
Guru Besar Hidrologi Hutan dan Pengelolaan DAS Universitas Padjajaran, Chay Asdak menyebut pengelolaan lansekap yang bisa dipelajari ialah Hutan Tanaman Industri yang dikelola PT Toba Pulp Lestari Tbk
JawaPos.com – Istilah fingerstyle forest plantation management mengemuka dalam seminar “Hutan, Air, dan Hukum: Orkestrasi Ilmu untuk Ketahanan Bencana di Sumatera” yang diselenggarakan oleh Dewan Profesor Universitas Padjajaran pada Rabu, 7 Januari 2026 di Bale Rumawat, Bandung, Jawa Barat. Seminar menghadirkan pakar lintas disiplin untuk membedah bencana dari perspektif hidrologi, geologi, dan hukum.
Dalam seminar tersebut, Guru Besar Hidrologi Hutan dan Pengelolaan DAS Universitas Padjajaran, Chay Asdak memberi contoh praktik pengelolaan lansekap yang dinilai baik dan bisa dipelajari, yakni dari Hutan Tanaman Industri yang dikelola PT Toba Pulp Lestari Tbk (TPL).
“Saya mendapat kesempatan diundang ke TPL sesudah banjir kemarin, dan ini saya rekam di sana. Dari lokasi Banjir Singkil, jaraknya sekitar 150 kilometer. Tutupan hutannya masih bagus jika dilihat dari konteks hasil-hasil riset yang telah saya sampaikan sebelumnya, sebagian besar masih tertutup. Walaupun tanaman yang ada tidak memiliki stratifikasi tajuk seperti hutan alam, penutupan tanahnya masih cukup baik,” ujar Chay.
Guru Besar Hidrologi Hutan dan Pengelolaan DAS Universitas Padjajaran, Chay Asdak memberi contoh praktik pengelolaan lansekap yang dinilai baik dan bisa dipelajari, yakni dari Hutan Tanaman Industri yang dikelola PT Toba Pulp Lestari Tbk.
Apa Itu Fingerstyle Forest Plantation Management?
Direktur PT Toba Pulp Lestari Tbk. (TPL), Anwar Lawden menjelaskan, pendekatan Fingerstyle Forest Plantation Management adalah strategi penataan ruang di kawasan Hutan Tanaman Industri (HTI) yang dikelola oleh TPL. Penerapannya mengedepankan prinsip konektivitas ekosistem dengan cara mendesain blok tanaman produksi secara memanjang (menyerupai jari) yang diselingi oleh koridor hutan alam atau vegetasi.
Tujuannya, kata Anwar, untuk menghindari fragmentasi habitat melalui penyediaan koridor ekosistem (mosaic) yang menghubungkan kawasan lindung setempat sehingga menjamin fungsi hidrologis, kelestarian keanekaragaman hayati serta terjaganya jalur pergerakan satwa liar dalam area konsesi.
“Bahkan dalam siklus panen, selama pola tanam dan pemanenan diatur secara bergiliran sehingga tegakan pohon dewasa tetap tersedia di wilayah produksi, kata Anwar saat dihubungi pada Kamis, 8 Januari 2026.
Pendekatan Fingerstyle Forest Plantation Management juga menjadi salah satu upaya dalam melindungi daerah aliran sungai (DAS) dengan menjadikan sebagian besar konsesinya sebagai area konservasi. Anwar menyatakan, dari total 167.912 hektar konsesi HTI yang dimiliki TPL, 48.000 hektar di antaranya dijadikan sebagai kawasan konservasi dan lindungan lingkungan. Sedangkan 46.293 hektar digunakan untuk penanaman pohon produksi yang mendukung keberlanjutan ekosistem.
Dengan pendekatan ini, area tanam HTI mengikuti kontur wilayah, juga menggabungkan area produksi dengan area perlindungan dalam satu kesatuan bentangan. TPL mengatur pemanfaatan tanah secara selektif dengan menanam spesies pohon yang dapat mempercepat pertumbuhan, namun tetap menjaga ekosistem sekitar dengan pohon pelindung yang berasal dari habitat aslinya.
Inovasi ini membuat tutupan hutan tetap terjaga, bahkan ketika dilakukan panen. Sebab, pola tanam dan panen diatur secara bergiliran dalam blok-blok area kerja untuk memastikan selalu ada tegakan pohon dewasa di wilayah produksi.
Fingerstyle Forest Plantation Management, strategi penataan ruang di kawasan Hutan Tanaman Industri yang dikelola oleh PT Toba Pulp Lestari Tbk.
Kolaborasi dan Tanggungjawab Bersama Chay menyampaikan, dalam upaya merestorasi lansekap DAS untuk mengurangi risiko banjir dan longsor, selain pendekatan Fingerstyle Forest Plantation Management bagi HTI, perlu adanya evaluasi pada izin perkebunan, terutama sawit dan tambang dengan perspektif kebencanaan.
“Sangat mengkhawatirkan karena sebagian besar hutan di Sumatera saat ini sudah beralih fungsi menjadi sawit dan tambang. Dalam kurun waktu antara tahun 1990 – 2024, terjadi penyusutan luas hutan di Aceh sebesar 379.309 hektar, di Sumatera Utara seluas 500.404 hektar, dan di Sumatera Barat sebesar 354.651 hektar,” tuturnya.
Selain itu, kunci pencegahan bencana bukan hanya pada jenis pohon yang memiliki kedalaman akar, tetapi bagaimana tutupan tanah dijaga. Area TPL selamat karena tanahnya tertutup, berbeda dengan area sawit yang seringkali gundul dan dipadatkan di bagian bawah.
Terakhir, kata Chay, mengutip Lester Brown, kapitalisme akan gagal jika tidak berjalan beriringan dengan ekologi. Solusinya adalah kolaborasi antara pemerintah, korporasi, dan masyarakat, bukan narasi yang kontraproduktif.
Seminar “Hutan, Air, dan Hukum: Orkestrasi Ilmu untuk Ketahanan Bencana di Sumatera” yang diselenggarakan oleh Dewan Profesor Universitas Padjajaran pada Rabu, 7 Januari 2026 di Bale Rumawat, Bandung, Jawa Barat.
Pentingnya peran korporasi dalam pemulihan lingkungan ditekankan oleh Profesor Lastuti Abubakar, Dosen Fakultas Hukum Universitas Padjajaran. Ia menekankan bahwa perusahaan tidak hanya bertanggung jawab terhadap keuntungan, tetapi juga terhadap dampak sosial dan lingkungan dari aktivitas bisnisnya.
John Herdman Full Senyum! 2 Pemain Timnas Indonesia, Kevin Diks dan Justin Hubner Cetak Gol di Eropa
Resep Strawberry Cheese Milk, Ide Jualan Takjil Ramadhan yang Segar dan Potensial Laris
Sriwijaya FC Resmi Degradasi ke Liga Nusantara, Ini Deretan Prestasi Laskar Wong Kito
Polemik Panas Terkait Musala di Bekasi Sampai ke DPR, Kini Berakhir Damai
Super Komputer Opta Prediksi 8 Tim yang Lolos Perempat Final Liga Champions UEFA
Resep Bakwan Goreng Ayam Halal, Ide Takjil Gurih yang Bikin Nagih
Rosenior Siap Hadapi PSG, Duel yang Menarik di Babak 16 Besar Liga Champions
Iran Konfirmasi Kematian Pemimpin Tertinggi Negaranya, Ayatollah Ali Khamenei, Usai Serangan Gabungan AS‑Israel
Cedera Frenkie de Jong, Barcelona Hadapi Tantangan Besar!
