Logo JawaPos
Author avatar - Image
07 Januari 2026, 18.43 WIB

7 Pola Asuh Ini Diam-diam Membentuk Anak Laki-Laki yang Aman, Percaya Diri, dan Punya Emosi Sehat

Ilustrasi ayah dan anak laki-laki. (Freepik) - Image

Ilustrasi ayah dan anak laki-laki. (Freepik)

JawaPos.com - Banyak orang tua ingin anak laki-lakinya tumbuh kuat. Sayangnya, definisi “kuat” sering disempitkan menjadi tidak boleh menangis, harus selalu tegar, dan dilarang menunjukkan emosi.

Tanpa disadari, pola asuh seperti ini justru membuat banyak anak laki-laki tumbuh dengan emosi terpendam dan kesulitan memahami dirinya sendiri.

Padahal, anak laki-laki sebenarnya tidak perlu “dikeraskan”, tetapi dibantu untuk terhubung dengan emosinya secara sehat.

Budaya lama yang menganggap ekspresi emosi sebagai kelemahan telah membuat banyak pria dewasa kesulitan membangun hubungan, mengenali perasaan, bahkan mencintai diri sendiri.

Kabar baiknya, memutus siklus ini bisa dimulai kapan saja. Terlepas dari usia anak, ada kebiasaan-kebiasaan tertentu yang dilakukan orang tua sehingga anak laki-laki tumbuh merasa aman, dicintai, dan diterima apa adanya.

Inilah 7 pola asuh yang diam-diam membentuk laki-laki yang aman, percaya diri, dan beremosional yang sehat seperti dirangkum dari laman Your Tango.

1. Pilih rasa ingin tahu, bukan mengontrol

Anak laki-laki tidak membutuhkan orang tua yang selalu ingin menang atau memaksakan aturan. Mereka butuh orang tua yang mau bertanya dan benar-benar mendengarkan.

Ketika kamu menghadapi perilaku atau pendapat anak yang berbeda, cobalah menggeser posisi dari “mengoreksi” menjadi “ingin tahu”.

Alih-alih langsung menilai, kamu bisa mengajukan pertanyaan terbuka dengan nada netral. Pendekatan ini membuat anak merasa dihargai, bukan diinterogasi.

Anak-anak sangat peka. Mereka tahu kapan kamu tulus ingin memahami, dan kapan kamu hanya ingin mengendalikan.

2. Bantu anak memahami kemarahan, bukan menekannya

Marah adalah emosi yang pasti muncul, dan anak laki-laki sering kali hanya diajarkan cara menahannya atau meluapkannya.

Orang tua yang sehat secara emosional justru membantu anak memahami apa yang sebenarnya terjadi saat marah.

Kamu bisa mengajak anak membahas konflik lewat contoh di film, acara TV, atau kejadian sehari-hari.

Mengklasifikasikan konflik, apakah itu sekadar perbedaan pendapat atau sudah menjadi pertengkaran, membantu anak belajar refleksi. Dengan begitu, anak tidak hanya bereaksi, tapi juga belajar merespons dengan lebih sadar.

3. Singkirkan rasa malu dari hubungan dengan anak

Rasa malu sering muncul dalam bentuk kalimat seperti “masa cowok nangis” atau “laki-laki harus kuat”.

Editor: Bayu Putra
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore