
Kapolri Listyo Sigit Prabowo usai dialog dnegan koalisi masyarakat sipil. (Mabes Polri)
JawaPos.com - Di tengah niatan pemerintah melakukan reformasi di tubuh Polri, pengamat Haidar Alwi menyampaikan bahwa reformasi Polri tidak bisa hanya dilakukan dari dalam institusi penegak hukum tersebut.
Menurut dia, harus ada gerak dua arah. Termasuk masyarakat yang memberikan penilaian kinerja Korps Bhayangkara. Dia menyebut kepercayaan publik sebagai salah satu PR bagi Polri.
Haidar menyampaikan, bila dilihat dari aspek penegakan hukum, pelayanan publik, dan pemanfaatan teknologi dalam sistem kepolisian, banyak indikator objektif mencerminkan peningkatan efektivitas institusi Polri.
Berbagai reformasi internal sudah tampak dilakukan oleh Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo dan jajaran.
”Namun di tengah kemajuan tersebut, muncul paradoks yang masih menjadi PR besar. Yaitu rapuhnya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap Polri. Sebuah paradoks yang menunjukkan betapa persepsi publik sering tertinggal dari realita faktual,” ungkap dia dalam keterangan resmi yang dikutip pada Kamis (16/10).
Pendiri Haidar Alwi Institute itu pun menyampaikan bahwa saat ini sebagian besar masyarakat melihat Polri lewat kacamata masa lalu. Utamanya melihat beberapa kasus yang viral.
Sayangnya, itu tidak dibarengi dengan penilaian terhadap kerja-kerja Polri dalam pelaksanaan tugas. Akibatnya, muncul kesenjangan persepsi terhadap institusi kepolisian.
Haidar menyatakan bahwa pada era media sosial (medsos) saat ini, kesalahan yang dibuat oleh satu saja personel Polri dapat menghancurkan reputasi institusi secara keseluruhan.
Sebaliknya, kerja-kerja baik yang dilakukan tidak jarang tertutup oleh kesalahan-kesalahan tersebut. Padahal ada ratusan ribu personel yang bekerja dengan baik.
”Kepercayaan masyarakat terhadap Polri akan selalu menjadi kerja panjang dan tidak bisa dibangun hanya dengan prestasi teknis. Ia menuntut kedewasaan masyarakat dalam menilai, kejujuran media dalam memberitakan, dan keberanian moral Polri untuk terus memperbaiki diri tanpa kehilangan arah,” terang dia.
Saat ini, lanjut Haidar, Polri sudah berada dalam jalur yang tepat. Yakni melalui penguatan pelayanan publik, penegakkan hukum secara profesional, dan membuka ruang kritik dari berbagai pihak.
Dia menyebut, kinerja Polri adalah capaian yang dapat diukur, sementara kepercayaan publik adalah refleksi subjektif yang harus dijaga bersama.
”Polri sudah berbuat, sudah berbenah, dan sudah membuktikan. Kini giliran masyarakat untuk beralih dari keraguan menuju pengakuan. Sebab, kepercayaan tidak akan tumbuh bila hanya satu pihak yang bekerja keras membangunnya,” terang dia.
Menurut Haidar, hal itu bersesuaian dengan pernyataan salah seorang calon anggota Komite Reformasi Polri Mahfud MD.
Mahfud sempat menyampaikan bahwa kinerja Polri dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan kemajuan yang tidak bisa diabaikan.
John Herdman Full Senyum! 2 Pemain Timnas Indonesia, Kevin Diks dan Justin Hubner Cetak Gol di Eropa
Resep Strawberry Cheese Milk, Ide Jualan Takjil Ramadhan yang Segar dan Potensial Laris
Sriwijaya FC Resmi Degradasi ke Liga Nusantara, Ini Deretan Prestasi Laskar Wong Kito
Polemik Panas Terkait Musala di Bekasi Sampai ke DPR, Kini Berakhir Damai
Super Komputer Opta Prediksi 8 Tim yang Lolos Perempat Final Liga Champions UEFA
Resep Bakwan Goreng Ayam Halal, Ide Takjil Gurih yang Bikin Nagih
Rosenior Siap Hadapi PSG, Duel yang Menarik di Babak 16 Besar Liga Champions
Iran Konfirmasi Kematian Pemimpin Tertinggi Negaranya, Ayatollah Ali Khamenei, Usai Serangan Gabungan AS‑Israel
Cedera Frenkie de Jong, Barcelona Hadapi Tantangan Besar!
