Logo JawaPos
Author avatar - Image
08 Februari 2026, 19.41 WIB

Pengasuhan Koala Makin Digemari : 6 Alasan Psikologis Anak Tumbuh Lebih Aman

Salah satu alasan psikologi banyak orang tua menggunakan pengasuhan koala adalah membangun kepercayaan diri pada anak (freepik)

JawaPos.com – Dalam beberapa tahun terakhir istilah pengasuhan koala semakin sering muncul di kalangan orang tua muda. Pola asuh ini merujuk pada pendekatan hangat, responsif dan penuh kelekatan sebagaimana hal ini mirip anak koala yang merasa aman saat berada dekat induknya.

Di tengah dunia yang serba cepat dan penuh distraksi, banyak orang tua mulai menyadari bahwa kedekatan emosional justru menjadi fondasi utama tumbuh kembang anak.

Ini bukan tentang memanjakan atau terlalu melindungi namun ini tentang memberikan jaminan yang stabil, kehangatan dan ruang aman untuk tumbuh. Orang tua koala sering memprioritaskan momen-momen kebersamaan mulai dari memeluk, mendengarkan, menenangkan dan hadir dengan cara-cara kecil namun bermakna.

Lantas apa saja alasan utama pengasuhan koala makin digemari di era saat ini?

Dilansir dari laman Marriage, Minggu (8/2) berikut beberapa alasan psikologis pengasuhan koala banyak diminati para orang tua baru :

  1. Mendorong keterikatan yang aman

Anak-anak tumbuh dengan baik ketika mereka merasa aman, diperhatikan dan didukung. Pola pengasuhan koala mampu mendorong orang tua untuk mendekap anak-anak mereka baik secara fisik maupun emosional yang membangun fondasi kepercayaan.

Penelitian dalam Attachment and Human Development menunjukkan bahwa keterikatan yang aman berhubungan dengan kemampuan anak membangun relasi sehat di masa dewasa.

Rasa aman ini membantu anak-anak menjelajahi dunia mereka dengan percaya diri. Mereka tahu bahwa mereka dapat kembali ke kenyamanan kapan pun dibutuhkan dan jaminan itu menjadi dasar bagi hubungan yang sehat di kemudian hari.

  1. Mendorong pengaturan emosi

Dalam pengasuhan koala, emosi anak tidak ditekan tetapi dipandu. Anak-anak diajak mengenali perasaan marah, sedih atau kecewa lalu diajari cara menenangkannya.

Alih-alih menekan atau mengabaikan emosi, anak-anak belajar bahwa tidak apa-apa untuk mengekspresikan diri. Seiring waktu, ini memupuk ketahanan dan empati.

Uniknya lagi, mereka tumbuh dengan mengetahui bahwa perasaan bukanlah sesuatu yang menakutkan melainkan sinyal yang layak mendapat perhatian dan pemahaman.

Studi di Developmental Psychology menemukan bahwa anak dengan pendampingan emosi yang konsisten memiliki kemampuan regulasi emosi lebi baik.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore