Logo JawaPos
Author avatar - Image
10 November 2025, 21.27 WIB

Jaringan GUSDURian: Pemberian Gelar Pahlawan Nasional untuk Soeharto Penghianatan Terhadap Demokrasi

Pegiat Pendidikan, Alissa Wahid saat ditemui JawaPos.com di acara Peresmian Center ke-100: Tiga Dekade Membentuk Generasi Kompeten oleh jaringan sekolah bahasa Inggris, EF Kids & Teens di Jakarta.

JawaPos.com - Jaringan GUSDURian menolak pemberian gelar pahlawan kepada mantan Presiden Soeharto. Hal ini karena mendiang Soeharto dinilai tak memenuhi kriteria sebagai pahlawan.

Direktur jaringan GUSDURian Alissa Wahid, mengatakan pemberian gelar pahlawan nasional kepada mantan presiden Soeharto yang berkuasa secara otoriter sebagai Presiden RI selama 32 tahun patut dipertanyakan.

Meski Soeharto dianggap memiliki jejak dalam perjuangan kemerdekaan, melakukan pembangunan dan swadaya pangan, hingga menjadi pemimpin yang membuat situasi politik dan ekonomi stabil, akan tetapi memori kolektif bangsa Indonesia menunjukkan hal sebaliknya.

"Selama berkuasa, Soeharto terlibat dalam berbagai tindakan yang mencederai nilai-nilai kepahlawanan," kata Alissa Wahid dalam siaran pers yang dikirim ke JawaPos.com, Senin (10/11).

Tak hanya itu, menurut Alissa Wahid, Rezim Orde Baru yang dikendalikannya selama lebih tiga dasawarsa juga melakukan berbagai dosa besar demokrasi. Mulai dari pelanggaran hak asasi manusia, praktik korupsi, represi politik, hingga kebebasan sipil politik.

"Ini membuatnya tidak memenuhi syarat integritas moral dan keteladanan seperti yang dimaksud Pasal 25 UU No. 20 Tahun 2009 tentang Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan," Tegas Putri mantan Presiden Gusdur tersebut.

Dengan adanya fakta-fakta itu, pemberian pahlawan kepada Soeharto menurut Alissa Wahid, merupakan sebuah pengkhianatan pada demokrasi, khususnya terhadap gerakan reformasi yang telah menumbangkan rezim otoritarianisme yang

"Menolak secara tegas pemberian gelar pahlawan pada Soeharto dan menganggapnya sebagai sebuah pengkhianatan terhadap demokrasi dan reformasi," tegas Alissa Wahid.

Alissa Wahid menyayangkan langkah Presiden Prabowo Subianto dan jajaran pemerintah, karena memberikan gelar bukan karena alasan yang arif, namun lebih karena relasi keluarga dan politik.

Untuk mencegah agar perbuatan serupa tak terulang, Alissa pun mendesak pemerintah untuk selektif dalam memberikan gelar pahlawan di masa mendatang. Gelar tersebut kata Alissa Wahid, hanya pantas diberikan kepada tokoh yang tepat dan layak, yaitu mereka yang teguh memegang nilai moral, yang mengorbankan diri untuk kemaslahatan rakyat, dan bukan sebaliknya, mengorbankan rakyat atas nama kekuasaan.

"Kami menegaskan bahwa bukan jabatan dan kekuasaan yang menentukan seseorang dapat disebut pahlawan, melainkan karakter moral etis, terutama berkait dengan tindakan yang mengangkat kemaslahatan masyarakat dan menjaga harkat martabat manusia," tukas putri pertama Gusdur ini.

Untuk diketahui, hari pahlawan pada 10 November 2025 menghadirkan dilema tentang bagaimana bangsa Indonesia mengingatnya. Di satu sisi, masyarakat mendapat teladan dari nama-nama tokoh yang berperan dan berkontribusi dalam pembangunan bangsa. Di sisi lain, momentum ini justru digunakan oleh penguasa untuk membuka luka lama dalam salah satu sejarah paling kelam negara Indonesia. Hal ini karena pemerintah ikut memberikan gelar Pahlawan terhadap Soeharto.

Editor: Kuswandi
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore