Logo JawaPos
Author avatar - Image
01 Desember 2025, 23.22 WIB

Dampak Banjir-Longsor di Agam Sumbar Paling Parah, IDAI Sebut Pengungsi Anak Rentan Gangguan Kesehatan

Kondisi pascabencana di Nagari Salareh Aia timur, Kabupaten Agam, Sumbar. (BNPB) - Image

Kondisi pascabencana di Nagari Salareh Aia timur, Kabupaten Agam, Sumbar. (BNPB)

JawaPos.com - Kabupaten Agam menjadi wilayah dengan kondisi terparah dalam bencana banjir dan longsor yang melanda Sumatera Barat (Sumbar). Hingga saat ini, dilaporkan sudah 80 orang tewas, sementara sejumlah warga lainnya masih dinyatakan hilang.

Situasi di titik-titik pengungsian menunjukkan tingginya jumlah anak-anak yang terdampak, sehingga memicu kekhawatiran serius terkait kesehatan dan keselamatan mereka. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) pun angkat bicara soal ini.

“Situasi terkini, yang terparah di Agam. Memang sudah dilaporkan tewas 80 orang dan banyak yang belum ditemukan,” ujar Ketua IDAI Cabang Sumatera Barat, Dr. Asrawati, M. Biomed, Sp.A, Subsp.T.K.P.S(K), FISQua, Senin (1/12).

Di beberapa lokasi pengungsian, anak-anak mendominasi populasi warga yang mengungsi. Di SD Lembah, tercatat 200 jiwa mengungsi, dengan 70 di antaranya merupakan anak. Sementara di Mosholla Tabu terdapat 212 jiwa, dan 63 merupakan anak.

Kondisi ini, kata Asrawati, membuat kawasan pengungsian menjadi titik rawan bagi gangguan kesehatan anak akibat keterbatasan fasilitas dan sanitasi.

“Jadi di titik-titik lokasi ini sangat rawan untuk masalah kesehatan anak. Maka insya Allah Rabu kami sudah berada di sana,” kata Asrawati. Laporan dari tim di Agam juga menegaskan beratnya situasi lapangan.

Sementara itu, di Kabupaten Solok terdapat enam nagari terdampak: Moro Pingai, Saneng Bakar, Panindahan, Koto Hilalang, Selayu, Simpang, Tanjong Nan Ampe, dan Koto Sani. Jumlah pengungsi cukup besar, namun pendataan khusus anak masih belum tersedia.

“Dari yang terdampak cukup banyak juga yang mengungsi. Tapi kami belum mendapatkan distribusi yang dipilah untuk usia anak,” jelasnya.

Di tengah kondisi ini, kebutuhan paling mendesak adalah air bersih, air mineral, makanan, sembako, dan pakaian. Upaya pemenuhan kebutuhan tersebut terkendala akses jalan yang masih terputus akibat bencana.

“Kami bersedia menyediakan namun belum ada pihak yang sanggup menyediakan itu untuk diantar ke lokasi karena akses masih terbatas dan putus,” ungkap Asrawati.

Ia menambahkan, Ketua Satgas Bencana telah menghubungi IDAI untuk koordinasi distribusi air bersih, namun hingga kini belum ada pihak yang dapat memastikan pengiriman ke titik terdampak.

Editor: Bayu Putra
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore