Logo JawaPos
Author avatar - Image
17 November 2025, 19.56 WIB

Fakta Psikologi di Balik Daddy Issues dan Dampak Fatherless pada Kepercayaan, Hubungan, dan Jati Diri, Simak!

Ilustrasi anak perempuan yang tumbuh tanpa kehadiran ayah baik secara fisik atau emosional./(Freepik/pikisuperstar) - Image

Ilustrasi anak perempuan yang tumbuh tanpa kehadiran ayah baik secara fisik atau emosional./(Freepik/pikisuperstar)

JawaPos.com — Pengaruh figur ayah dalam perkembangan seseorang kerap dianggap sekadar soal hadir atau tidak hadir. Namun, psikologi modern menunjukkan bahwa dinamika ayah–anak jauh lebih kompleks.

Ketika dukungan emosional dari figur ayah tidak terpenuhi, luka yang tertinggal dapat membentuk cara seseorang menilai dirinya, membangun hubungan, serta mempercayai orang lain.

Dalam keseharian, istilah daddy issues sering dipakai secara serampangan sebagai lelucon atau stereotip.

Padahal, konsep ini memiliki dasar psikologis yang jelas. Istilah ini merujuk pada pola emosional yang terbentuk akibat relasi ayah–anak yang terganggu, dan efeknya dapat menetap hingga dewasa.

Ketika kebutuhan akan kasih sayang, arahan, dan validasi tidak dipenuhi, individu membawa jejak psikologis yang memengaruhi banyak aspek kehidupannya.

Fenomena fatherless—baik karena ketidakhadiran fisik maupun emosional—juga memberikan dampak signifikan.

Anak yang tumbuh tanpa kelekatan atau rasa aman berpotensi mengalami kesulitan membentuk hubungan yang stabil, kerap diliputi kecemasan ditinggalkan, atau memandang diri secara negatif.

Hal ini tidak hanya terjadi pada perempuan; laki-laki pun dapat mengalami luka serupa.

Menurut pendapat para ahli yang dikutip dari YouTube Psych2Go, Senin (17/11), daddy issues dikenal dalam psikologi sebagai father complex, yakni pola perilaku dan emosi yang berakar dari dinamika ayah–anak yang tidak sehat atau tidak terpenuhi.

1. Akar Psikologis: Ketidakhadiran Dukungan Ayah dan Dampaknya pada Regulasi Emosi

Konselor kesehatan mental Bisma Anwar menyebut bahwa daddy issues biasanya muncul ketika hubungan ayah–anak tidak memberikan kelekatan, dukungan, atau kehangatan yang orang tua seharusnya berikan.

Tanpa rasa aman emosional, anak dapat tumbuh dengan perasaan tidak dianggap penting atau kehilangan kemampuan menerima diri sendiri.

Psikolog klinis Dr. Carla Manley menegaskan bahwa kondisi ini kerap mendorong seseorang mengulang pola pada masa dewasa, misalnya memilih pasangan dengan sifat mirip ayahnya, selalu mencari validasi, atau terus merasa takut ditinggalkan.

2. Dampak Fatherless pada Pembentukan Kepercayaan dan Pola Hubungan

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore