
Seorang pria paruh baya terlihat menikmati secangkir kopi di pagi hari, merayakan sukacita dan kehadiran di masa kini. (Freepik)
JawaPos.com - Mencapai usia 65 tahun seringkali dianggap sebagai masa puncak kehidupan, namun kebahagiaan sejati tidak datang layaknya piala kemenangan yang diraih dengan susah payah. Menurut Farley Ledgerwood, kebahagiaan atau sukacita sejati justru hadir seperti sinar matahari pagi yang sunyi, andal, dan lebih mudah terlihat setelah menyingkirkan semua kekacauan.
Melansir informasi dari Global English Editing, Farley Ledgerwood mengatakan telah menghabiskan puluhan tahun mengejar hal-hal yang diyakini akan mendatangkan kegembiraan, padahal kebahagiaan itu justru berupa taman yang mesti dirawat, bukan trofi yang harus dibeli.
Pengalaman hidup mengajarkan bahwa sukacita adalah hasil dari menghentikan pengejaran terhadap hal-hal yang tidak membalas cinta Anda, lalu menggantinya dengan kehadiran dan pemeliharaan diri. Pria ini akhirnya membagikan sembilan hal yang ia berhenti kejar di usia 65 tahun, dan apa yang terbuka setelah ia melepaskan semua itu. Ia berharap orang lain bisa menemukan kursi yang nyaman di ruangan yang sudah mereka tinggali tanpa perlu menunggu waktu lebih lama.
1. Berhenti Mengejar Persetujuan Orang Lain
Anda mungkin terus-menerus membiarkan juri imajiner menilai harga diri Anda, seperti apakah penampilan terlihat pintar di rapat atau apakah tetangga menyukai taman di rumah. Menyadari bahwa tepuk tangan bulat pun tidak dapat menstabilkan kursi batin yang goyah menjadi momen melegakan dalam hidup. Ia kini mengganti pertanyaan "Apakah mereka menyukai saya?" dengan "Apakah saya jujur, baik, dan jelas?".
2. Berhenti Mengejar "Sibuk" sebagai Bukti Bahwa Anda Berarti
Ada saat di mana seseorang mengenakan rasa lelah seperti surat kehormatan dan merasa mudah tergantikan jika kalender tidak terisi rapat dan jadwal. Berusaha menciptakan kembali ritme kerja yang padat setelah pensiun terasa seperti berlari di atas treadmill yang tidak dialiri listrik. Kebahagiaan datang ketika kesibukan ditukar dengan kehadiran di masa kini, alih-alih terus-menerus merasa lelah tanpa hasil yang nyata.
3. Berhenti Mengejar "Lebih Banyak" dan Mulai Memperbaiki yang Sudah Ada
Anda bisa menghabiskan waktu seumur hidup untuk terus menambah barang seperti TV yang lebih besar, bor yang lebih baru, atau panci mewah untuk resep yang mungkin hanya dibuat dua kali. Penulis mulai menyadari bahwa ia memiliki banyak barang duplikat di lemari yang dibeli atas nama "perbaikan" di rumah. Ia lalu mulai memperbaiki alih-alih mengganti barang yang rusak, membuat rumah dan dirinya terasa jauh lebih tenang dan damai.
4. Berhenti Mengejar Kepastian dan Membiarkan Pertanyaan Tetap Terbuka
Penulis dulunya suka mengumpulkan kesimpulan tentang orang, politik, pengasuhan, dan keyakinan, mengira kepastian akan membuatnya tangguh. Kenyataannya, hal itu membuatnya rapuh dan seringkali salah, sebab orang yang paling dikagumi di usia tujuh puluhan justru paling ingin tahu. Kepastian justru mempersempit pandangan hidup, sementara rasa ingin tahu selalu memperluas udara dan pemahaman baru.
5. Berhenti Mengejar Masa Muda dan Memilih Vitalitas Saja
Di usia 65 tahun, lutut mungkin sudah mulai memberi surat protes saat menaiki tangga museum dan tidak ada krim yang bisa menghapus kerutan yang ada di wajah. Mengejar masa muda membuat seseorang membenci wajah yang telah membawanya melewati semua yang ia cintai dalam hidupnya. Vitalitas adalah energi yang dapat diperbarui melalui gerakan, cahaya, tidur, dan keputusan untuk mengenakan sweter terbaik ke toko karena hari ini adalah momen istimewa.
6. Berhenti Mengejar Kebenaran dan Mulai Melindungi Koneksi
Koleksi kemenangan dalam argumen pada usia lima puluhan seringkali terasa seperti hobi, padahal jika memenangkan perdebatan namun kehilangan kehangatan malam, itu tidaklah berarti apa-apa. Penulis menyadari telah mengoreksi fakta di tengah kalimat dan menjelaskan secara panjang lebar, yang membuat suasana ruangan selalu mendingin. Setelah melihat cucu perempuannya menunjukkan kebingungan sopan saat ia menginterupsi cerita, ia memutuskan untuk memilih melindungi koneksi yang berharga.
John Herdman Full Senyum! 2 Pemain Timnas Indonesia, Kevin Diks dan Justin Hubner Cetak Gol di Eropa
Resep Strawberry Cheese Milk, Ide Jualan Takjil Ramadhan yang Segar dan Potensial Laris
Sriwijaya FC Resmi Degradasi ke Liga Nusantara, Ini Deretan Prestasi Laskar Wong Kito
Polemik Panas Terkait Musala di Bekasi Sampai ke DPR, Kini Berakhir Damai
Super Komputer Opta Prediksi 8 Tim yang Lolos Perempat Final Liga Champions UEFA
Resep Bakwan Goreng Ayam Halal, Ide Takjil Gurih yang Bikin Nagih
Rosenior Siap Hadapi PSG, Duel yang Menarik di Babak 16 Besar Liga Champions
Iran Konfirmasi Kematian Pemimpin Tertinggi Negaranya, Ayatollah Ali Khamenei, Usai Serangan Gabungan AS‑Israel
Cedera Frenkie de Jong, Barcelona Hadapi Tantangan Besar!
