Logo JawaPos
Author avatar - Image
12 November 2025, 17.48 WIB

Alasan Psikologis Mengapa Kita Sering Jatuh Cinta pada Orang yang Tak Menyukai Kita, Simak Cara Otak Menipu Perasaan!

Begini Cara Membuka Hati dan Merasakan Jatuh Cinta Menurut Psikologi, Cocok untukmu yang Takut Jatuh Cinta!  (Eyüp Belen/Vecteezy) - Image

Begini Cara Membuka Hati dan Merasakan Jatuh Cinta Menurut Psikologi, Cocok untukmu yang Takut Jatuh Cinta! (Eyüp Belen/Vecteezy)

JawaPos.com — Ada paradoks menarik dalam urusan perasaan: semakin seseorang menjauh, justru semakin kuat dorongan untuk mengejarnya. 

Banyak orang pernah merasakan hal serupa—tertarik pada seseorang yang tampak tak peduli, lalu kehilangan minat ketika rasa itu berbalas. 

Fenomena ini bukan sekadar drama percintaan, melainkan cerminan dari cara kerja otak manusia yang kompleks. 

Para psikolog menjelaskan bahwa ketertarikan semacam ini tidak selalu berasal dari cinta sejati, melainkan dari sistem di otak yang salah memaknai sensasi keinginan dan antisipasi. 

Dengan kata lain, kita sering kali tidak mencintai seseorang sebagaimana yang kita kira—kita justru ketagihan pada sensasi mengejar. 

Dilansir dari YouTube Psych2Go, Rabu (12/11/2025), peneliti menjelaskan bahwa otak manusia kerap tertipu oleh sinyal kimia yang menimbulkan sensasi gairah, padahal yang terjadi hanyalah permainan antara dopamin, serotonin, dan rasa penasaran yang sementara.

1. Otak Salah Membedakan Antara ‘Mencintai’ dan ‘Menyukai’

Penelitian menunjukkan bahwa dopamin tidak membuat seseorang bahagia karena memiliki sesuatu, melainkan karena mengejarnya. 

Hal ini dibuktikan melalui eksperimen yang dilakukan oleh ahli saraf Kent Marage. Hasilnya, ketika dopamin dalam otak tikus diblokir, mereka kehilangan dorongan untuk mengejar makanan, meskipun tetap merasakan kenikmatan saat makanan tersebut langsung diberikan kepada mereka.

Artinya, keinginan untuk mengejar seseorang bisa menjadi candu tersendiri, terlepas dari kenyataan apakah hubungan itu membahagiakan atau tidak.

2. Efek Mengejar Hal Baru yang Membuat Kita Terbius

Otak manusia menyukai hal baru karena setiap pengalaman baru memicu lonjakan dopamin. Itulah sebabnya fase awal jatuh cinta terasa begitu intens dan menggairahkan. 

Namun seiring waktu, dopamin menurun dan serotonin—zat yang menumbuhkan rasa tenang dan stabil—mengambil alih. 

Banyak orang keliru mengira penurunan gairah itu sebagai tanda kehilangan cinta, padahal sebenarnya otak sedang beralih dari fase penuh ‘hasrat’ ke ‘ikatan emosional.’

3. Hal yang Susah Didapatkan Meningkatkan Nilai Emosional

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore