Ilustrasi Jaringan 5G. (CNET)
JawaPos.com - Pasangan suami istri, Didi Supandi dan Wahyu Triana Sari, mengajukan permohonan uji materiil ke Mahkamah Konstitusi (MK) terkait praktik penghangusan kuota internet. Permohonan tersebut menyasar Pasal 71 angka 2 Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2023 tentang Cipta Kerja yang mengubah Pasal 28 Undang-Undang Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi.
Permohonan uji materiil itu telah teregister di MK dengan nomor perkara 273/PUU-XXIII/2025. Para pemohon menilai ketentuan tersebut merugikan konsumen secara konstitusional karena menjadi dasar pembenaran praktik kuota internet hangus yang selama ini diterapkan operator telekomunikasi.
“Para pemohon merasa dirugikan secara aktual hak konstitusionalnya oleh berlakunya aturan tersebut,” kata kuasa hukumnya, Viktor Santoso Tandiasa, Kamis (1/1).
Viktor menjelaskan, kliennya merupakan pekerja di sektor digital yang sangat bergantung pada akses internet. Didi berprofesi sebagai pengemudi transportasi daring, sementara Triana menjalankan usaha kuliner berbasis daring dengan memasarkan produk melalui platform digital.
Menurut Viktor, praktik penghangusan kuota internet menimbulkan ketidakpastian ekonomi bagi para pemohon. Saat orderan sepi, sisa kuota kerap hangus karena masa aktif paket berakhir, sehingga para pemohon terpaksa meminjam uang untuk membeli kuota baru agar tetap bisa bekerja.
Selain itu, terdapat kerugian materiil karena sisa kuota yang telah dibayar lunas hilang begitu saja. Kondisi tersebut memaksa para pemohon melakukan pembayaran ganda untuk komoditas yang sama, padahal dana tersebut seharusnya dapat digunakan sebagai laba usaha atau modal bahan baku.
Dalam permohonannya, para pemohon juga menyoroti adanya pelanggaran hak milik sebagaimana dijamin dalam Pasal 28H ayat (4) UUD 1945. Mereka berpendapat kuota internet merupakan aset digital yang dibeli secara lunas oleh konsumen.
“Kuota internet adalah aset digital yang dibeli lunas, sehingga penghangusan sepihak tanpa kompensasi merupakan bentuk pengambilalihan paksa hak milik pribadi secara sewenang-wenang,” ucap Viktor.
Para pemohon meminta MK menyatakan Pasal 71 angka 2 UU Cipta Kerja bertentangan dengan UUD 1945. Ketentuan tersebut dinilai menimbulkan ketidakpastian hukum karena memberikan keleluasaan berlebihan kepada operator untuk menetapkan tarif tanpa parameter yang jelas.
Akibatnya, lanjut Viktor, terjadi pencampuradukan antara konsep tarif layanan dengan durasi kepemilikan kuota, yang pada akhirnya merugikan konsumen.
“Kuota internet merupakan aset digital yang dibeli secara lunas, sehingga penghangusan sisa kuota secara sepihak tanpa kompensasi merupakan bentuk pengambilalihan hak milik pribadi secara sewenang-wenang,” pungkasnya.
John Herdman Full Senyum! 2 Pemain Timnas Indonesia, Kevin Diks dan Justin Hubner Cetak Gol di Eropa
Resep Strawberry Cheese Milk, Ide Jualan Takjil Ramadhan yang Segar dan Potensial Laris
Sriwijaya FC Resmi Degradasi ke Liga Nusantara, Ini Deretan Prestasi Laskar Wong Kito
Polemik Panas Terkait Musala di Bekasi Sampai ke DPR, Kini Berakhir Damai
Super Komputer Opta Prediksi 8 Tim yang Lolos Perempat Final Liga Champions UEFA
Resep Bakwan Goreng Ayam Halal, Ide Takjil Gurih yang Bikin Nagih
Rosenior Siap Hadapi PSG, Duel yang Menarik di Babak 16 Besar Liga Champions
Iran Konfirmasi Kematian Pemimpin Tertinggi Negaranya, Ayatollah Ali Khamenei, Usai Serangan Gabungan AS‑Israel
Cedera Frenkie de Jong, Barcelona Hadapi Tantangan Besar!
