Logo JawaPos
Author avatar - Image
12 Februari 2026, 02.19 WIB

Wuthering Heights Garapan Emerald Fennell Tuai Kritik atas Perubahan Karakter dan Penyederhanaan Alur Cerita

Margot Robbie dalam Wuthering Heights (IMDb) - Image

Margot Robbie dalam Wuthering Heights (IMDb)

JawaPos.com – Film Wuthering Heights garapan Emerald Fennell kembali menarik perhatian publik melalui pendekatan adaptasi yang tidak konvensional.

Sutradara tersebut menghadirkan tafsir modern atas kisah klasik Emily Brontë dengan gaya visual dan naratif yang provokatif.

Sejumlah elemen artistik, pemilihan pemeran, hingga perubahan struktur cerita menjadi sorotan utama dalam ulasan film ini.

Berikut 5 hal yang mencerminkan penilaian kritis terhadap film Wuthering Heights karya Emerald Fennell, seperti dilansir dari laman The Guardian pada Rabu (11/2).

  1. Pendekatan Visual dan Gaya Penceritaan

Emerald Fennell menampilkan Wuthering Heights sebagai karya dengan gaya visual berlebihan dan penuh sensasi. Film ini memadukan estetika pemotretan mode dengan narasi drama romantik klasik. Pendekatan tersebut menciptakan suasana yang dinilai ganjil dan hiperbolik. Kekonyolan visual dianggap mendominasi alih-alih memperkuat emosi cerita.

  1. Penafsiran Karakter Cathy dan Heathcliff

Cathy digambarkan sebagai sosok yang emosional, flamboyan, dan rapuh secara psikologis. Sementara itu, Heathcliff tampil sebagai figur murung dengan transformasi visual yang cukup drastis. Relasi keduanya ditampilkan lebih sebagai atraksi emosional daripada konflik batin mendalam. Penafsiran ini dinilai menjauh dari kompleksitas karakter dalam novel aslinya.

  1. Perubahan Struktur Cerita dan Penghilangan Tokoh

Fennell secara signifikan menyederhanakan alur cerita dengan menghapus sejumlah karakter penting. Bagian kedua novel yang membahas generasi penerus sepenuhnya dihilangkan. Perubahan tersebut membuat cerita terasa terputus dari kedalaman tematik aslinya. Adaptasi ini dinilai lebih mementingkan gaya dibanding kesinambungan naratif.

  1. Penanganan Tema Sensitif dan Relasi Kekuasaan

Film ini menyentuh tema relasi kuasa dan kekerasan emosional dengan pendekatan yang dianggap ringan. Beberapa konflik serius direduksi menjadi elemen estetika semata. Hal tersebut memunculkan kritik terkait ketidakseimbangan antara pesan dan penyajian. Tema gelap novel dinilai kehilangan bobot moralnya.

  1. Penilaian Keseluruhan dan Dampak Emosional

Secara keseluruhan, Wuthering Heights versi Fennell dinilai kurang memberikan dampak emosional yang kuat. Film ini dianggap tidak setajam karya-karya Fennell sebelumnya. Nuansa emosional yang muncul terasa artifisial dan berjarak. Adaptasi ini dipandang lebih sebagai eksperimen gaya daripada eksplorasi makna cinta tragis.

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore