Logo JawaPos
Author avatar - Image
19 Oktober 2025, 00.11 WIB

Hati-Hati Tren Thrifting Bisa Jadi Bahaya! Kenali Moluskum, Infeksi Kulit yang Bisa Menular dari Pakaian Bekas

Ilustrasi kegiatan thrifting yang sedang tren (Dok. Freepik)

JawaPos.com - Thrifting atau belanja di toko pakaian bekas kini menjadi gaya hidup yang digemari berbagai kalangan, terutama anak muda yang peduli lingkungan dan mencari fashion dengan harga terjangkau. Fenomena thrifting tidak hanya populer di Indonesia, tetapi juga menjadi tren global yang terus berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir.

Namun, di balik keseruan berburu pakaian vintage dan unik, terdapat risiko kesehatan yang sering kali diabaikan oleh para pencinta thrift. Salah satu bahaya yang mengintai adalah potensi penularan penyakit kulit moluskum contagiosum melalui pakaian bekas yang belum dibersihkan dengan benar.

Moluskum contagiosum adalah infeksi virus pada kulit yang disebabkan oleh virus dari keluarga poxvirus, yang mengakibatkan munculnya benjolan-benjolan kecil di permukaan kulit. Penyakit ini tergolong sangat menular dan dapat menyebar dengan mudah melalui kontak kulit langsung dengan penderita atau melalui benda-benda yang terkontaminasi virus.

Meskipun umumnya tidak menimbulkan komplikasi serius dan dapat sembuh sendiri dalam beberapa bulan hingga tahun, moluskum contagiosum tetap perlu diwaspadai karena kemampuannya menyebar dengan cepat. Infeksi ini paling sering menyerang anak-anak, namun orang dewasa dengan sistem kekebalan tubuh lemah atau yang aktif secara seksual juga berisiko tinggi tertular.

Dilansir dari Mayo Clinic, terdapat beberapa tanda dan gejala khas yang menandai infeksi moluskum contagiosum pada kulit. Mengenali ciri-ciri ini sejak dini sangat penting agar kamu dapat segera mencari penanganan medis yang tepat dan mencegah penyebaran lebih luas.

Berikut adalah karakteristik gejala moluskum contagiosum yang perlu diwaspadai:  

  • Benjolan yang muncul memiliki bentuk bulat dan menonjol dari permukaan kulit dengan warna yang serupa atau sedikit berbeda dari warna kulit di sekitarnya.
  • Diameter benjolan biasanya tidak lebih dari 6 milimeter atau sekitar seperempat inci, sehingga terkadang sulit dikenali pada tahap awal.
  • Ciri yang paling khas adalah adanya lekukan kecil atau titik di bagian puncak benjolan yang berada dekat dengan pusatnya, menyerupai lubang kecil.
  • Benjolan dapat berwarna kemerahan atau pink disertai rasa gatal yang mengganggu, yang mana ini dapat memicu keinginan untuk menggaruk.
  • Pada anak-anak, benjolan umumnya muncul di area wajah, badan, lengan, atau kaki, yang merupakan bagian tubuh yang sering bersentuhan saat bermain.
  • Pada orang dewasa yang tertular melalui kontak seksual, benjolan cenderung muncul di area kelamin, perut bagian bawah, atau paha bagian dalam.

Tren thrifting dan kebiasaan mencoba pakaian di toko pakaian bekas sebelum membeli memang menjadi hal yang wajar untuk memastikan ukuran dan model yang sesuai. Namun, banyak pembeli yang langsung mencoba pakaian bekas tanpa mempertimbangkan riwayat pemakaian dan kebersihannya terlebih dahulu.

Pakaian yang telah dikenakan oleh orang lain, terutama yang mungkin memiliki kondisi kulit tertentu, dapat menjadi media penyebaran virus dan bakteri. Lebih mengkhawatirkan lagi, sebagian besar pembeli tidak langsung mencuci pakaian yang baru dibeli dan memilih untuk mengenakannya terlebih dahulu, yang justru meningkatkan risiko penularan penyakit kulit.

Dilansir dari MDLinx, dr. Zahn, seorang asisten profesor klinis dermatologi di Universitas George Washington menjelaskan bahwa moluskum menyebar melalui kontak dengan virus, oleh karena itu penularan melalui pakaian atau handuk sangat mungkin terjadi.

"Secara umum, mencuci tangan, menghindari berbagi pakaian, serta mencuci pakaian yang baru dibeli dapat membantu mengurangi penyebaran moluskum," jelas Dr. Zahn dalam keterangannya.

Fakta ini menyoroti pentingnya kehati-hatian ekstra saat belanja pakaian bekas, terutama pakaian dalam atau pakaian yang bersentuhan langsung dengan kulit.

Namun, jika sudah terlanjur terserang moluskum, laman Hello Sehat memberikan beberapa penjelasan mengenai metode pengobatan yang dapat kamu lakukan. Metode yang diberikan mencakup prosedur medis maupun keperawatan mandiri di rumah. Dimana pengobatan medis umumnya diperlukan untuk mempercepat penyembuhan dan mencegah penyebaran infeksi ke area kulit lain atau ke orang lain.

Meskipun dalam banyak kasus moluskum dapat sembuh sendiri, penanganan medis tetap direkomendasikan terutama jika benjolan terus bertambah, menyebabkan ketidaknyamanan, atau mempengaruhi penampilan.

  • Prosedur Pengangkatan Benjolan secara Fisik

Prosedur pengangkatan merupakan salah satu metode pengobatan yang efektif untuk menghilangkan benjolan moluskum dari kulit. Terdapat tiga teknik utama yang biasa digunakan, yaitu cryoablation (pembekuan benjolan menggunakan nitrogen cair), kuretase (pengerokan benjolan dengan alat khusus), dan terapi laser yang menggunakan sinar untuk menghancurkan jaringan yang terinfeksi. Ketiga prosedur ini biasanya dilakukan oleh dokter kulit profesional dan mungkin memerlukan beberapa sesi tergantung pada jumlah dan tingkat keparahan benjolan yang ada.

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore