Logo JawaPos
Author avatar - Image
16 Desember 2025, 00.51 WIB

Jejak Sunyi di Sungai Aare: Peristiwa Pilu yang kembali Terbayang di Tengah Prahara Rumah Tangga Ridwan Kamil-Atalia

AYAH YANG BERDUKA: Ridwan Kamil berdiri di titik tenggelamnya sang putra, Emmeril Kahn Mumtadz, di Sungai Aare, Bern (10/6/2022). (DINARSA KURNIAWAN/JAWAPOS.COM) - Image

AYAH YANG BERDUKA: Ridwan Kamil berdiri di titik tenggelamnya sang putra, Emmeril Kahn Mumtadz, di Sungai Aare, Bern (10/6/2022). (DINARSA KURNIAWAN/JAWAPOS.COM)

JawaPos.com-Salah satu peristiwa besar yang dialami keluarga Ridwan Kamil dan Atalia Praratya adalah kehilangan putra pertama mereka, Emmeril Kahn Mumtaz, yang meninggal usai tenggelam di Sungai Aare, Bern, Swiss, pada 26 Mei 2022.

Tubuh pemuda yang biasa disapa Eril itu kemudian ditemukan sudah menjadi jenazah pada 8 Juni 2022 di bendungan Engehalde yang ada di Aare.

Peristiwa memilukan itu kembali menyita perhatian publik seiring kabar retaknya rumah tangga Ridwan Kamil dan Atalia Praratya. Tragedi Eril seolah menjadi luka lama yang kembali terasa perih, mengingatkan bahwa di balik sorotan dan citra keluarga ideal, ada duka besar yang pernah mengguncang fondasi kehidupan mereka.

Beberapa hari setelah jenazah Eril ditemukan, Ridwan Kamil kembali mendatangi Sungai Aare. Wartawan JawaPos.com sempat menyaksikan langsung momen tersebut. Pada 10 Juni 2022, ia berjalan pelan menyusuri tepian sungai di Bern. Langkahnya terhenti di sebuah sudut, di bawah pohon dengan rangkaian bunga terikat di dahan, menjadi penanda sederhana di titik terakhir Eril terseret arus. “Di sini tempat Eril tenggelam. Sementara kami kasih penanda seperti ini,” ucapnya lirih.

Kalimat singkat itu menyimpan beban yang tak mudah diucapkan. Di titik itulah seorang ayah harus menerima kenyataan paling pahit: melepas anak sulung yang selama ini dikenal penuh kebaikan dan empati.

Rombongan yang menyertai Ridwan Kamil siang itu terdiri dari keluarga, Duta Besar RI untuk Swiss Muliaman Darmansyah Hadad, serta Menteri Ketenagakerjaan saat itu, Ida Fauziah. Jawa Pos.com yang berada di lokasi, menyaksikan langsung momen ketika kesedihan tak ditampilkan dengan air mata, melainkan dengan diam dan ketegaran.

Ridwan Kamil, atau Emil,sapaan akrabnya, mengungkapkan keinginannya untuk membuat sebuah kursi di dekat lokasi tersebut. Bukan monumen besar, bukan pula penanda mencolok. Hanya kursi sederhana, semacam kursi taman, yang bisa diduduki siapa saja sambil memandang Sungai Aare.

Sebuah simbol sunyi. Cara personal seorang ayah untuk mengenang anaknya—tanpa hiruk-pikuk, tanpa sorotan berlebihan.

Tak jauh dari lokasi itu berdiri Schönausteg, jembatan gantung yang kerap dijadikan tempat meloncat ke sungai. Emil melangkah ke tengah jembatan, berhenti sejenak, lalu menatap air biru yang mengalir di bawahnya. Sungai yang sama, yang telah merenggut putra sulung kesayangannya.

Sebelum doa bersama di tepi Sungai Aare, Emil lebih dulu melaksanakan salat Jumat di kantor KBRI Bern. Ia tiba pukul 13.29 waktu setempat dan duduk di saf terdepan. Seusai salat, ia berdiri dan menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang membantu pencarian Eril.

“KBRI Bern bukan lagi teman atau sahabat. Sudah seperti keluarga,” ucapnya.

Banyak jemaah menahan isak. Di tengah kehilangan yang belum pulih, Emil justru menyampaikan pesan yang mengiris.

“Keluarga adalah harta terbesar. Buat apa kita punya segalanya tapi dijauhkan dari keluarga. Itu tidak ada gunanya.”

Hari itu, Ridwan Kamil menjadi imam salat gaib untuk Eril, anak yang lahir di New York pada 25 Juni 1999 dan berpulang jauh dari tanah air.

Kini, ketika kehidupan pribadi Ridwan Kamil kembali menjadi perhatian publik, tragedi Eril terasa lebih dari sekadar kenangan. Ia menjadi potret tentang betapa rapuhnya manusia di hadapan kehilangan, dan betapa duka yang tak selesai bisa terus membayang, bahkan bertahun-tahun kemudian.

Editor: Dinarsa Kurniawan
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore