Nadiem Makarim saat menjalani sidang di Jakarta. (Istimewa)
JawaPos.com–Persidangan lanjutan perkara pengadaan laptop Chromebook yang digelar pada 23 Februari 2026 kembali menghadirkan dinamika baru. Dalam sidang tersebut, sejumlah mantan petinggi GoTo memberikan penjelasan terkait transaksi senilai Rp 809 miliar yang menjadi sorotan dalam dakwaan jaksa penuntut umum (JPU).
Sebelumnya, manajemen GoTo melalui pernyataan resmi yang dipublikasikan Kamis malam (26/2) menegaskan sejumlah poin klarifikasi terkait investasi Google, transaksi internal perusahaan, serta posisi mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Nadiem Makarim.
Dalam keterangan resminya, GoTo menyatakan sebagian besar investasi dari Google dilakukan sebelum 2019, yakni sebelum Nadiem Makarim menjabat sebagai menteri. Investasi tersebut disebut sebagai bagian dari putaran pendanaan bersama sejumlah investor global, bukan investasi eksklusif.
Perusahaan juga menegaskan bahwa Google tidak pernah menjadi pemegang saham mayoritas maupun pengendali. Seluruh proses investasi diklaim dilakukan secara profesional, transparan, serta sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.
Sorotan utama dalam persidangan adalah transaksi Rp 809 miliar antara PT Aplikasi Karya Anak Bangsa (PT AKAB) dan PT Gojek Indonesia (PT GI). Jaksa dalam dakwaannya mendalilkan adanya dugaan memperkaya diri terkait nilai tersebut.
Namun, mantan Direktur Utama GoTo, Andre Soelistyo, menjelaskan bahwa transaksi itu merupakan penerbitan saham baru oleh PT GI pada Oktober 2021. Menurut Andre, sekitar 32 juta saham baru diterbitkan dengan nilai nominal Rp 809 miliar.
Langkah tersebut menyebabkan dilusi pemegang saham lama. Dana hasil penerbitan saham masuk ke perusahaan dan pada hari yang sama digunakan untuk melunasi utang operasional PT GI kepada PT AKAB.
”Dana tersebut masuk ke perusahaan dan langsung dipakai untuk membayar kembali utang. Seluruhnya tercatat dalam bank statement serta terdokumentasi melalui akta notaris dan persetujuan Kementerian Hukum dan HAM,” jelas Andre di persidangan.
Dia menegaskan bahwa transaksi tersebut merupakan aksi korporasi yang sah, tercatat, dan diaudit.
Selain Andre, mantan CEO Gojek Kevin Aluwi, serta Group Head of Finance & Accounting GoTo Adestya Kamelia, juga memberikan keterangan di persidangan. Adestya menyatakan tidak pernah melihat ataupun mendengar adanya keterkaitan antara transaksi Rp 809 miliar tersebut dengan pengadaan Chromebook di kementerian.
”Saya tidak pernah melihat, tidak pernah mendengar, dan berdasarkan dokumen perusahaan yang kami telusuri, tidak ada kaitan antara transaksi tersebut dengan pengadaan Chromebook oleh kementerian,” tegas Adestya.
Sementara itu, Andre Soelistyo mengaku baru mengetahui isu Chromebook sekitar enam bulan terakhir saat pemberitaan ramai di media.
”Sebelumnya, saya sama sekali tidak mengetahui adanya hubungan dengan pengadaan di kementerian,” ujar Andre.
Dalam pernyataan resmi, GoTo juga menegaskan bahwa tidak ada pemegang saham, termasuk Nadiem Makarim, yang menerima dana dari transaksi tersebut. Seluruh proses disebut hanya terjadi antara PT AKAB dan PT GI.
John Herdman Full Senyum! 2 Pemain Timnas Indonesia, Kevin Diks dan Justin Hubner Cetak Gol di Eropa
Resep Strawberry Cheese Milk, Ide Jualan Takjil Ramadhan yang Segar dan Potensial Laris
Sriwijaya FC Resmi Degradasi ke Liga Nusantara, Ini Deretan Prestasi Laskar Wong Kito
Polemik Panas Terkait Musala di Bekasi Sampai ke DPR, Kini Berakhir Damai
Super Komputer Opta Prediksi 8 Tim yang Lolos Perempat Final Liga Champions UEFA
Resep Bakwan Goreng Ayam Halal, Ide Takjil Gurih yang Bikin Nagih
Rosenior Siap Hadapi PSG, Duel yang Menarik di Babak 16 Besar Liga Champions
Iran Konfirmasi Kematian Pemimpin Tertinggi Negaranya, Ayatollah Ali Khamenei, Usai Serangan Gabungan AS‑Israel
Cedera Frenkie de Jong, Barcelona Hadapi Tantangan Besar!
