
Sekretaris Jenderal (Sekjen) Komdigi Ismail dalam acara Komdigi forum 2025 dengan tema AI and The Digital Industries Future di kawasan Sudirman, Jakarta, Jumat (28/11). (Istimewa)
JawaPos.com-Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menyoroti pesatnya perkembangan teknologi digital di Indonesia. Terutama di tengah maraknya penggunaan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Sekretaris Jenderal (Sekjen) Komdigi Ismail mengimbau generasi muda untuk tidak menjadikan AI sekadar sarana hiburan. Melainkan memanfaatkannya untuk kegiatan yang lebih produktif.
Hal itu disampaikan dalam acara Komdigi forum 2025 dengan tema AI and The Digital Industries Future di kawasan Sudirman, Jakarta, Jumat (28/11).
“Saya menganggap bahwa tingkat penerimaan dan adopsi AI di Indonesia itu tinggi, terutama generasi muda. Harapan saya, AI ini bisa digunakan untuk hal-hal yang sifatnya produktif buat masyarakat,” kata Ismail.
Dia menegaskan, Indonesia kini berada di tengah arus besar perkembangan teknologi global. Dengan bonus demografi yang ada, generasi muda diharapkan menjadi pelaku aktif dalam transformasi digital, bukan hanya pengamat.
Menurut dia, AI membawa dua sisi layaknya mata uang, manfaat besar sekaligus ancaman yang harus diantisipasi.
“Ini memang ibarat mata uang ada dua kepingnya. Ada sisi manfaat, ada sisi ancaman. AI hadir dengan begitu banyak peluang, tapi juga risiko. Kita harus bisa memaksimalkan peluang dan meminimalkan risiko,” tegas Ismail.
Ismail juga menyinggung potensi pergeseran peran manusia di dunia kerja akibat otomatisasi berbasis AI. Data Komdigi menunjukkan, tingkat adopsi AI di tempat kerja meningkat dari 55 persen pada 2023 menjadi 78 persen pada 2024.
Secara global, sekitar 88 persen perusahaan telah menggunakan AI untuk setidaknya satu fungsi bisnis pada 2025, dengan kenaikan produktivitas signifikan pada sektor yang terdampak.
“Bahwa ada jenis pekerjaan yang akan tergantikan dengan AI tidak terhindarkan. Tapi akan muncul banyak jenis pekerjaan baru yang memanfaatkan AI dengan baik. Jadi intinya adalah kompetensi,” tutur Ismail.
Sementara, ketua penyelenggara Muhammad Risal menyatakan, Digiforum 2025 berkomitmen menghadirkan wawasan terbaik dari para pemegang kebijakan, praktisi industri global, startup AI, akademisi, dan perusahaan digital nasional.
Hal itu bertujuan untuk memastikan setiap stakeholder memiliki kesiapan dalam menghadapi dinamika teknologi masa depan, sekaligus menyusun strategi adaptasi yang progresif dan relevan bagi kebutuhan ekonomi digital Indonesia.
"Kita tengah memasuki era baru yang menuntut kemampuan beradaptasi, inovasi, dan kolaborasi. AI bukan sekadar tren teknologi, melainkan fondasi masa depan industri dan masyarakat," tutur Muhammad Risal.
"Digiforum 2025 diharapkan menjadi ruang bersama untuk memperkuat kesiapan bangsa dalam menghadapi dinamika digital sekaligus membuka peluang pemanfaatan teknologi yang lebih inklusif, aman, dan berkelanjutan,” tandas Muhammad Risal.
John Herdman Full Senyum! 2 Pemain Timnas Indonesia, Kevin Diks dan Justin Hubner Cetak Gol di Eropa
Resep Strawberry Cheese Milk, Ide Jualan Takjil Ramadhan yang Segar dan Potensial Laris
Sriwijaya FC Resmi Degradasi ke Liga Nusantara, Ini Deretan Prestasi Laskar Wong Kito
Polemik Panas Terkait Musala di Bekasi Sampai ke DPR, Kini Berakhir Damai
Super Komputer Opta Prediksi 8 Tim yang Lolos Perempat Final Liga Champions UEFA
Resep Bakwan Goreng Ayam Halal, Ide Takjil Gurih yang Bikin Nagih
Rosenior Siap Hadapi PSG, Duel yang Menarik di Babak 16 Besar Liga Champions
Iran Konfirmasi Kematian Pemimpin Tertinggi Negaranya, Ayatollah Ali Khamenei, Usai Serangan Gabungan AS‑Israel
Cedera Frenkie de Jong, Barcelona Hadapi Tantangan Besar!
