Logo JawaPos
Author avatar - Image
14 November 2025, 17.44 WIB

Ucapkan Selamat Tinggal pada 7 Kebiasaan yang Tanpa Disadari Membuat Anak Tak Percaya Diri dan Tak Bahagia

Ilustrasi anak yang tak bahagia. (Freepik) - Image

Ilustrasi anak yang tak bahagia. (Freepik)

JawaPos.Com - Tak semua luka di masa kecil meninggalkan bekas yang terlihat. Ada luka yang tumbuh dalam diam, yang disemai dari ucapan sederhana, dari tatapan kecewa, atau dari sikap orang tua yang tanpa sadar menanamkan rasa tidak cukup dalam diri anak. 

Saat seorang anak tumbuh, dunia sekitarnya dibangun dari cara orang tuanya memandang dan memperlakukannya. 

Setiap kata, setiap nada bicara, setiap reaksi, menjadi cermin tempat ia melihat siapa dirinya. 

Bila cermin itu retak oleh kritik, tuntutan, atau perbandingan, maka bayangan yang muncul bukanlah anak yang kuat, melainkan jiwa kecil yang mulai ragu pada dirinya sendiri.

Anak yang kehilangan rasa percaya diri bukanlah anak yang kurang pintar atau tak berbakat, melainkan anak yang terlalu sering merasa tidak diterima apa adanya. 

Kepercayaan diri bukan sekadar hasil dari pujian, melainkan dari rasa aman yang ditanamkan sejak kecil. 

Sayangnya, banyak orang tua tidak menyadari bahwa kebiasaan kecil yang tampak sepele bisa menjadi akar dari hilangnya kebahagiaan dan keyakinan diri pada anak. 

Dilansir dari Geediting, inilah tujuh kebiasaan yang tanpa sadar sering dilakukan, tapi berdampak besar pada mental dan perasaan anak di kemudian hari.

1. Terlalu Sering Membandingkan Anak dengan Orang Lain

“Lihat tuh, anak tetangga bisa begini, kenapa kamu tidak?”
Kalimat sederhana seperti ini bisa menjadi racun yang perlahan merusak rasa percaya diri anak. 

Perbandingan membuat anak merasa dirinya tak pernah cukup. Ia belajar bahwa cintamu bersyarat, bahwa ia hanya pantas diterima jika seperti orang lain.

Anak yang tumbuh di bawah bayangan perbandingan akan terus mengejar validasi, bukan kebahagiaan. 

Ia akan berusaha keras menjadi seseorang yang bukan dirinya sendiri, hanya demi mendapatkan pengakuan. 

Padahal, setiap anak unik, dan ketika ia terus dibandingkan, jiwanya kehilangan arah untuk berkembang menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri.

2. Menolak atau Meremehkan Perasaan Anak

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore