
Salah satu adegan film Kopi Pangku yang terinspirasi dari fenomena kopi pangku di Pantura (Istimewa).
JawaPos.com - Dalam kondisi berbadan dua, Sartika (Claresta Taufan) berupaya mencari kebahagiaan dengan memulai kehidupan baru. Dia memutuskan untuk hijrah dari kota asalnya. Terbawa hingga ke wilayah pesisir di Pantai Utara (Pantura).
Di malam itu, Sartika berjalan dengan kondisi yang terombang-ambing. Sebab, dia tidak punya sanak saudara atau kenalan yang bisa dijadikan tumpangan untuk menginap. Sampai akhirnya, Sartika bertemu dengan Maya (Christine Hakim).
Pemilik warung kopi pangku yang belakangan ini juga sedang merasakan krisis pembeli. Sartika tak punya pilihan lagi selain ikut tinggal bersama Maya dan suaminya. Maya menjadi ‘orang tua’ baru bagi Sartika.
Dia dirawat hingga putranya lahir dan tumbuh besar. Atas dasar balas budi, Sartika akhirnya bekerja sebagai pelayan kopi pangku di warung milik Maya. Saat menjalani peran itu, Sartika bertemu dengan Hadi (Fedi Nuril).
Sopir truk pengangkut ikan itu jatuh hati dengan Sartika. Begitu juga sebaliknya. Pertemuan itu memberikan cahaya sekaligus harapan baru bagi Sartika dan putranya Bayu (Shakeel Fauzi) untuk bisa keluar dari dunia malam tersebut.
Namun, apakah pada akhirnya hidup Sartika berujung bahagia? Setelah lebih dari dua dekade berkecimpung di dunia keaktoran, Reza Rahadian melahirkan karya film panjang pertamanya berjudul Pangku.
Terinspirasi dari fenomena kopi pangku di Pantura, dia berhasil mengemas film tersebut dengan apik dari segi cerita maupun sinematik. Reza memotret hidup Sartika lewat film Pangku. Sebuah karya yang indah untuk debut penyutradaraan.
Realita kehidupan masyarakat wilayah pesisir tergambar jelas dan ril dalam film tersebut. Kepedihan yang ditampilkan tidak lewat adegan tangis atau dialog panjang yang mendalam. Namun, melalui sebuah situasi nyata.
Misal, ketika harus membangunkan Bayu karena kamar yang ditempati mau digunakan untuk memenuhi hasrat pelanggan. Begitu juga dengan kebahagiaan yang hanya ditampilkan lewat ikan goreng.
Di kehidupan Maya dan Sartika, makan dengan lauk ikan goreng utuh menjadi sesuatu yang mahal dan membahagiakan. “Buat saya ini akan menjadi penawaran baru di dunia perfilman Indonesia,” puji Christine.
Menurutnya, Reza sangat cerdik dalam menyerap ilmu penyutradaraan selama dirinya terjun ke dunia film puluhan tahun. Sebab, formula-formula yang dia terapkan dalam film Pangku seringkali terlupakan oleh para sutradara.
“Walaupun sebagai aktor, Reza menyerap ilmu sinematografi, editing, suara dengan baik. Dia tidak hanya peka sebagai aktor, tapi juga sebagai manusia,” tutur Christine.
Film Pangku memiliki cerita dan karakter yang kuat. Menampilkan sisi lain fenomena kehidupan sosial masyarakat Indonesia yang jarang tersorot di wilayah Pantura.
Kesuksesan film Pangku meraih empat penghargaan di Busan International Film Festival (BIFF) menjadi bayaran yang pas untuk Reza. Sebelum menulis skenario bareng Felix, mereka sempat melalukan riset secara langsung.
John Herdman Full Senyum! 2 Pemain Timnas Indonesia, Kevin Diks dan Justin Hubner Cetak Gol di Eropa
Resep Strawberry Cheese Milk, Ide Jualan Takjil Ramadhan yang Segar dan Potensial Laris
Sriwijaya FC Resmi Degradasi ke Liga Nusantara, Ini Deretan Prestasi Laskar Wong Kito
Polemik Panas Terkait Musala di Bekasi Sampai ke DPR, Kini Berakhir Damai
Super Komputer Opta Prediksi 8 Tim yang Lolos Perempat Final Liga Champions UEFA
Resep Bakwan Goreng Ayam Halal, Ide Takjil Gurih yang Bikin Nagih
Rosenior Siap Hadapi PSG, Duel yang Menarik di Babak 16 Besar Liga Champions
Iran Konfirmasi Kematian Pemimpin Tertinggi Negaranya, Ayatollah Ali Khamenei, Usai Serangan Gabungan AS‑Israel
Cedera Frenkie de Jong, Barcelona Hadapi Tantangan Besar!
