Ilustrasi pengisian cepat mobil listrik dengan teknologi baterai solid-state Toyota yang menjanjikan waktu isi hanya 10 menit dari 10 persen ke 80 persen (Colombia One)
JawaPos.com - Toyota bersiap melangkah lebih jauh dalam pengembangan teknologi kendaraan listrik. President & Executive Chief Engineer Toyota Daihatsu Engineering & Manufacturing, Yoshinki Konishi, mengungkapkan bahwa perusahaan menargetkan peluncuran teknologi baterai terbaru, yakni baterai solid-state dan bipolar, pada rentang waktu 2027 hingga 2028.
Menurut Yoshinki, strategi Toyota adalah memperkenalkan baterai bipolar lebih dahulu sebelum akhirnya diikuti baterai solid-state. "Target kami tahun 2027-2028 untuk komersialisasi solid-state, dan untuk menggunakan bipolar. Jadi bipolar dulu, setahun kemudian solid-state," ujarnya seperti dikutip dari Antara.
Ia menjelaskan, teknologi baterai generasi baru tersebut menawarkan lompatan signifikan dibandingkan baterai konvensional yang digunakan saat ini. Salah satu keunggulan utamanya adalah waktu pengisian daya yang jauh lebih singkat, bahkan kurang dari 10 menit untuk mencapai kapasitas penuh.
"Dibandingkan dengan teknologi baterai sekarang, sangat jauh perbedaan peningkatannya, waktu pengisian lebih ringkas, dan jangkauan jarak tempuhnya juga lebih jauh," kata Yoshinki.
Pada tahap awal penerapan, Toyota tidak akan membatasi penggunaan baterai ini hanya untuk kendaraan listrik murni atau battery electric vehicle (BEV). Teknologi tersebut juga direncanakan hadir pada model plug-in hybrid electric vehicle (PHEV) serta hybrid electric vehicle (HEV).
Meski digadang-gadang sebagai terobosan besar di industri otomotif, Yoshinki mengakui bahwa baterai solid-state masih menghadapi tantangan dari sisi biaya produksi yang tinggi. Oleh karena itu, Toyota memilih memperkenalkan baterai bipolar terlebih dahulu karena dinilai lebih ekonomis.
"Saya pikir baterai solid-state adalah game changer untuk masa depan. Tapi saat ini memang masih sangat mahal terkait biayanya. Struktur bipolar lebih baik dari monopolar, jarak tempuh, waktu pengisian lebih baik, dan secara biaya jauh lebih murah dari solid-state," tambahnya.
Secara teknis, baterai bipolar memiliki kepadatan energi yang lebih tinggi dibandingkan baterai monopolar konvensional. Kondisi ini memungkinkan peningkatan daya sekaligus memperpanjang jarak tempuh kendaraan listrik.
Selain itu, desain baterai bipolar mendukung efisiensi energi yang lebih optimal dan mempercepat proses pengisian daya. Dimensinya yang lebih ringkas juga membantu pemanfaatan ruang kendaraan menjadi lebih maksimal sekaligus menekan bobot keseluruhan.
Keunggulan lain terletak pada proses produksinya. Dengan jumlah komponen yang lebih sedikit dan alur manufaktur yang lebih efisien, baterai bipolar dinilai memiliki peluang besar untuk menekan biaya produksi, sehingga lebih realistis untuk digunakan secara luas di pasar kendaraan elektrifikasi.
John Herdman Full Senyum! 2 Pemain Timnas Indonesia, Kevin Diks dan Justin Hubner Cetak Gol di Eropa
Resep Strawberry Cheese Milk, Ide Jualan Takjil Ramadhan yang Segar dan Potensial Laris
Sriwijaya FC Resmi Degradasi ke Liga Nusantara, Ini Deretan Prestasi Laskar Wong Kito
Polemik Panas Terkait Musala di Bekasi Sampai ke DPR, Kini Berakhir Damai
Super Komputer Opta Prediksi 8 Tim yang Lolos Perempat Final Liga Champions UEFA
Resep Bakwan Goreng Ayam Halal, Ide Takjil Gurih yang Bikin Nagih
Rosenior Siap Hadapi PSG, Duel yang Menarik di Babak 16 Besar Liga Champions
Iran Konfirmasi Kematian Pemimpin Tertinggi Negaranya, Ayatollah Ali Khamenei, Usai Serangan Gabungan AS‑Israel
Cedera Frenkie de Jong, Barcelona Hadapi Tantangan Besar!
