Logo JawaPos
Author avatar - Image
01 November 2025, 01.49 WIB

Pakar Gizi Optimistis Keberhasilan Program MBG: Harus Tepat Sasaran dan Berkelanjutan

Siswa saat menyantap makanan pada program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SDN 03 Jati Pulogadung, Jakarta. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com) - Image

Siswa saat menyantap makanan pada program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SDN 03 Jati Pulogadung, Jakarta. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)

JawaPos.com-Pemerintah memperkuat komitmen membangun sumber daya manusia unggul melalui Program Makanan Bergizi Gratis (MBG). Program itu untuk menekan kasus stunting dan meningkatkan kualitas kesehatan anak-anak sekolah dasar.

Dari sudut pandang praktisi gizi, MBG bukan sekadar program penyediaan makanan, melainkan investasi jangka panjang untuk mencetak generasi emas Indonesia 2045.

Menurut Mochammad Rizal, MS, RD, ahli Gizi yang tengah menempuh studi doktoral bidang International Nutrition di Cornell University, Amerika Serikat, program ini berpotensi besar memperbaiki kualitas hidup anak-anak Indonesia jika dijalankan dengan tepat sasaran dan berkelanjutan.

“Permasalahan gizi yang ingin kita atasi bukan hanya tentang tinggi badan. MBG adalah investasi jangka panjang untuk masa depan Indonesia,” ujar Mochammad Rizal melalui keterangannya.

Rizal menuturkan, Indonesia masih menghadapi triple burden of malnutrition, stunting, anemia, dan obesitas, pada anak-anak. Terutama dari keluarga menengah ke bawah.

Dengan MBG, menurut dia, pemerintah ingin memastikan akses pangan bergizi bagi kelompok rentan agar mereka tumbuh sehat, kuat, dan produktif.

“Jika dijalankan konsisten, MBG dapat memberikan dampak berantai: anak-anak lebih sehat, semangat belajar meningkat, dan kualitas SDM di masa depan membaik,” tambah Mochammad Rizal.

Selain meningkatkan status gizi, MBG juga diharapkan menumbuhkan semangat belajar siswa. Dengan asupan makanan bergizi di sekolah, anak-anak lebih fokus dan aktif dalam kegiatan belajar.

Program ini juga berdampak positif pada ekonomi lokal, karena bahan pangan disuplai dari petani, nelayan, hingga penyedia katering lokal. Dengan begitu, manfaat program tidak hanya dirasakan anak-anak, tetapi juga masyarakat di sekitar sekolah.

Meski potensinya besar, Rizal menilai pelaksanaan MBG di lapangan tidak tanpa tantangan. Salah satunya adalah kebiasaan makan anak-anak yang terbiasa dengan makanan olahan tinggi gula, garam, dan lemak (ultra processed food).

“Menu sehat sering kali tidak dihabiskan karena anak-anak lebih suka makanan instan. Namun jika diganti dengan nugget atau sosis agar makanan habis, justru tujuan pemenuhan gizi jadi bergeser,” jelas Rizal.

Selain itu, beban kerja ahli gizi dan keamanan pangan juga menjadi perhatian.

“Rasio satu ahli gizi yang harus memantau hingga 3.000–4.000 porsi jelas berat. Namun, adanya regulasi baru yang membatasi produksi maksimal 2.000 porsi per satuan penyediaan adalah langkah perbaikan yang baik,” beber Mochammad Rizal.

Rizal menilai, keberhasilan MBG juga bergantung pada edukasi berkelanjutan tentang gizi seimbang, baik kepada siswa maupun keluarga.

“Selain menyediakan makanan, penting juga menanamkan pemahaman tentang pola makan sehat. Itu yang akan membentuk perilaku makan anak di masa depan,” ujar Mochammad Rizal.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore