Logo JawaPos
Author avatar - Image
21 November 2025, 23.10 WIB

Mengenal Rafflesia Hasseltii: Sang 'Cendawan Muka Rimau' yang Menyimpan Misteri Hutan Sumatera

Bunga Rafflesia Hasseltii yang ditemukan di Hutan Sumatera Barat (TikTok/i am samyz) - Image

Bunga Rafflesia Hasseltii yang ditemukan di Hutan Sumatera Barat (TikTok/i am samyz)

JawaPos.com - Di tengah rapatnya hutan hujan Sumatera, ada satu bunga yang keberadaannya selalu berhasil memancing rasa ingin tahu para peneliti maupun pecinta alam, dia adalah Rafflesia hasseltii. 

Spesies ini bukan sekadar langka, tetapi juga dikenal sebagai bunga yang paling sulit ditemukan karena pola hidupnya yang misterius dan proses mekarnya yang sangat pendek. 

Dalam budaya lokal, ia dijuluki 'Cendawan Muka Rimau', sebutan yang muncul dari penampilannya yang dianggap menyerupai motif wajah harimau. Nama ini melekat karena kelopaknya dipenuhi bercak putih besar yang tidak beraturan, berpadu dengan warna merah darah yang pekat, kombinasi yang membuatnya langsung mencuri perhatian siapa pun yang beruntung bisa menemukannya.

Melansir berbagai jurnal, Rafflesia hasseltii memiliki karakter yang membuatnya berbeda dari kerabatnya seperti Rafflesia arnoldii. Ukurannya lebih kompak, biasanya berkisar antara 40 hingga 60 sentimeter, tetapi tampilannya justru lebih 'dramatis' karena kontras warna dan pola kelopaknya. 

Tidak seperti tanaman pada umumnya, bunga ini sama sekali tidak memiliki batang, daun, atau akar. Ia hidup sebagai parasit murni, menumpang sepenuhnya pada inangnya, yaitu sulur Tetrastigma yang merambat di lantai hutan. 

Semua nutrisi dan energi diambil dari tanaman inang tersebut, membuat Rafflesia hasseltii seolah menjadi entitas misterius yang hanya muncul ke permukaan saat waktunya mekar.

Habitat bunga ini juga jauh dari jangkauan manusia. Ia tumbuh di kantong-kantong hutan terpencil yang lembap, teduh, dan berbatasan dengan lereng atau aliran sungai kecil atau bahkan dalam habitat dan jalur perlintasan hewan buas.

Kondisi tersebut jadi tantangan tersendiri bagi tim peneliti yang sering menghabiskan bertahun-tahun untuk menelusuri jejaknya. Bahkan, dalam beberapa dokumentasi, pencarian spesies ini bisa berlangsung lebih dari sepuluh tahun hingga akhirnya satu kuncup terlihat di antara akar-akar Tetrastigma. 

Begitu ditemukan, tantangan berikutnya adalah menunggu bunga itu mekar, yang sayangnya, tidak selalu berhasil.

Kuncup Rafflesia hasseltii membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk berkembang, namun tingkat keberhasilannya sangat rendah. Banyak kuncup yang mati sebelum mencapai fase mekar sempurna, membuat spesies ini semakin sulit untuk dipelajari. 

Ketika akhirnya mekar, waktunya pun sangat singkat, hanya sekitar tiga hingga tujuh hari sebelum kelopak mulai menghitam dan membusuk. Masa mekar yang pendek ini menjadikannya seperti harta karun biologis yang hanya bisa disaksikan oleh orang-orang yang benar-benar beruntung atau sabar.

Keunikan Rafflesia hasseltii bukan hanya pada penampilannya, tetapi juga pada ciri-ciri yang membedakannya dari spesies lain. Jika Rafflesia arnoldii dikenal sebagai bunga terbesar di dunia dengan diameter yang bisa melebihi 90 sentimeter, Rafflesia hasseltii justru menonjol lewat polanya yang mencolok dan bentuk kelopaknya yang lebih tegas. 

Rafflesia gadutensis, misalnya, memiliki bintik yang lebih rapat dan ukuran lebih kecil, sementara Rafflesia hasseltii tampil dengan pola besar yang terlihat seperti bercak wajah harimau, membuatnya menjadi salah satu spesies dengan identitas visual paling kuat dalam genus Rafflesia.

Keberadaannya yang sangat jarang terlihat menjadikan setiap penemuan baru sebagai peristiwa penting dalam dunia botani. Rafflesia hasseltii bukan hanya bunga; ia adalah simbol rapuhnya kekayaan alam Sumatera sekaligus pengingat bahwa masih banyak makhluk hidup unik yang bertahan di balik bayang-bayang ancaman deforestasi. 

Namun demikian, selama habitatnya terus dibiarkan lestari, selalu ada harapan bahwa bunga misterius ini akan terus bermekaran, meski hanya dalam hitungan hari, untuk menunjukkan betapa luar biasanya keragaman hayati Indonesia.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore