
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana memberikan keterangan saat konferensi pers penanggulangan KLB pada program prioritas Makan Bergizi Gratis (MBG) di kantor Kementerian Kesehatan, Jakarta, Kamis (2/10/2025). (Salman Toyibi/Jawa Pos)
JawaPos.com - Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hidayana buka suara terkait pernyataan Wakil Ketua DPR, Cucun Ahmad Syamsurijal perihal program makan bergizi gratis (MBG). Saat itu, Cucun dianggap menyebutkan program MBG tak memerlukan ahli gizi.
Menanggapi hal ini, Dadan menegaskan keberadaan sosok yang memahami gizi merupakan hal yang krusial pada setiap unit pelayanan seperti Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) MBG.
Desain program MBG yang tidak dirancang untuk menetapkan standar menu nasional juga jadi alasan utama setiap SPPG harus memiliki tenaga ahli.
“Begini, itu bukan sikap Badan Gizi Nasional. Program ini dirancang dengan tidak menetapkan standar menu nasional. Oleh sebab itu di setiap SIPG harus ada orang yang paham tentang gizi,” kata Dadan saat ditemui di Jakarta Pusat, Senin (17/11).
Dadan menjelaskan, prioritas pertama pada program MBG adalah melibatkan sarjana gizi. Hanya saja, disamping program terus berjalan, lulusan sarjana gizi tampak terbatas. Alhasil, BGN harus mencari jalan keluar dengan mencari ahli yang masih berkorelasi dengan pengetahuan gizi.
“Contohnya kesehatan masyarakat, itu ada pasti pelajaran gizi di dalamnya. Teknologi pangan, itu pasti ada pengetahuan gizi di dalamnya. Pengolahan makanan, pasti dengan gizi di dalamnya,” tukas dia.
Bahkan, BGN dijelaskannya telah membuat surat edaran agar para ahli ikut mendaftar. Pasalnya, tidak mungkin satu SPPG berjalan tanpa orang yang mengetahui tentang gizi.
“Jadi sekarang disilahkan sarjana gizi, sarjana kesehatan masyarakat, sarjana teknologi pangan, sarjana pengolahan makanan untuk terlibat dalam program Makan Bergizi,” tukasnya.
Sebelumnya, jagat media sosial diramaikan oleh cuplikan pernyataan Wakil Ketua DPR Cucun Ahmad Syamsurijal dalam sebuah kegiatan yang kemudian diketahui sebagai konsolidasi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) MBG di Kabupaten Bandung.
Cucun menuai kritik karena dinilai bersikap arogan saat menanggapi pemaparan seorang ahli gizi yang menyampaikan berbagai persoalan serta menawarkan solusi terkait pelaksanaan program MBG. Ahli gizi tersebut mengusulkan agar BGN menjalin kolaborasi dengan Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) dan menekankan pentingnya keberadaan tenaga sanitasi di setiap SPPG MBG.
Namun bukannya menerima masukan tersebut, Cucun justru mengeluarkan sejumlah pernyataan yang memicu kontroversi.
“Saya gak suka anak-anak muda arogan kayak gini, mentang-mentang kalian semua dibutuhkan negara kalian bicara undang-undang. Membuat kebijakan itu saya,” tegas Cucun.
Tidak berhenti di sana, politikus PKB itu bahkan menegaskan bahwa profesi ahli gizi tidak lagi dibutuhkan dalam MBG dan berencana mengubah penyebutannya.
“Nanti saya akan selesaikan di DPR, ketika sudah rapat di DPR saya ketok kita tidak perlu ahli gizi, tidak perlu Persagi, yang diperlukan adalah satu tenaga yang mengawasi gizi, tidak perlu ahli gizi. Selesai kalian, cocok?,” tukas Cucun.
John Herdman Full Senyum! 2 Pemain Timnas Indonesia, Kevin Diks dan Justin Hubner Cetak Gol di Eropa
Resep Strawberry Cheese Milk, Ide Jualan Takjil Ramadhan yang Segar dan Potensial Laris
Sriwijaya FC Resmi Degradasi ke Liga Nusantara, Ini Deretan Prestasi Laskar Wong Kito
Polemik Panas Terkait Musala di Bekasi Sampai ke DPR, Kini Berakhir Damai
Super Komputer Opta Prediksi 8 Tim yang Lolos Perempat Final Liga Champions UEFA
Resep Bakwan Goreng Ayam Halal, Ide Takjil Gurih yang Bikin Nagih
Rosenior Siap Hadapi PSG, Duel yang Menarik di Babak 16 Besar Liga Champions
Iran Konfirmasi Kematian Pemimpin Tertinggi Negaranya, Ayatollah Ali Khamenei, Usai Serangan Gabungan AS‑Israel
Cedera Frenkie de Jong, Barcelona Hadapi Tantangan Besar!
