Mengutamakan pertumbuhan adalah salah satu alasan orang dewasa emosional bisa meninggalkan pertemanan palsu tanpa penyesalan (freepik)
JawaPos.com – Pada dasarnya menjalin persahabatan bisa menjadi urusan yang rumit terutama ketika persahabatan itu tampak kurang tulus.
Kedewasaan emosional melainkan peran kunci dalam memahami kapan sebuah persahabatan menjadi lebih banyak merugikan daripada menguntungkan.
Seiring bertambahnya kedewasaan emosional,sebagian orang justru belajar satu hal penting yaitu melepaskan hubungan yang tidak sehat tanpa rasa bersalah.
Dalam psikologi modern, kemampuan meninggalkan pertemanan palsu dipandang sebagai tanda kematangan emosional bukan sikap egois. Lantas mengapa orang matang secara emosional mampu meninggalkan pertemanan palsu tanpa penyesalan?
Dilansir dari laman Global English Editing, Minggu (1/2) berikut ulasan lengkapnya :
Kedewasaan emosional membawa kita lebih dekat dengan jati diri kita yang sebenarnya. Dan kesadaran diri yang meningkat ini membuat kita lebih selektif dalam memilih kepada siapa kita menginvestasikan waktu dan energi kita.
Orang yang matang secara emosional menempatkan keaslian sebagai fondasi hubungan. Mereka tidak lagi ingin berpura-pura demi diterima atau menyesuaikan diri secara berlebihan hanya agar terlihat cocok.
Penelitian dalam Journal of Personality and Social Psychology menunjukkan hidup selaras dengan diri autentik berkorelasi kuat dengan kebahagiaan dan kesehatan mental.
Jadi ketika pertemanan menuntut kepalsuan maka individu dewasa emosional memilih mundur demi menjaga integritas diri. Dan mereka melakukannya tanpa penyesalan karena mereka memahami nilai diri mereka dan nilai waktu mereka. Ini bukan tentang bersikap jahat atau tidak toleran namun tentang menjaga perdamaian dan membina hubungan yang bermakna.
Meninggalkan pertemanan palsu sering kali berangkat dari harga diri yang sehat bukan kesombongan. Orang dengan harga diri stabil tidak membutuhkan validasi dari hubungan yang merendahkan atau manipulatif.
Studi Self and Identity (2021) menemukan bahwa individu dengan self-esteem sehat cenderung menetapkan batasan sosial yang jelas. Intinya mereka memahami bahwa rasa hormat dari orang lain berawal dari cara mereka menghargai diri sendiri.
Oleh sebab itu, mereka mengutamakan harga diri mereka, mereka tahu nilai kedamaian mereka dan tidak membiarkannya diganggu oleh siapa pun dengan dalih persahabatan.
Terlibat secara terus-menerus dalam interaksi yang menguras emosi dapat memicu respons stres dalam tubuh. Reaksi ini, jika berulang dari waktu ke waktu dapat menyebabkan stres kronis yang telah dikaitkan dengan berbagai komplikasi kesehatan termasuk penyakit jantung hingga penyakit mental.
Individu yang matang secara emosional memahami hubungan yang rumit antara kesejahteraan emosional dan kesehatan fisik.
John Herdman Full Senyum! 2 Pemain Timnas Indonesia, Kevin Diks dan Justin Hubner Cetak Gol di Eropa
Resep Strawberry Cheese Milk, Ide Jualan Takjil Ramadhan yang Segar dan Potensial Laris
Sriwijaya FC Resmi Degradasi ke Liga Nusantara, Ini Deretan Prestasi Laskar Wong Kito
Polemik Panas Terkait Musala di Bekasi Sampai ke DPR, Kini Berakhir Damai
Super Komputer Opta Prediksi 8 Tim yang Lolos Perempat Final Liga Champions UEFA
Resep Bakwan Goreng Ayam Halal, Ide Takjil Gurih yang Bikin Nagih
Rosenior Siap Hadapi PSG, Duel yang Menarik di Babak 16 Besar Liga Champions
Iran Konfirmasi Kematian Pemimpin Tertinggi Negaranya, Ayatollah Ali Khamenei, Usai Serangan Gabungan AS‑Israel
Cedera Frenkie de Jong, Barcelona Hadapi Tantangan Besar!
