Logo JawaPos
Author avatar - Image
29 Oktober 2025, 02.16 WIB

GAPKI Siap Gelar IPOC 2025, Memperkuat Tata Kelola dan Daya Saing Sawit Global di Tengah Kompleksitas

Ketua Umum GAPKI, Eddy Martono (kanan kedu). (Nanda Prayoga/JawaPos.com)

JawaPos.com - Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) kembali menjadi sorotan dengan rencana penyelenggaraan forum strategis tahunan yang telah menjadi barometer penting, yakni konferensi sawit yang mempertemukan pemerintah, para pakar internasional, dan pegiat industri. 

Ajang akbar ini, The 21st Indonesian Palm Oil Conference (IPOC) and 2026 Price Outlook (IPOC 2025), dijadwalkan berlangsung pada 12–14 November 2025 di Bali International Convention Center, The Westin Resort Nusa Dua, Bali.

Konferensi tahun ini mengusung tema ambisius 'Navigating Complexity, Driving Growth: Governance, Biofuel Policy, and Global Trade'. Tema ini dipilih untuk mencerminkan komitmen industri sawit Indonesia dalam memperkuat tata kelola, menjaga daya saing di tengah dinamika perdagangan dunia, serta menyikapi perkembangan global mengenai kontribusi industri sawit dalam kebijakan bauran energi atau biofuel. 

Sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia, Indonesia memiliki peran strategis dalam menjaga keseimbangan pasokan minyak nabati global, di mana industri ini terus beradaptasi terhadap perubahan kebijakan, tantangan lingkungan, serta transformasi energi hijau yang tengah berkembang pesat di berbagai negara.

Dalam konteks ekonomi nasional, sektor sawit juga menjadi pilar penting yang menopang ekspor nonmigas dan membuka peluang pertumbuhan ekonomi berkelanjutan bagi jutaan masyarakat di wilayah perkebunan.

Ketua Umum GAPKI, Eddy Martono, menyampaikan bahwa penyelenggaraan IPOC 2025 menjadi momentum penting untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam menghadapi tantangan global yang semakin kompleks. Forum ini diharapkan mampu menghasilkan gagasan strategis dan kebijakan adaptif yang memperkuat posisi Indonesia di pasar global.

“IPOC merupakan forum strategis untuk membahas arah industri kelapa sawit ke depan, khususnya upaya-upaya yang dapat dilakukan para pelaku industri sawit dalam mendorong produktivitas di tengah beragam peluang dan tantangan domestik maupun global,” ujar Eddy di kantornya, Selasa (28/10).

IPOC 2025 akan menghadirkan deretan pembicara nasional dan internasional terkemuka di bidang minyak nabati dan kebijakan perdagangan.

Analisis mengenai proyeksi harga dan tren pasar minyak nabati dunia akan disampaikan oleh Thomas Mielke (Executive Director Oil World), sementara Julian McGill (pendiri Glenauk Economics) akan memberikan pandangan tentang dinamika makroekonomi komoditas. 

Dari Tiongkok, Ryan Chen dari Cargill Investments akan memaparkan outlook ekonomi Tiongkok dan prospek bagi industri sawit, disusul oleh Satia Varqa dari FastMarkets yang akan mengulas respon strategis dalam menghadapi tantangan pasar global.

Seperti gelaran tahun-tahun sebelumnya, sorotan utama akan kembali tertuju pada Dorab Mistry (Godrej International Ltd.), analis minyak nabati senior terkemuka dunia yang akan menguak prospek harga tahun mendatang.

Isu keberlanjutan dan regulasi global juga akan dibahas mendalam oleh Pietro Paganini, pakar komunikasi dan kebijakan publik internasional. Sementara itu, Eddy Abdurrachman dan Andri Hadi akan menyoroti arah kebijakan serta diplomasi sawit Indonesia di tingkat internasional. Analisis mendalam mengenai rantai pasok, kebijakan energi, serta prospek investasi jangka panjang di sektor minyak nabati akan disampaikan oleh M. Fadhil Hasan dan Oscar Tjakra.

Sesi-sesi khusus akan menghadirkan arahan dan pandangan strategis dari para pembuat kebijakan. Sejumlah nama kunci yang akan hadir antara lain, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional / Kepala Bappenas Republik Indonesia, Rachmat Pambudy; Wakil Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Arif Havas Oegroseno; Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono; serta Menteri Koordinator bidang Perekonomian Republik Indonesia, Airlangga Hartarto.

Para keynote speakers ini akan menyampaikan bagaimana peta jalan industri sawit menuju target Indonesia Emas 2045, serta seperti apa dampak kebijakan tarif Trump dan implementasi EUDR terhadap pasar dan daya saing industri kelapa sawit.

Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore