Logo JawaPos
Author avatar - Image
29 Oktober 2025, 03.03 WIB

7 Hal Halus yang Orang Tua Lakukan Secara Tak Sadar, Menjauhkan Anak Dewasa dari Telepon

Seorang ibu dan anak perempuannya yang sudah dewasa sedang duduk bersama sambil berbicara di sofa, mencerminkan pentingnya komunikasi yang sehat./Freepik - Image

Seorang ibu dan anak perempuannya yang sudah dewasa sedang duduk bersama sambil berbicara di sofa, mencerminkan pentingnya komunikasi yang sehat./Freepik

JawaPos.com - Menjaga hubungan yang sehat dengan anak-anak dewasa adalah seni yang membutuhkan keseimbangan antara peran orang tua dan teman baik.

Seringkali, ketidakseimbangan dalam tingkat komunikasi dapat menjadi indikasi bahwa ada sesuatu yang salah dalam interaksi, meski perubahannya sangat halus, melansir dari Global English Editing Selasa (28/10).

Para psikolog menyoroti ada beberapa perilaku tanpa disadari yang dilakukan orang tua dan membuat anak dewasa enggan untuk menghubungi mereka.

Hubungan yang baik adalah jalan dua arah dan memahami akar masalah adalah langkah pertama untuk perbaikan. Orang tua perlu belajar memahami, menerima perubahan, dan menetapkan harapan yang lebih masuk akal dan ringan pada hubungan tersebut.

Kadang kala, mundur sejenak dan memberi ruang bagi anak untuk memimpin hidup mereka sendiri justru dapat membawa perbedaan positif dalam komunikasi.

1. Harapan Jauh dari Kenyataan

Ada jurang lebar antara harapan dan kenyataan yang diyakini psikolog sebagai faktor penting memengaruhi hubungan dengan anak dewasa. Saat panggilan telepon tidak sesering yang diinginkan, penting bagi orang tua untuk bercermin apakah ekspektasi mereka membebani anak. Hindari berasumsi bahwa anak memahami niat orang tua dan menyadari ekspektasi yang tersirat di dalamnya. Perlu ditanyakan apakah harapan-harapan tersebut justru menambah tekanan yang tidak perlu pada hubungan orang tua dan anak.

2. Tidak Mendengarkan, Hanya Memberi Saran

Banyak orang tua secara alami adalah pemecah masalah, yang langsung menyela dan menawarkan saran saat mendengar nada stres atau kesulitan dari anak mereka. Padahal, anak dewasa seringkali hanya membutuhkan telinga yang mau mendengarkan tanpa menghakimi, bukan solusi instan atas semua masalahnya. Penting untuk menjadi pendengar aktif dengan membiarkan anak menyelesaikan pembicaraannya, memproses apa yang mereka katakan, lalu merespons dengan bijak. Mengubah fokus dari memperbaiki masalah menjadi memvalidasi perasaan anak secara mendalam ternyata sangat efektif membangun kepercayaan.

3. Tidak Memahami Kebutuhan Ruang Pribadi Mereka

Sama seperti masa remaja, anak dewasa juga mendambakan kemandirian dan ruang pribadi yang harus dihormati oleh orang tua. Kenyataannya, anak dewasa memiliki kehidupan sendiri: karier, pasangan, teman, dan dunia yang terkadang tidak selalu melibatkan orang tua mereka di dalamnya. Mengakui serta menghormati fakta ini dapat memudahkan anak untuk terhubung tanpa merasa bersalah, tertekan, atau terikat kewajiban. Kurangnya panggilan telepon yang sesuai harapan bukan berarti kurang cinta, tetapi bisa jadi mereka hanya sedang membutuhkan ruang.

4. Memupuk Ketergantungan Emosional

Menciptakan hubungan yang bebas dari manipulasi atau ketergantungan emosional sangat penting untuk memperkuat hubungan dengan anak-anak dewasa. Anak-anak yang mengalami kontrol psikologis tinggi di masa remaja cenderung kesulitan membentuk hubungan intim yang sehat saat dewasa. Anak-anak perlu belajar menavigasi ujian hidup mereka sendiri, dan orang tua harus menjadi jaring pengaman, bukan pengendali kehidupan mereka. Menciptakan lingkungan yang aman membuat mereka merasa percaya diri untuk menjangkau orang tua sebagai pemandu, bukan sosok otoritas yang mendominasi.

5. Tidak Menghormati Pilihan Mereka

Menghormati keputusan anak dewasa, meskipun Anda tidak setuju dengan semua pilihannya, merupakan hal mendasar untuk membina hubungan yang sehat. Orang tua harus mengakui bahwa anak mereka sekarang sudah mampu mengambil keputusan sendiri dan bertanggung jawab penuh atas pilihan tersebut. Menerima dan menghormati pilihan anak menunjukkan adanya kepercayaan penuh kepada kemampuan mereka dalam menjalani hidup. Gestur penghormatan ini dapat mendorong mereka untuk melakukan percakapan yang lebih sering dan mendalam.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore