun yang bermakna.
Kondisi ini berbahaya karena menciptakan ilusi produktivitas.
Anda merasa “selalu tahu” banyak hal, padahal yang terjadi hanyalah banjir informasi tanpa pemahaman mendalam.
Dalam jangka panjang, kemampuan untuk berkonsentrasi dan menyelesaikan tugas penting bisa menurun drastis.
Baca Juga: 7 Weton Tibo Gedhong: Weton Jawa yang Dikaruniai Kepandaian Mengelola Uang dan Bakat Jadi Orang Kaya
3. Dampak Fisik dari Kebiasaan Digital yang Pasif
Meski hanya dilakukan sambil duduk atau berbaring, doomscrolling memicu respons stres fisik.
Setiap kali Anda melihat berita buruk atau konten yang menegangkan, tubuh bereaksi seolah menghadapi bahaya nyata.
Sistem saraf simpatik aktif, melepaskan hormon stres seperti kortisol, yang dalam jangka panjang dapat mengganggu fungsi tubuh.
Studi yang diterbitkan dalam PLOS ONE menunjukkan bahwa stres digital berulang dapat memengaruhi kualitas tidur, menyebabkan sakit kepala, gangguan pencernaan, dan menurunkan imunitas.
Jika doomscrolling menjadi rutinitas harian, Anda mungkin akan merasa lelah meski tidur cukup, atau sering terbangun tanpa alasan.
Lebih jauh lagi, posisi tubuh yang salah saat menggunakan ponsel turut memperburuk dampak fisik.
Nyeri leher, mata tegang, dan postur tubuh membungkuk adalah gejala umum dari kebiasaan ini.
Tanpa disadari, tubuh Anda ikut membayar harga dari “hiburan” digital yang tampaknya tidak berbahaya.
4. Turunnya Produktivitas dan Kreativitas
Banyak orang mengira istirahat sejenak dengan membuka media sosial bisa menyegarkan pikiran.
Namun kenyataannya, doomscrolling sering mengikis fokus dan semangat kerja.
Waktu yang seharusnya digunakan untuk beristirahat justru dihabiskan untuk aktivitas yang menguras energi mental tanpa memberi manfaat.
Penelitian dalam Computers in Human Behavior tahun 2024 menemukan bahwa kebiasaan doomscrolling di tempat kerja berhubungan dengan tingkat kepuasan kerja yang rendah, penurunan produktivitas, dan meningkatnya kelelahan mental.
Saat otak terus dialihkan oleh konten digital, kemampuan untuk menyelesaikan pekerjaan secara efisien pun menurun.
Selain itu, kebiasaan ini menghilangkan momen “bosan” yang sebenarnya penting bagi kreativitas.
Dalam keadaan tenang dan tanpa distraksi, otak manusia cenderung memunculkan ide-ide baru.
Tetapi ketika pikiran selalu dipenuhi rangsangan eksternal, ruang untuk berimajinasi dan berinovasi menjadi sangat terbatas.
5. Perubahan Persepsi dan Pandangan Hidup
Efek paling halus dari doomscrolling adalah pergeseran cara pandang terhadap dunia.
Ketika Anda terus-menerus terpapar konten negatif, otak mulai mempercayai bahwa dunia ini lebih buruk daripada kenyataannya.
Hal ini memunculkan rasa cemas, pesimis, bahkan kehilangan harapan terhadap masa depan.
Penelitian yang diterbitkan dalam Computers in Human Behavior Reports menunjukkan bahwa paparan media negatif berlebihan dapat meningkatkan kecemasan eksistensial dan memperburuk pandangan hidup.
Anda mungkin mulai merasa bahwa kebaikan jarang terjadi, padahal sebenarnya persepsi tersebut hanya hasil dari algoritma yang memperkuat konten emosional.
Akibatnya, Anda bisa menjadi lebih sinis dan kurang percaya diri terhadap perubahan positif.
Dalam jangka panjang, hal ini dapat menurunkan kesejahteraan mental secara keseluruhan.
Mengendalikan konsumsi informasi adalah langkah penting agar pandangan Anda terhadap dunia tetap seimbang dan realistis.
6. Cara Sederhana Mengakhiri Siklus Doomscrolling
Berhenti doomscrolling bukan berarti Anda harus menjauh sepenuhnya dari teknologi.
Kuncinya adalah mengendalikan waktu dan jenis konten yang Anda konsumsi.
Cobalah memasang batas waktu harian atau menggunakan pengingat untuk berhenti setelah beberapa menit.
Langkah kecil ini bisa membantu otak beristirahat dan mengembalikan fokus.
Selain itu, kurasi ulang akun yang Anda ikuti.
Hindari konten yang membuat hati berat atau menimbulkan kecemasan berlebih, dan gantikan dengan akun yang memberikan edukasi atau inspirasi positif.
Anda juga dapat mencoba kegiatan tanpa layar seperti membaca buku, berjalan kaki, atau menulis jurnal.
Ingatlah bahwa perhatian Anda memiliki nilai.
Dengan mengelola konsumsi digital secara sadar, Anda dapat melindungi energi, meningkatkan kualitas hidup, dan menikmati ketenangan batin yang selama ini mungkin hilang karena kebiasaan doomscrolling.
***
John Herdman Full Senyum! 2 Pemain Timnas Indonesia, Kevin Diks dan Justin Hubner Cetak Gol di Eropa
Resep Strawberry Cheese Milk, Ide Jualan Takjil Ramadhan yang Segar dan Potensial Laris
Sriwijaya FC Resmi Degradasi ke Liga Nusantara, Ini Deretan Prestasi Laskar Wong Kito
Polemik Panas Terkait Musala di Bekasi Sampai ke DPR, Kini Berakhir Damai
Super Komputer Opta Prediksi 8 Tim yang Lolos Perempat Final Liga Champions UEFA
Resep Bakwan Goreng Ayam Halal, Ide Takjil Gurih yang Bikin Nagih
Rosenior Siap Hadapi PSG, Duel yang Menarik di Babak 16 Besar Liga Champions
Iran Konfirmasi Kematian Pemimpin Tertinggi Negaranya, Ayatollah Ali Khamenei, Usai Serangan Gabungan AS‑Israel
Cedera Frenkie de Jong, Barcelona Hadapi Tantangan Besar!
