Logo JawaPos
Author avatar - Image
25 November 2025, 12.15 WIB

Remaja Kutu Buku dan Gamers Berpotensi Teradikalisasi Online

Ilustrasi gamer sedang bermain game. (The Gamer). - Image

Ilustrasi gamer sedang bermain game. (The Gamer).

Oleh: Bellyn Mey Cendy, M.Han*

Stereotip bahwa hanya remaja nakal atau bermasalah yang rentan terhadap radikalisasi perlu dikoreksi. Faktanya, remaja kutu buku yang cerdas, gemar membaca, dan menghabiskan banyak waktu bermain game online justru memiliki kerentanan tersendiri untuk teradikalisasi melalui ruang digital. Kasus penembakan Masjid Quebec oleh Alexandre Bissonnette pada 2017 membuktikan hal tersebut. Pelaku digambarkan sebagai seorang kutu buku yang jarang berteman, sangat gemar membaca, mengetahui banyak soal sejarah, isu terkini, dan politik, tetapi juga penyendiri yang sering dipermainkan dan tidak memiliki kawan (Kumparan, 2017). Profil seperti ini juga terlihat pada F dalam kasus SMAN 72 Jakarta, seorang remaja cerdas namun terisolasi secara sosial yang menghabiskan waktu dengan mengakses konten kekerasan di dark web serta bergabung dalam true crime community.

Realitas ini semakin menguat karena radikalisasi digital kini tidak membutuhkan upaya pencarian aktif dari korban. Brian Hughes, Associate Director di Polarization & Extremism Research & Innovation Lab (PERIL), menegaskan bahwa di era digital “mustahil untuk tidak menemukan propaganda ekstremis. Setiap kali kita masuk ke perangkat digital, kita menemukan propaganda ekstremis, kebencian, dan berbagai turunannya” (Children and Screens, 2023). Dengan kata lain, remaja cerdas yang menghabiskan banyak waktu di dunia digital jauh lebih terekspos pada aliran konten ekstremis dibanding generasi sebelumnya. PERIL juga menemukan bahwa faktor-faktor seperti isolasi dan kurangnya rasa memiliki, kebosanan, kemalasan, trauma, serta pengalaman penolakan merupakan kerentanan utama radikalisasi faktor yang sering muncul pada remaja kutu buku yang terpinggirkan secara sosial (Children and Screens, 2023).

Kerentanan tersebut diperkuat oleh meningkatnya penggunaan platform gaming sebagai arena radikalisasi. Alex Newhouse, Deputy Director di Center on Terrorism, Extremism, and Counterterrorism, mengungkap bahwa “jam tambahan yang dihabiskan untuk gaming per minggu dapat berdampak pada berbagai indikator kerentanan radikalisasi, termasuk ekspresi otoritarianisme, nasionalisme kulit putih, Machiavellianisme, dan fusi identitas” (Children and Screens, 2023). Game multiplayer menciptakan dinamika interaksi yang memaksa pemain mempercayai rekan tim sebelum mengenal mereka secara personal, membalikkan pola normal hubungan sosial dan membuka ruang manipulasi. Lebih mengkhawatirkan, ekstremis kini meniru bahasa, estetika, dan mekanika video game dalam melakukan kekerasan massal di dunia nyata, termasuk menggunakan leaderboard atau rasio kill/death/assist sebagai cara merayakan tindakan kekerasan (Children and Screens, 2023). Perpotongan antara dunia gaming, humor gelap, dan glorifikasi kekerasan ini menciptakan kondisi yang sangat mudah dimanfaatkan oleh perekrut ekstremis.

Dalam konteks ini, mekanisme perekrutan ekstremis menjadi semakin relevan untuk dipahami. W. Joseph, seorang Intervention Provider yang berpengalaman menangani individu berisiko radikalisasi, menjelaskan bahwa “para peradikalisasi pandai melakukan riset dan mengirim orang ke dalam rabbit hole dengan memberikan narasi yang jelas. Mereka mengarahkan mereka ke teori konspirasi, ini berhasil jika individu menginginkan narasi yang jelas untuk diikuti” (Act Early UK, n.d.). Remaja kutu buku yang haus pengetahuan, gemar mencari jawaban mendalam, dan memiliki rasa ingin tahu tinggi menjadi target ideal bagi narasi ekstremis yang menawarkan struktur, identitas, dan kepastian. Setelah terbangun koneksi awal, perekrut biasanya memindahkan korban ke ruang percakapan privat di Dark Web, platform gaming, atau aplikasi terenkripsi seperti Telegram. Pola ini sejalan dengan perjalanan radikalisasi Bissonnette yang mengikuti tokoh-tokoh ekstremis di media sosial, maupun F yang mengakses konten kekerasan di dark web hingga mengidolakan enam pelaku penembakan massal internasional.

Semua pola ini menunjukkan bahwa kecerdasan, kegemaran membaca, atau kemampuan analitis bukanlah faktor pelindung dari radikalisasi. Sebaliknya, tanpa dukungan sosial yang memadai, kehadiran keluarga yang bermakna, dan ruang sehat untuk menyalurkan rasa ingin tahu, remaja kutu buku yang terisolasi justru dapat menemukan “komunitas” dan “tujuan” dalam ruang ekstremis online. Hal ini ditegaskan Abdul, Intervention Provider, yang menyatakan bahwa “jika Anda khawatir seseorang sedang diradikalisasi, Anda harus bertanya pada diri sendiri mengapa mereka tertarik ke dalamnya. Apa yang hilang dan apa yang memaksa mereka?” (Act Early UK, n.d.). Pertanyaan ini menjadi kunci bagi orang tua, pendidik, dan pembuat kebijakan dalam memahami bahwa radikalisasi bukanlah proses instan, melainkan respons terhadap kekosongan psikologis dan sosial yang tidak dipenuhi oleh lingkungan mereka.

Riset kolaboratif ThinkTank.ID, BRIN, dan Polda Metro Jaya yang dilaksanakan pada periode Maret hingga November 2025 tentang kenakalan remaja di Indonesia menghasilkan sejumlah rekomendasi strategis, termasuk optimalisasi peran BKKBN (kini Kementerian Pembangunan Keluarga/Kemendukbangga) dan KemenPPPA dalam pencegahan radikalisasi online remaja. BKKBN memiliki dua sasaran utama dalam program pembinaan ketahanan remaja, yaitu remaja itu sendiri dan keluarga yang memiliki remaja (ThinkTank.ID, 2025). Untuk remaja, BKKBN menyediakan wadah PIK-R (Pusat Informasi dan Konseling Remaja) yang ada di jalur pendidikan (SMP, SMA, perguruan tinggi) dan jalur masyarakat, dengan fokus pada Triad KRR (Kesehatan Reproduksi Remaja) yang mencakup pencegahan pernikahan dini, seks pranikah, dan NAPZA, serta mengajarkan life skills seperti cara mengambil keputusan dan cara menolak ajakan negatif termasuk tawuran (ThinkTank.ID, 2025). Untuk keluarga, BKKBN memiliki BKR (Bina Keluarga Remaja) yang mengumpulkan orang tua yang memiliki anak remaja usia 10-24 tahun dengan modul seperti "1001 Cara Bicara dengan Remaja" dan "1001 Cinta dan Drama" untuk membantu orang tua berkomunikasi efektif dengan anak remaja mereka (ThinkTank.ID, 2025).

Berdasarkan wawancara dengan pakar di KemenPPPA, kenakalan remaja yang terjadi pada anak berusia 15 tahun ke bawah dominan dipengaruhi oleh faktor eksternal, terutama pengasuhan keluarga dan lingkungan sosial, sementara secara internal kondisi emosional dan psikologis anak di usia remaja memang cenderung tidak stabil dan belum mampu mengambil keputusan yang tepat antara benar dan salah (ThinkTank.ID, 2025). Temuan mengejutkan dari survei menunjukkan bahwa dua per tiga pelaku kekerasan fisik terhadap anak justru adalah teman sebaya mereka sendiri, dan permasalahan pengasuhan tidak selalu terkait dengan keluarga yang tidak utuh (broken home), tetapi lebih pada pola pengasuhan yang terlalu mengekang atau otoriter, serta ketidakmampuan orang tua menyesuaikan metode pengasuhan dengan karakteristik generasi saat ini yang berbeda dengan generasi sebelumnya (ThinkTank.ID, 2025). Stigma sosial juga menjadi persoalan serius dalam kasus yang viral, keluarga pelaku mengalami sanksi sosial yang sangat besar dari masyarakat dan netizen, bahkan korban kekerasan seksual justru mendapatkan stigma yang sama buruknya dengan pelaku dan seringkali harus dikeluarkan atau pindah sekolah (ThinkTank.ID, 2025). KemenPPPA juga mencatat bahwa anak-anak yang berhadapan dengan hukum cenderung menunjukkan ketakutan ketika berhadapan dengan polisi, terutama ketika mereka sedang dalam proses hukum ketakutan ini tidak hanya dipicu oleh atribut kepolisian, tetapi lebih karena kesadaran bahwa mereka sedang diproses untuk suatu tindak pidana (ThinkTank.ID, 2025).

Inovasi penting yang dapat diadopsi untuk pencegahan radikalisasi online adalah sistem konseling sebaya (peer counseling) di mana remaja dilatih menjadi konselor untuk teman sebayanya menggunakan Modul Tanjida yang mengajarkan keterampilan empathy listening dan berpikir kritis (ThinkTank.ID, 2025). Sistem ini terbukti efektif karena remaja lebih nyaman bercerita kepada teman sebaya dibandingkan guru atau orang tua. Inovasi terbaru termasuk penggunaan platform digital dan kotak keluhan offline untuk menjaga anonimitas, seperti yang diterapkan di beberapa sekolah PIK-R SMP Mentari Ilmu di Tangerang (ThinkTank.ID, 2025). Mengingat temuan bahwa isolasi sosial, pola pengasuhan yang tidak adaptif, dan absennya kehadiran keluarga menjadi faktor risiko utama radikalisasi sebagaimana terlihat dalam kasus F di SMAN 72 Jakarta penguatan program BKR untuk meningkatkan komunikasi orang tua-anak, perluasan PIK-R dengan modul tambahan tentang literasi digital dan deteksi dini radikalisasi online, serta penanganan stigma sosial terhadap pelaku dan korban menjadi sangat krusial. Pendekatan ini sejalan dengan rekomendasi internasional bahwa pencegahan radikalisasi harus mengintegrasikan penguatan ketahanan keluarga, pendampingan sebaya, literasi digital, dan reformasi pola pengasuhan secara simultan.

*) Bellyn Mey Cendy, M.Han: Peneliti ThinkTank.ID

Editor: Edy Pramana
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore