Logo JawaPos
Author avatar - Image
23 November 2025, 23.16 WIB

Dukun Magang, Film Horor Komedi Membenturkan Akal Sehat dengan Ilmu Warisan

Film Dukun Magang benturkan akal sehat dan cara berpikir tradisi. (istimewa) - Image

Film Dukun Magang benturkan akal sehat dan cara berpikir tradisi. (istimewa)

JawaPos.com - Film Dukun Magang mengeksplor sisi seram dari horor dan mengawinkannya dengan nuansa komedi. Film arahan sutradara Chiska Doppert ini berusaha membenturkan akal sehat yang biasanya dipegang oleh anak-anak muda dengan ilmu warisan tradisi yang terkadang di luar nalar.

Film Dukun Magang diproduseri oleh Denny Januar sebagai dan ide ceritanya berasal dari Ki Semar. Benturan pendekatan berpikir diracik dengan seru dan jitu untuk menghadirkan tontonan yang menghibur bagi para penonton.

"Ide Dukun Magang berangkat dari kegelisahan saya melihat banyak anak muda memutus hubungan dengan tradisi hanya karena merasa sudah modern. Lewat benturan Raka dan Mbah Djambrong, saya ingin menunjukkan bahwa akal sehat dan ilmu warisan sebenarnya bisa saling berdialog, bukan saling meniadakan,” kata Ki Semar dalam keterangannya.

Chiska Doppert selaku sutradara mengatakan, film yang lahir dari pendekatan pertentangan logika modern dan kepercayaan tradisi diyakininya bakal menjadi kekuatan tersendiri dari film Dukun Magang.

"Tokoh Raka mewakili generasi muda yang rasional dan skeptis, sedangkan Mbah Djambrong melambangkan ilmu warisan yang sarat nilai dan misteri," ungkapnya.

Pertentangan pendekatan cada berpikir diperlihatkan melalui nuansa visual dalam film Dukun Magang. Modernitas dan cara pandang modern memperlihatkan lewat dunia kampus dengan suasana terang, bersih, dan modern. Adapun cara berpikir tradisi diperlihatkan lewat Desa Kalimati yang remang, berasap dupa, dan berpalet tanah. 

“Komposisi gambar sengaja dibuat bertabrakan simetris di kampus, tapi berantakan dan organik di dunia dukun untuk menunjukkan benturan dua cara berpikir itu,” paparnya.

Dia menambahkan, nuansa horor yang seram dibangun dengan cukup serius dalam film Dukun Magang. Namun untuk komedinya, muncul secara natural lewat reaksi manusiawi sebagai respons atas situasi dan kondisi yang ada dalam adegan film.

“Kuncinya adalah niat dramatiknya tetap serius, tapi karakternya yang gagal bersikap serius. Horornya harus tetap mencekam, sementara komedinya muncul dari reaksi manusiawi para tokoh. Bukan dari lelucon verbal semata,” ungkapnya.

Menurut dia, film Dukun Magang menggunakan ritme editing dan blocking aktor sebagai bagian alat komedi. Salah satu contohnya, ada adegan ayam jago berkokok setiap kali Mbah Djambrong ingin bicara hal penting.

"Atau timing takutnya Boiman yang selalu salah momen. Ketegangan dibangun dulu, lalu dilepas lewat humor. Setelah mereka tertawa, ancaman horor berikutnya terasa lebih kuat," bebernya.

Film Dukun Magang menceritakan tentang Raka (Jefan Nathanio), mahasiswa skeptis dengan target hidup sederhana yang penting lulus skripsi. Dia terpaksa pulang ke desa Kalimati bersama Sekar (Hana Saraswati), mahasiswi cerdas pewaris tradisi keluarganya.

Tanpa diduga, ada satu kesalahan yang dilakukan hingga membuka pintu petaka karena membuat terlepasnya kuntilanak hitam yang dikurung selama 12 tahun.

Untuk menebus kesalahannya, Raka memutuskan magang pada dukun legendaris Mbah Djambrong (Adi Sudirja) dan harus belajar kilat dari topo patigeni, meracik kurungan ayam belang telon, hingga berburu tali pocong perawan dalam sebuah perjalanan yang kocak, mencekam, sekaligus menguji nyali.

Dalam film ini, benturan logika modern dan warisan ilmu tidak sekadar menjadi bumbu, tapi menjadi nyawa dari cerita film.

Editor: Sabik Aji Taufan
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore