Ilustrasi rutinitas yang membantu lansia tetap tajam secara mental (Geediting)
JawaPos.com - Pagi itu, saat berjalan santai di taman, terlihat sekelompok orang berusia akhir 60-an hingga awal 70-an sedang tertawa, berdiskusi soal berita, dan saling menggoda layaknya anak muda. Mereka tampak hadir sepenuhnya—tajam secara mental dan tenang secara emosional.
Momen sederhana tersebut mengingatkan pada satu hal penting: bertambah usia tidak otomatis berarti menurun. Dalam banyak kasus, justru kebiasaan harianlah yang semakin menentukan kualitas hidup.
Dilansir dari laman Geediting, Selasa (06/01), ada sejumlah rutinitas sederhana yang kerap dilakukan orang-orang berusia 60–70 tahun yang tetap jernih pikirannya dan stabil emosinya. Tidak rumit, tidak mahal, namun konsisten dilakukan.
Berikut delapan di antaranya.
Banyak orang memulai pagi dengan langsung mengecek ponsel, membaca berita, atau terburu-buru menjalani aktivitas. Tanpa disadari, hal ini membuat sistem saraf sudah tegang sejak awal hari.
Sebaliknya, orang lanjut usia yang tetap stabil emosinya cenderung memulai hari dengan lebih tenang. Ada yang menikmati kopi sambil duduk diam, berdoa singkat, menarik napas dalam, atau sekadar memberi jeda lima menit sebelum beraktivitas.
Kebiasaan ini memberi sinyal pada otak bahwa hari berjalan dengan ritme yang terkendali—sesuatu yang sangat berpengaruh pada kestabilan emosi.
Gerak adalah bahan bakar bagi otak. Tidak perlu olahraga berat atau target berlebihan. Jalan kaki, peregangan ringan, berkebun, atau latihan kekuatan sederhana sudah sangat cukup.
Aktivitas fisik membantu melancarkan peredaran darah yang mendukung daya ingat, fokus, dan suasana hati. Lebih dari itu, rutinitas gerak harian memberi struktur pada waktu—sesuatu yang sering diremehkan, padahal penting bagi kesehatan mental.
Banyak orang berhenti belajar setelah pensiun. Namun mereka yang tetap tajam secara mental justru terus memelihara rasa ingin tahu.
Membaca, mencoba resep baru, mempelajari fitur ponsel, atau bahkan belajar bahasa asing secara santai—semua itu menjaga otak tetap lentur. Rasa ingin tahu yang terpelihara erat kaitannya dengan kesehatan emosional.
Ketika rasa ingin tahu padam, stagnasi sering kali menyusul.
Kesepian merupakan salah satu ancaman terbesar bagi kesehatan emosional di usia lanjut. Namun menjaga hubungan sosial tidak harus dengan jadwal padat.
Orang-orang yang kuat secara emosional biasanya memiliki rutinitas sosial kecil tapi konsisten—berbincang dengan tetangga, menelepon teman lama, atau bertemu kelompok yang sama di taman atau kedai kopi.
John Herdman Full Senyum! 2 Pemain Timnas Indonesia, Kevin Diks dan Justin Hubner Cetak Gol di Eropa
Resep Strawberry Cheese Milk, Ide Jualan Takjil Ramadhan yang Segar dan Potensial Laris
Sriwijaya FC Resmi Degradasi ke Liga Nusantara, Ini Deretan Prestasi Laskar Wong Kito
Polemik Panas Terkait Musala di Bekasi Sampai ke DPR, Kini Berakhir Damai
Super Komputer Opta Prediksi 8 Tim yang Lolos Perempat Final Liga Champions UEFA
Resep Bakwan Goreng Ayam Halal, Ide Takjil Gurih yang Bikin Nagih
Rosenior Siap Hadapi PSG, Duel yang Menarik di Babak 16 Besar Liga Champions
Iran Konfirmasi Kematian Pemimpin Tertinggi Negaranya, Ayatollah Ali Khamenei, Usai Serangan Gabungan AS‑Israel
Cedera Frenkie de Jong, Barcelona Hadapi Tantangan Besar!
